HOME » BERITA » FAKULTAS TEKNIK UI TAWARKAN STIKER PINTAR BBM

Fakultas Teknik UI Tawarkan Stiker Pintar BBM

Kamis, 07 Juni 2012 08:05



Fakultas Teknik UI Tawarkan Stiker Pintar BBM
Ilustrasi

Otosia.com - Tim Energi Fakultas Teknik Universitas Indonesia mengajukan usulan penggunaan stiker pintar yang berfungsi mengontrol penggunaan bahan bakar minyak subsidi (BBM subsidi). Stiker berteknologi radio frequency identification (RFID) itu dapat menginformasikan spesifikasi mesin mobil yang dianggap boleh menggunakan BBM bersubsidi.

Dengan sistem khusus, stiker akan mengaktifkan mesin pompa bensin jika sesuai dengan spesifikasi yang diharuskan. Penggunaan stiker ini pun disesuaikan dengan kapasitas mesin (cc mesin), sebuah wacana yang belakangan telah tenggelam.

"Kita ingin berikan penyadaran bahwa subsidi BBM harus tepat pada orangnya dan jenis mesin mobilnya," ungkap Dekan Fakultas Teknik Universitas Indonesia (Dekan FTUI) Bambang Sugiarto di UI Salemba.

SPBU akan bertugas melakukan pengisian BBM bersubsidi, asalkan stiker pintar yang dipasang di mobil teridentifikasi oleh mesin pom bensin bersubsidi khusus. Hal ini untuk menghindari penyalahgunaan pembelian BBM bersubsidi, seperti mobil dengan kapasitas mesin di atas 1.500 cc dan penyalur nonresmi BBM atau BBM eceran.

Wacana RFID sebenarnya sudah bergulir lama. RFID sendiri adalah perangkat bersistem nirkabel yang menggunakan frekuensi radio medan elektromagnetik untuk mentransfer data dari tag yang melekat pada sebuah obyek untuk tujuan identifikasi otomatis dan pelacakan.

Sejumlah tag tidak memerlukan baterai dan didukung oleh medan elektromagnetik yang digunakan untuk membacanya. Tag itu sendiri berisi informasi yang disimpan secara elektronik yang dapat dibaca dari hingga beberapa meter jauhnya. Berbeda barcode, tag tidak harus berada dalam garis pandang pembaca dan bisa ditanam di obyek yang dilacak, dalam hal ini badan mobil.

Perangkat RFID Tag kala itu dipasangkan sebagai uji coba terhadap angkutan kota di Jakarta, mikrolet M-01, termasuk memasang reader untuk sebuah SPBU Nomor 3413102 di Jalan Matraman Raya.

Akan tetapi, pemerintah tidak melihatnya sebagai perangkat yang efektif. Direktur Jenderal Migas Kementerian Energi Sumber Daya Mineral Evita Legowo dalam sebuah kesempatan mengatakan bahwa penerapan RFID membutuhkan waktu yang lama.

"RFID butuh 6 bulan. Pengadaannya sendiri 3 bulan, dan 3 bulan sisanya untuk uji coba," ungkapnya.

Sementara itu, FTUI sendiri telah mengajukan proposal usulan tersebut ke Kementerian ESDM RI. "Kami sedang menunggu respons dari Kementerian ESDM," pungkas Bambang.

Menurutnya, bila kebijakan tersebut diiyakan pada bulan Juni ini, maka enam bulan ke depan penggunaan BBM bersubsidi dapat ditekan hingga 3,6 juta kiloliter. (kpl/why/bun)








APA PENDAPAT ANDA ?

2014-11-24
detail