Akhirnya MV Agusta Tampakkan Sportbike Terbarunya!
Kawasaki Aspalkan Z800 Jumat Besok?
Suzuki Siapkan Satria FU Injeksi, Tapi Bukan 150cc!
Ini Sosok Suzuki 'Thunder' 125 Berfairing?
14 Mobil Dengan Karakter Wajah Garang
Besok Lusa All-New Toyota Altis Diluncurkan!
Sportbike Suzuki 250cc Terungkap!
Terinspirasi R6, Yamaha Luncurkan Vega RR
Karakter Baru Autobot di Transformers 4 Diungkap!
Nissan Evalia Dianggap Kurang Aman Saat Kecelakaan
Otosia.com - PT Pertamina mendukung percepatan perwujudan program konversi BBM ke BBG, seperti yang dicanangkan pemerintah. Hal itu sebagai langkah untuk mengikis ketergantungan terhadap bahan bakar minyak , menekan konsumsi BBM, mengurangi subsidi, dan menghemat devisa negara.
Alhasil, gas alam cair atau liquefied natural gas pun dipakai untuk bahan bakar di sektor transportasi. Pertamina melalui anak perusahaannya, PT Badak NGL, melakukan uji coba penggunaan LNG untuk kendaraan operasional perusahaan.
"Dimulai dari kendaraan operasional Badak NGL, diharapkan menjadi contoh untuk ke depannya dan dapat diperluas pemanfaatannya, baik di sektor transportasi maupun rumah tangga. Pertamina juga berkomitmen untuk semakin melengkapi infrastruktur yang diperlukan demi suksesnya pemanfaatan LNG untuk keperluan domestik di masa mendatang," ungkap Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan.
Pertamina melihat bahwa pertumbuhan penggunaan BBG secara global kian bertumbuh. Berdasarkan data statistik dari NGV Global, saat ini sudah terdapat lebih kurang 15 juta kendaraan BBG yang sedang beroperasi di dunia. Pencatatan tersebut mencakup penggunaan LNG, CNG, dan LGV.
Seperti dijelaskan, LNG lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan bensin dan solar karena dapat mengurangi emisi sekitar 85 persen. Sementara itu, LNG dapat disimpan dalam tekanan rendah dan dipakai dengan jarak tempuh yang lebih panjang.
Namun soal harga, penggunaan LNG memang baru bisa dibandingkan dengan harga solar non-subsidi. Harga LNG berkisar di US$ 18 - 20 per MMbtu, sedangkan solar non-subsidi sekitar Rp. 9.807 per liter atau setara dengan US$ 31 /MMbtu.
Namun fokus Pertamina melalui anak-anak perusahaannya, yaitu PT Pertamina Gas dan PT Badak NGL, adalah menggarap sektor transportasi pertambangan di Kalimantan. Pada tahap awal, keduanya telah menjalin kerja sama dengan PT Indominco Mandiri, salah satu perusahaan besar tambang batu bara yang beroperasi di Kalimantan.
Menurut target yang akan dimulai pada 1 Desember 2012, sebanyak 4 inpit dump truck Indominco akan memanfaatkan LNG sebagai bahan bakar dengan perkiraan kebutuhan LNG sekitar 60 MMbtud. Jika diimplementasikan secara penuh, maka terdapat sekitar 84 high dump truck yang akan menggunakan LNG sebagai bahan bakar dengan kebutuhan LNG sekitar 3,97 BBtud.(kpl/why/bun)









