HOME » BERITA » 2 KEBIASAAN BURUK PENGENDARA MOBIL YANG SALAH KAPRAH

2 Kebiasaan Buruk Pengendara Mobil yang Salah Kaprah

Masih ada saja pengendara mobil yang memiliki kebiasaan salah kaprah dan menyebabkan bahaya. Berikut dua daftar kebiasaan buruk pengendara yang bisa menyebabkan kecelakaan.

Senin, 22 April 2019 19:15 Editor : Dini Arining Tyas
2 Kebiasaan Buruk Pengendara Mobil yang Salah Kaprah
Ilustrasi penggunaan lampu hazard saat hujan (Auto2000)

OTOSIA.COM - Mobil-mobil modern sudah dibekali dengan fitur-fitur berteknologi canggih. Bahkan beberapa pabrikan menerapkan fitur kekinian itu sebagai standar.

Tapi sayangnya, ada beberapa pengendara mobil yang masih saja salah kaprah menggunakan fitur mobil. Padahal, efeknya juga bisa berbahaya. Parahnya menyebabkan kecelakaan. Apa saja?

1. Penggunaan Hazard

Penggunaan lampu hazard sebenarnya sudah diatur oleh UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Pasal 121 Ayat 1. "Setiap Pengemudi Kendaraan Bermotor wajib memasang segitiga pengaman, lampu isyarat peringatan bahaya, atau isyarat lain pada saat berhenti atau parkir dalam keadaan darurat di jala," begitu isi pasal tersebut.

Menurut laman Auto2000, yang dimaksud dengan 'isyarat lain' antara lain lampu darurat dan senter. Dalam hal ini, adaah fitur lampu hazard atau lampu darurat, yang mana bersimbol segitiga merah di dasbor mobil. Sementara yang dimaksud dengan 'keadaan darurat' adalah kendaraan dalam keadaan mogok, kecelakaan lalu lintas, dan mengganti ban.

Ilustrasi penggunaan lampu hazard saat hujan (Miami.com)

Namun praktiknya, pengendara mobil sering menggunakan lampu hazard saat akan mengambil jalur lurus di persimpangan, hendak berganti jalur, bahkan menepi dan saat hujan. Padahal untuk aktivitas tersebut, mobil sudah dibekali fitur lain.

Seperti hendak menepi, pengendara cukup menyalakan lampu sen saja. Sementara saat hujan, pengendara cukup menyalakan lampu senja.

Sebab, jika lampu hazard dipaksa menyala saat hujan, cahanya akan membuat pengendara lain silau. Bisa saja hal itu lantas menyebabkan kecelakaan.

¬

¬

1 dari 1 Halaman

2. Penggunakan High-Beam

2 Kebiasaan Buruk Pengendara Mobil yang Salah Kaprah2. Penggunakan High-Beam

 

 

High-beam atau lampu jauh tak bisa dipakai sesuka hati, ada waktunya lho Otolovers. Lampu ini boleh dipakai saat akan mendahului kendaraan lain, melaju di jalur yang panjang, kosong, dan kurang penerangan ataubahkan cenderung gelap. Tapi dalam kondisi jalan seperti itu, segera ubah high-beam ke low-beam saat ada pengendara lain yang juga lewat.

Ilustrasi penggunaan lampu jauh atau high-beam (Nissan Indonesia)

Menurut laman Nissan Indonesia, cahaya high-beam bisa membuat pengendara lain silau dan bisa menyebabkan kecelakaan. Maka itu jangan pernah menggunakan high-beam saat berkendara di perkotaan, apalagi jalan yang padat dan ramai secara terus-menerus.

Di Tiongkok, penggunaan high-beam bahkan sudah diatur. Pengemudi yang melanggar akan ditangkap dan diberi hukuman, yaitu si pengemudi diminta duduk di sebuah kursi selama satu menit dan dihadapkan dengan mobil yang menyalakan lampu jauh. Peraturan ini sudah diterapkan sejak bulan November 2016.

Meski di Indonesia belum ada aturan secara tertulis, ada baiknya Otolovers disiplin berkendara.

 

BERI KOMENTAR