HOME » BERITA » 2019 JADI TAHUN TERBURUK BAGI INDUSTRI MOBIL

2019 Jadi Tahun Terburuk Bagi Industri Mobil

Sepanjang tahun 2019 banyak pabrikan mobil yang mengumumkan penutupan pabrik dan PHK karyawan.

Jum'at, 27 Desember 2019 21:15 Editor : Dini Arining Tyas
2019 Jadi Tahun Terburuk Bagi Industri Mobil
Pabrik Mercedes-Benz (USA Today)

OTOSIA.COM - Pergeseran tren sudah semakin terasa untuk duni aotomotif. Gembar-gembor soal mobil listrik dan teknologi self-driving pun semakin sering terdengar.

Rupanya hal yang dianggap sebagai kemajuan tersebut tak selalu membawa dampak positif. Terutama bagi orang-orang yang bekerja di industri otomotif.

Menurut Yahoo Finance, tahun 2019 merupakan tahu paling buruk untuk industri otomotif global, ketika para pekerja diberhentikan dalam jumlah yang sangat banyak. Dengan kata lain, pabrikan tak lagi butuh banyak pekerja untuk memroduksi kendaraan listrik.

Pabrikan disebut butuh lebih banyak modal untuk menghasilkan kendaraan listrik. Selain itu, mobil listrik juga memiliki komponen lebih sedikit ketimbang mobil konvensional, sehingga pabrikan tak butuh tenaga pekerja untuk manufaktur.

1 dari 2 Halaman

2019 Jadi Tahun Terburuk Bagi Industri Mobil

Pada tahun 2019 saja, lebih dari 800.000 pekerja di industri otomotif diberhentikan di Jerman, Amerika Serikat, dan Inggris. Jumlah itu disebut akan terus meningkat seiring dengan banyaknya kendala menghadapi masalah Brexit.

Banyak orang di Inggris kehilangn pekerjaannya. Sementara itu, Indsutri mobil di Inggris menyumbangkan pengangguran tertinggi sejak September 2012.

Pada Juni, Ford menutup satu pabriknya di Inggris dan merumahkan 1.700 pekerja. Honda juga menutup pabrik besarnya dan memulangkan 3.500 pekerja.

Secara global, pabrikan asal Inggris, Jaguar Land Rover pun tak jauh berbeda. JLR memutus hubungan kerja dengan 4.500 karyawannya.

2 dari 2 Halaman

2019 Jadi Tahun Terburuk Bagi Industri Mobil

Sedangkan pada November, Audi mengumumkan akan merumahkan 9.500 karyawannya di Jerman pada tahun 2025. Sementara saat ini, Mercedes-Benz juga mengurangi jumlah karyawannya sebanyak 10.000 pekerja untuk menghemat pengeluaran demi investasi mobil listrik.

Situasinya semakin buruk menjelang penutupan tahun. Awal Desember 2019, Nissan USA juga mengumumkan akan memberlakukan sistem unpaid leave selama dua hari apda Januari 2020.

Sementara itu, The German Car Management Center (CAM) memprediksi bahwa industri mobil dunia akan merumahkan 150.000 karyawan selama beberapa tahun mendatang.

BERI KOMENTAR