HOME » BERITA » 3 FENOMENA UNIK CICILAN MOBIL-MOTOR DI INDONESIA

3 Fenomena Unik Cicilan Mobil-Motor di Indonesia

Lembaga pembiayaan kendaraan bermotor Adira Finance mendapati sejumlah fenomena unik terkini dalam hal cicilan mobil dan motor di Indonesia. Menurut Adira, pola ekonomi masyarakat berubah dan berpengaruh pada sejumlah hal.

Kamis, 07 Februari 2019 19:15 Editor : Dini Arining Tyas
Ilustrasi pembelian motor (mywestshore.com)

OTOSIA.COM - Lembaga pembiayaan kendaraan bermotor Adira Finance mendapati sejumlah fenomena unik terkini dalam hal cicilan mobil dan motor di Indonesia. Menurut Adira, pola ekonomi masyarakat berubah dan berpengaruh pada sejumlah hal.

Bicara perihal capaian sendiri, Direktur Penjualan, Pelayanan, dan Distribusi Adira Finance, Niko Kurniawan mengatakan, perusahaannya meraih peningkatan baik untuk pembiayaan sepeda motor maupun mobil, baru maupun bekas.

"Perolehan 2018 bagus. Dari mobil lebih banyak. Paling tinggi peningkatan persentasenya yang bekas. Kalau bicara finansial, mobil baru lebih tinggi. Kalau mobil bekas peningkatannya 20 persen lebih. Mobil baru, passanger sama komersial, 70 persen. Passanger 15-17 persen. Secara keseluruhan in a month finance 17 persen. Motor juga naik tetapi tidak setinggi mobil," kata dia yang mengatakan kalau target selanjutnya naik 15 persen dari tahun 2018.

Dari data tersebut, Niko berbicara setidaknya tiga fenomena menarik seputar pembiayaan. Yang pertama adalah tenor. "Rata-rata costumer kalau motor pilih (tenor) 3 tahun, kalau mobil 4 tahun. Sekalipun kami buka sampai 5 tahun, costumernya memilih untuk enggak ya," kata dia.

Menurut Niko, kebanyakan masyarakat kini memiliki pertimbangan jual kembali kendaraannya sehingga fenomena tadi pun terbentuk. "Mungkin mereka lebih berpikir kalau motor kan lebih cepat berganti model. Jadi tiga tahun itu mereka mau ganti dengan yang baru. Mobil juga kondisinya (penurunan harga) bagaimana kalau sudah 4 tahun," ujarnya.

Fenomena kedua terlihat pada pasar sepeda motor bekas. Secara pencapaian, pihaknya mendapati adanya peningkatan. Namun secara angka terbilang lebih rendah dibanding tahun sebelumnya, dan cenderung datar untuk sepeda motor bekas.

"Pencapaian untuk sepeda motor pada 2018 dibanding 2017 naik. Tapi dia lebih rendah, 10-11 persen. Ini untuk motor baru dan bekas. Segmen motor bekas agak flat, malah turun kalau yang unit," ujarnya.

Dia melihat, motor baru saat ini sangat masif dalam hal pemasaran, DP makin rendah. Karenanya, orang lebih banyak melihat ke model-model baru. Demikian halnya dengan aplikasi penjualan online.

"Motor bekas sedikit banyak terganggu aplikasi online karena costumer to costumer bisa jual sendiri. Tapi beberapa dealer bekas sih kebanyakan bilang terganggu sama motor baru. Program DP murah, bunga murah karena disubsidi sama dealer-nya sendiri," ujarnya.

Satu fenomena menarik lainnya adalah DP 0 persen yang sudah dirilis oleh OJK. Terus terang, kata Niko, pihaknya senang karena hal itu memberikan kemudahan bagi Adira, bagi konsumennya.

"Tapi kami akan terapkan dengan hati-hati. Sebab kan tidak semua costumer layak diberikan DP 0 persen. Jadi by segmented, kami akan lihat profil customer, rich management kami juga akan hitung untuk terapkan," ujarnya.

Mengenai DP 0 persen, Adira mengaku sedang menggodoknya. Mereka sedang mempelajari segmen dan pola yang tepat.

"Soalnya sekarang DP kan sudah murah banget kan. Berapa DP di pasaran sekarang? Sudah umum yang di bawah Rp 300.000," tandasnya.

(kpl/nzr/tys)

BERI KOMENTAR