HOME » BERITA » 4 KESALAHAN YANG SERING DILAKUKAN PENGENDARA MOTOR

4 Kesalahan yang Sering Dilakukan Pengendara Motor

Sedikitnya ada 4 kesalahan yang sering dilakukan pengendara motor, diantaranya menarik gas dan kesalahan pengereman.

Jum'at, 12 Juni 2020 13:45 Editor : Nazarudin Ray
4 Kesalahan yang Sering Dilakukan Pengendara Motor
Ilustrasi pengendara sepeda motor (Nazar Ray)

OTOSIA.COM - Secara sadar atau tidak banyak pengendara motor baik matic atau kopling melakukan kesalahan ketika berkendara. Akibatnya selain bikin boros bensin, juga membuat umur pakai komponen motor menjadi lebih pendek.

Menurut Oke Desiyanto, Safety Riding Supervisor Astra Motor Jateng, sedikitnya ada 4 hal cara berkendara yang salah dan kerap dilakukan oleh pemotor. Berikut 4 hal kesalahan cara berkendara dengan sepeda motor:

1 dari 4 Halaman

1. Selalu menarik gas dalam atau gaspol mendadak

Pengendara selalu terburu-buru atau kebiasaan yang salah serta pemahaman mendapatkan tenaga motor yang salah. Kebiasaan ini berakibat komponen mesin, transmisi dan ban akan lebih cepat aus karena selalu mendapat stres atau tekanan berlebihan berulang-ulang.

"Hanya disarankan biasakan membuka gas selalu dengan cara mengurut dan bertahap sehingga kecepatan sesuai dengan kebutuhan. Keuntungannya adalah membantu mesin mendapatkan pembakaran yang optimal, sehingga lebih irit bahan bakar dan komponen lebih awet karena tidak mengalami stres berulang," imbuhnya.

2 dari 4 Halaman

2. Sering menahan gas dan rem bersamaan

Hal ini sering dilakukan oleh pengendara untuk mendapatkan keseimbangan. Perlu adanya latihan untuk melatih mendapatkan keseimbangan tanpa harus selalu menahan rem dan gas bersamaan.

Cara berkendara demikian, bagi motor manual, berakibat kampas rem dan kampas kopling akan lebih cepat aus dan tenaga yang didapat dari pembakaran. Tenaga pun akan sia-sia karena tertahan oleh rem sehingga sudah dipastikan bahan bakar tambah boros.

Oke menyarankan pemotor berlatih untuk mendapatkan keseimbangan dengan cara mengolah ketrampilan berkendara tanpa kaki turun dikecepatan ekstra rendah atau sangat pelan.

"Makin lama bertahan berkendara di kecepatan rendah tanpa kaki turun maka akan lebih mahir menjaga keseimbangan. Berlatih ditempat yang sepi dan secara bertahap dari kecepatan rendah sampai dengan sangat pelan. Sehingga kebiasaan menjaga keseimbangan dengan menahan rem dan gas bisa dihilangkan," ungkapnya.

3 dari 4 Halaman

3. Hanya mengandalkan rem belakang

Ini juga yang sering dilakukan pemotor karena merasa takut menggunakan rem depan karena khawatir jika menggunakan rem depan akan menyebabkan roda depan terkunci dan jatuh.

Yang benar, pengunaan rem belakang saja hanya dilakukan jika butuh menurunkan laju kendaraan dan tetap bergerak atau menyesuaikan kebutuhan kecepatan dengan sekitarnya.

Jika ingin mengerem untuk berhenti, maka mengunakan kedua rem digunakan bersama - sama dengan rem depan lebih kuat dibanding rem belakang. Akibatnya jika selalu mengandalkan rem belakang saja adalah maka jarak pengereman yang dihasilkan lebih panjang dibanding dengan menggunakan kedua rem bersamaan.

"Ini menjadi potensi bahaya jika ruang yang tersedia untuk mengerem hingga berhenti terbatas. Jadi, gunakan prosedur pengereman yang benar sehingga lebih aman dan potensi bahaya rendah. Jika banyak melewati turunan panjang, gunakan rem bergantian untuk menghindari panas berlebihan. Panas berlebihan menyebabkan rem los, jangan lupa optimalkan engine brake," jelasnya.

Khusus matik agar bisa ada engine brake, gas harus ditahan agar kopling tersambung sehingga kecepatan roda belakang yang lebih tinggi bisa ditahan oleh putaran mesin yang rendah.

4 dari 4 Halaman

4. Sering mengerem mendadak

Ini terjadi karena pengendara tidak menggunakan prediksi saat berkendara, cenderung hanya mengandalkan respon terhadap apa yang ada di depannya, sehingga pengendara terbiasa mengandalkan rem secara mendadak untuk bereaksi.

Akibatnya, potensi roda kehilangan cengkraman dengan aspal sangat tinggi dan mengalami ngepot (slid) dan bisa berujung jatuh bahkan terlibat kecelakaan. Kompon ban akan cepat terkikis oleh permukaan jalan sehingga ban akan lebih cepat habis alurnya.

"Karena itu saya sarankan, dalam berkendara gunakan pandangan mata minimal sejauh 20 meter kedepan untuk mengumpulkan infomasi selengkap dan seluas mungkin sehingga mampu mengolah merumuskan prediksi bahaya yang bisa terjadi di depan, sehingga keadaan mendadak bisa dicegah," imbuh Oke.

BERI KOMENTAR