HOME » BERITA » ALASAN PENERAPAN SATU ARAH DI JALAN TOL TRANS JAWA SAAT ARUS MUDIK-BALIK LEBARAN 2019

Alasan Penerapan Satu Arah di Jalan Tol Trans Jawa saat Arus Mudik-Balik Lebaran 2019

Selasa, 14 Mei 2019 12:15 Editor : Dini Arining Tyas
Kepadatan terjadi di Jalan Tol Cipali, Jawa Barat mengarah ke Jakarta, Kamis (29/6). Memasuki H+4 Lebaran, arus balik dari Jawa Tengah menuju Jakarta masih terpantau ramai lancar. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

OTOSIA.COM - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Bakal menerapkan sistem satu arah atau one way di jalan tol Trans Jawa, saat arus mudik dan balik lebaran 2019.

Kemenhub meyakini bahwa strategini ini bisa mengurai kemacetan yang biasanya terjadi di ruas jalan bebas hambatan tersebut. Seperti dijelaskan Pemerhatii Masalah Transportasi, Budiyanto, kemacetan merupakan salah satu permasalahan lalu lintas yan gsampai sekarang belum teratasi dengan baik.

"Banyak variabel yang melatarbelakangi mengapa masalah kemacetan lalu lintas seakan-akan menjadi pemandanga sehari-hari yang menjengkelkan, menjenuhkan, dan dapat menimbulkan frustasi dan stress karena capai dan lelah," jelas Budiyanto kepada Liputan6.com, melalui pesan elektronik, Senin (13/5/2019).

Sementara itu, berbicara soal libur lebaran maka tidak terlepas dari kegiatan mudik ke kampung halaman. Hal ini, bisa menjadi momentum yang bagus bagi para pemangku kepentingan yang bertanggung jawab di bidang lalu lintas dan angkutan jalan, untuk menunjukkan tanggung jawab sebagai pelayan masyarakat dalam melakukan upaya menciptakan situasi keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran berlalu lintas yang dinamis dan kondusif, sehingga masyarakat yang mudik terlayani dengan baik.

Diutarakan lebih jauh, jika melihat data Kemenhub, masyarakat yang akan mudik dari seluruh wilayah Jabodetabek, kurang lebih 14,6 juta orang. Dengan tujuan paling banyak Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat.

"Saya kira yang paling efektif dengan cara pengaturan lalu lintas One Way (sistem satu arah) dengan melihat situasi dan kondisi di lapangan. Sistem ini, merupakan pola manajemen yang dilakukan dengan cara mengubah jalan dua arah, menjadi satu arah dalam rangka untuk meningkatkan keselamatan,kelancaran lalu lintas yang dapat dilakukan dengan cepat dan biaya murah," tesas Budiyanto.

Dibandingkan dengan e=melebarkan jalan atau membangun jalan baru, pertimbangan lain one way adalah kapasitas ruas jalan dan kapasitas persimpangan bertambah, peningkatan keselamatan karena konflik kendaraan berkurang, konfigurasi parkir dapat diakses di kiri serta kanan, dan pengawasan lebih mudah.

Selain dapat mengurai kemacetan, sistem satu arah ini tentu saja menimbulkan efek samping lalu lintas. Contoh, sebagian kendaraan mengalami jarak tempuh yang panjang, perlu perubahan ataupun pengaturan alat pengatur lalu lintas, perlu penyesuaian rute angkutan umum, dan masyarakat penggunanya termasuk antisipasi jalan alternatif.

"Faktor lain yang tidak kalah penting apabila One waya yang diberlakukan, adalah masalah sosialisasi, dan penyiapan rambu-rambu lalu lintas dan kesiapan petugas," tandasnya.

Sumber: Liputan6.com

(kpl/tys)

BERI KOMENTAR