HOME » BERITA » AROMA PETAKA DI BALIK INDUSTRI KENDARAAN LISTRIK INDONESIA

Aroma Petaka di Balik Industri Kendaraan Listrik Indonesia

Di satu sisi percepatan pertumbuhan kendaraan listrik mengurangi polusi, namun di sisi lain dapat mengancam industri komponen dalam negeri.

Jum'at, 27 November 2020 13:45 Editor : Nazarudin Ray
Aroma Petaka di Balik Industri Kendaraan Listrik Indonesia
Ilustrasi mobil listrik Wuling E100 (Otosia.com/Nazar Ray)

OTOSIA.COM - Sekalipun pemerintah masih menggodok infrastruktur untuk mobil listrik, nyatanya kendaraan bersumber daya energi non-bahan bakar minyak ini lama-lama makin bermunculan.

Tidak cuma armada angkutan umum seperti taksi, tetapi brand-brand kenamaan juga sudah mulai menjajaki pasar dengan pilihan-pilihan model anyar.

Penurunan polusi, hemat biaya, hingga menepis kekhawatiran pada sisa cadangan minyak menjadi potensi yang diburu bersama-sama dengan tumbuhnya kultur mobil listrik di Indonesia. Akan tetapi, aroma petaka juga tercium.

1 dari 3 Halaman

"Memang kami pernah simulasi dampak dari mobil listrik. Jika dikembangkan, bagaimana industri komponen kita? Dampaknya akan besar dan ini yang dikhawatirkan oleh Kemenperin," kata Dr. Ir. Riyanto M.Si selaku Senior Researcher LPEM-FEB UI 

Riyanto memaparkan hal tersebut dalam Diskusi Virtual Industri Otomotif "Peluang dan Tantangan Mobil Listrik di Indonesia yang diinisiasi Forum Wartawan Otomotif Indonesia (Forwot), Kamis (26/11).

Ia mengatakan bahwa yang pertama perlu disadari bersama bahwa sumbangan industri otomotif di Indonesia pada perekonomian besar.

Penyerapan tenaga kerja dari tier 1 sampai 3 itu, dikatakannya, cukup besar. Demikian halnya dengan nilai tambah dan ekspor. 

 

 

2 dari 3 Halaman

"Pasti ada yang terdistribusi dan mati komponennya. (Mobil listrik) komponen dalamnya tidak ada karena dia pakai baterai," kata dia.

Perimbangannya, industri baru mungkin perlu dipikirkan oleh pemerintah terkait dampak tersebut. Demikian halnya juga dengan cara agar industri komponen cepat beralih seiring perlunya mitigasi.

"Saya kira dampaknya besar juga untuk tenaga kerja yang tadinya bekerja di komponen mobil biasa. Kekhawatiran ini perlu dimitigasi dari sekarang. Ini juga mungkin perlu dilakukan bertahap sehingga industri tidak kolaps," ujarnya.

 

 

3 dari 3 Halaman

Di sisi lain, ia mempertimbangkan arah industri pada kendaraan kombinasi dua sumber daya, bahan bakar minyak dan listrik yang dalam hal ini adalah plug-in hybrid. Industri komponen tetap tumbuh seiring langkah membudayakan kendaraan listrik yang minim polusi.

"Kalau plug-in kan tumbuh dua-duanya sehingga kalau industri listrik masuk, perlahan bisa menyesuaikan," kata dia.

 

BERI KOMENTAR