HOME » BERITA » BAHAN BAKAR LNG LEBIH IRIT DAN HEMAT, SIAP GANTIKAN BBM JENIS SOLAR

Bahan Bakar LNG Lebih Irit dan Hemat, Siap Gantikan BBM Jenis Solar

Selain lebih ramah lingkungan, gas alam cair pun dapat menghemat pengeluaran hingga 30 persen

Sabtu, 07 Maret 2020 08:15 Editor : Ahmad Muzaki
Bahan Bakar LNG Lebih Irit dan Hemat, Siap Gantikan BBM Jenis Solar
Truk (skyscrapercity.com)

OTOSIA.COM - Terkait implementasi penggunaan bahan bakar berbasis gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG) untuk 3.000 truk logistik, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) melakukan kerjasama dengan Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo).

Langkah tersebut diupayakan guna mendorong LNG sebagai bahan bakar pengganti BBM berjenis solar. Selain lebih ramah lingkungan, gas alam cair pun dapat menghemat pengeluaran hingga 30 persen.

"Harganya 20-30 persen lebih murah daripada BBM," kata Direktur Strategi dan Pengembangan PGN, Syahrial Mukhtar, di Hotel Sultan, Jakarta, Jumat (6/3).

1 dari 4 Halaman

Secara perhitungan angka, Syahrial menjelaskan, pemakaian LNG lebih murah sekitar Rp 3.000 per liter ketimbang solar. "Rp 7.000-8.000 per liter, LNG. Kalau solar kan Rp 10.000-Rp 11.000. Jadi kalau itu di-compare keekonomiannya itu kan hemat Rp 2.000-3.000," terang dia.

Selain hemat ongkos, dia juga menyebutkan penggunaan LNG lebih irit dalam berbagai hal daripada solar dan bahan bakar minyak lainnya.

"Compare antara BBM dan LNG lah, fuel efficiency. Kemudian juga kemudahan perawatan. Kami belum hitung dampaknya terhadap maintenance cost-nya di truk. Nanti kita akan hitung lagi, nanti ada tambahan efisiensi," tuturnya.

2 dari 4 Halaman

Infrastruktur Jadi Kunci Pemanfaatan Gas Alam Cair Domestik

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) terus mendorong agar pelaku usaha domestik turut memanfaatkan produksi gas alam cari (liquified natural gas/LNG) dalam negeri. Misi ini bisa tercapai jika kendala infrastruktur terkait pengiriman gas dari hulu ke hilir dapat teratasi.

Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi mengatakan, pihaknya tertantang memanfaatkan produksi LNG Indonesia untuk dipakai secara domestik dibanding diekspor ke luar negeri.

"Mengapa kondisi itu terjadi? Waktu itu kita jadi eksportir terbesar LNG di dunia, tapi pemakaiannya di domestik tidak ada. Sekarang ada tapi masih minim," ungkap dia di Workshop Distribusi dan Pemanfaatan LNG Skala Kecil di City Plaza, Jakarta, Kamis (1/11).

3 dari 4 Halaman

Amien menceritakan, sejak 1977 Indonesia sudah banyak mengekspor gas alam cair produksi Kilang Badak di Bontang, Kalimantan, ke Jepang. Namun, lanjutnya, pemakaian LNG di lingkup lokal masih sedikit sekali.

"Baru pada 2012 kargo pertama untuk domestik dikirim dari Bontang ke FSRU (Floating Storage & Regasification Unit) Jawa Barat. Artinya lama sekali kita baru bisa nikmati gas alam," jelasnya.

Tren kenaikan kebutuhan gas bumi baru tumbuh pada periode 2000, terutama saat 2005 ketika harga minyak naik dan menjadi diatas 100 dolar per barel pada 2008. "Seiring dengan itu, kebutuhan gas pipa jadi membesar. Bahkan 2013 pemanfaatan domestik lebih besar dari ekspor. Sekarang pemanfaatan domestik sekitar 60 persen," jelas Amien.

4 dari 4 Halaman

Infrastruktur jadi kendala penyaluran LNG, khususnya dari Bontang menuju kawasan Indonesia bagian barat semisal Pulau Sumatera dan Jawa. "Infrastruktur yang saya amati transportasi pakai kapal atau kontainer LNG, kok kayanya galangan kapal kita ga pernah buat kapal LNG. Berarti ada yang kita lupakan. 2015 kami diskusi dengan galangan kapal, dan sebenarnya teknologi mudah galangan kapal siap. Tapi yang saya heran sampai sekarang enggak ada yang bikin," tuturnya.

Oleh karenanya, Amien mencoba mengajak pelaku usaha untuk berdiskusi bersama terkait pemanfaatan gas alam cair untuk sektor industri, sehingga bisa meningkatkan pemakaiannya di dalam negeri. "Makanya saya mikir, coba kita diskusi. Kita lihat end to end supply chance, barangkali bisa saling nyambung antara konsumer, retailer, dan lain-lain. Jadi diharapkan kita bisa create bisnis bersama," tandasnya.

Sumber: Merdeka.com

BERI KOMENTAR