HOME » BERITA » BAJAJ RODA 3 DI JAKARTA, DILUPAKAN TAPI DIBUTUHKAN

Bajaj Roda 3 di Jakarta, Dilupakan Tapi Dibutuhkan

Sabtu, 17 September 2016 11:55 Editor : Ahmad Khoirudin
Foto: Nazar Ray

OTOSIA.COM - Meski dinilai sebagai angkutan umum yang sudah ketinggalan jaman dan kerap dicibir akibat gaya berkendara pengemudinya yang sulit ditebak pengendara lain, namun ternyata keberadaan Bajaj roda tiga masih diminati dan dibutuhkan masyarakat Jakarta.

Bajai dipastikan tidak akan tergusur atau hilang dari peredaran di Ibukota. Sebab sebagai angkutan lingkungan kendaraan ini masih diminati dan dibutuhkan, bahkan memiliki dasar hukum yang kuat, kata Dharmaningtyas, Ketua Institute Transportasi Indonesia (Instran), dalam diskusi publik bertema Menata Transportasi Jakarta Menelisik Peran Angkutan Lingkungan, Studi Kasus Angkutan Roda Tiga di Bangi Kopi Tiam, Pasar Minggu, Jakarta, Kemarin (26/9)

Dharmaningtyas merujuk pada Perda No 4 thn 2014, dimana disebutkan bahwa angkutan lingkungan adalah sepeda motor roda tiga tanpa rumah. Dengan demikian dasar hukum angkutan lingkungan atau angkutan roda tiga itu sangat kuat. Jadi tidak ada masalah apapun dengan ketentuan peraturan daerah yang ada," ujarnya.

Diakui atau tidak permintaan terhadap jasa angkutan roda tiga masih cukup tinggi. Terbukti saat ini jumlah angkutan roda tiga yang beroperasi tersebut sebanyak 14.000 unit. Bahkan, nilai setoran setiap harinya mencapai Rp 120.000,- sampai Rp 160.000,-

"Karena angkutan ini dibutuhkan ibu-ibu ketika berbelanja kepasar, anak - anak sekolah, orang yang berpergian dalam jarak dekat dan lain-lain," kata Darmaningtyas

Menurutnya, jika aturan fungsi atau peran ditegakan, termasuk angkutan lingkungan dan angkutan kota di jalankan, maka kesemrawutan di Ibukota juga akan lebih terurai. Pernyataan senada diungkapan oleh wartawan senior Anton Chrisbianto.

Jumlah orang yang memanfaatkan angkutan umum di Jakarta dari sekitarnya (Bodetabek) dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan.

Jika pada tahun 2010 jumlah orang memanfaatkan angkutan menuju Jakarta masih 21,5 juta orang, Namun, pada tahun 2015 jumlah tersebut telah mencapai 47,5 juta orang.

Makin meningkatnya jumlah orang yang berlalu lintas di Jakarta maka kemacetan semakin parah, ini termasuk kerugian akibat pemanfaat BBM yang sia-sia mencapai Rp 42,5 triliun. Sedangkan kerugian kesehatan, waktu produktif yang percuma, dan pencemaran udara mencapai Rp 15 triliun.

Pemerhati masalah transportasi public pun meminta pemerintah untuk secara tegas dan konsisten menjalankan pemetaan fungsi masing-msing moda transportasi. Angkutan lingkungan roda tiga misalnya tetap dipertahankan, namun mengatur area peredarannya agar tidak tumpang tindih dengan moda transportasi lain. Apalagi menggantikannya dengan angkutan yang berukuran lebih besar, imbuh Darmaningtyas.

Di sisi lain, operator angkutan roda tiga juga harus melakukan perubahan demi menuju peningkatan bisnis dan memenuhi keinginan serta kebutuhan kosumen. Dengan mendirikan badan hukum misalnya, pengelola angkutan ini, akan lebih mudah mengajukan kredit ke bank ketika melakukan peremajaan armada.

Langkah lainnya adalah dengan melakukan peremajaan armada yang sesuai dengan prinsip ramah lingkungan. Wujudnya mengganti angkutan roda tiga berbahan bakar minyak dengan model yang berbahan bakar gas alam.

(kpl/nzr/rd)

BERI KOMENTAR