HOME » BERITA » BANYAK AKAL, BEGINI CARA WARGA YANG NGOTOT MAU MUDIK DI TENGAH PANDEMI COVID-19

Banyak Akal, Begini Cara Warga yang Ngotot Mau Mudik di Tengah Pandemi COVID-19

Masih saja ada warga yang nekat untuk mudik di tengah pandemi virus Corona (COVID-19). Mereka pun melakukan berbagai cara agar tak ketahuan petugas.

Kamis, 30 April 2020 21:45 Editor : Dini Arining Tyas
Banyak Akal, Begini Cara Warga yang Ngotot Mau Mudik di Tengah Pandemi COVID-19
Pemeriksaan di GT Merak (Liputan6.com)

OTOSIA.COM - Larangan mudik Lebaran 2020 sudah diterapkan sejak 24 April 2020 lalu. Polisi pun kini melakukan penyekatan di berbagai ruas jalan.

Meski begitu, warga seolah tak kehabisan akal untuk bisa tetap mudik. Berbagai cara dilakukan, untuk mengelabuhi petugas.

Beberapa kali memang pada akhirnya ketahuan. Tapi entah apakah selebihnya banyak yang tak tertangkap.

Berikut kisah orang-orang yang tetap nekat mudik di tengah aturan larangan mudik untuk mencegah penyebaran virus Corona (COVID-19), dikutip dari Liputan6.com:

1 dari 6 Halaman

Travel Gelap

Sejumlah travel gelap berusaha menembus barikade pemeriksaan petugas gabungan, sejak dari wilayah Jakarta, Tangerang, Serang, hingga Kota Cilegon yang menerapkan larangan mudik.

Seperti yang dilakukan oleh Luxio Hitam berpelat nomor B 2576 TKX dan Luxio Putih berplat nomor BE 1743 GR dengan 4 penumpang.

Kisah taktik travel gelap dengan pelat hitam diceritakan oleh supirnya yang berupaya mengelabui petugas gabungan yang berjaga di perbatasan Gerbang Tol (GT) Cikupa, agar lolos dari hadangan dan bisa sampai ke Pelabuhan Merak.

Mobil Daihatsu Luxio Hitam berpelat nomor B 2576 TKX itu berasal dari Cipulir, Jakarta dengan tujuh penumpang.

Kemudian menjemput tujuh penumpang lainnya di wilayah Jakarta yang sedang melaksanakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan larangan mudik, dan masuk ke dalam zona merah, kemudian masuk tol JORR.

"Ada polisi yang jaga, kan macet, saya keluar tol Bitung, masuk tol Cikupa lagi," kata supir travel plat hitam itu, Donal, ditemui di GT Merak, Kota Cilegon, Banten, Sabtu, 25 April 2020.

Dia mengaku berupaya menghindari penyekatan personel kepolisian agar bisa mengantar tujuh penumpang travel nya menuju Lampung Tengah, Lampung. Hingga akhirnya terkena penyekatan di garis akhir, di Gerem Atas dan Gerem Bawah.

Karena tak ada pilihan lain, dia pun diperintahkan memutar balik kembali lagi ke Jakarta. Dia mengaku mengetahui adanya larangan mudik bagi wilayah zona merah Covid-19, namun tak ada pilihan lain, karena terbentur kebutuhan ekonomi.

"Iya dikeluarin di sana, di tol. Pulang lagi ini, ke Jakarta," terangnya.

 

2 dari 6 Halaman

Rombongan Tukang Cukur

Larangan mudik sudah diterapkan pada tanggal 24 April 2020. Kendati telah dilarang, masih ada sejumlah orang yang tetap nekat mudik dengan memilih jalur alternatif untuk menghindari pemeriksaan.

Salah satunya adalah jalur alternatif Jonggol, Kabupaten Bogor. Jalur ini menjadi pilihan pemudik asal Jakarta dan Bekasi karena dianggap lebih cepat sampai ke lokasi tujuan seperti Cianjur, Bandung dan sekitarnya.

Tetapi karena jalur alternatif tersebut sudah dijaga oleh polisi, pemudik pun gagal untuk mudik dan diminta untuk putar balik lagi.

Seperti yang dialami Hasan, saat hendak mudik ke Garut, kendaraan yang membawa rombongan tukang cukur rambut ini terjaring pemeriksaan petugas di check point Jonggol.

Kelima orang yang memiliki usaha pangkas rambut di daerah Cileungsi, Kabupaten Bogor dan Bekasi ini tidak bisa mengelak saat diintrogasi polisi. Setelah diketahui hendak mudik ke Garut, polisi akhirnya menyuruh mereka untuk putar balik.

"Kalau memang dilarang, saya balik lagi saja," kata Hasan, Selasa, 28 April 2020.

Ia dan teman-temannya di Bekasi mengira jalur alternatif Jonggol bebas dari penjagaan petugas. Karena itu, pergi mudik dengan mobil sewaan.

"Dikira disini nggak ada pos pemeriksaan. Kalau lewat tol sudah jelas ada, makanya lewat sini," terangnya.

Sejak pandemi virus corona mewabah ditambah adanya pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBBB) di Bogor, ia memilih menutup usahanya. Selain karena sepi pelanggan, juga berisiko terjadinya penularan Covid-19.

"Daripada nggak ada pekerjaan lagi, akhirnya sama temen berinisiatif pulang ke kampung," ujar Hasan.

3 dari 6 Halaman

Kelabuhi Petugas di Pelabuhan Merak

Ada-ada saja kelakuan para pemudik untuk bisa melewati check point pihak kepolisian pada momen pelarangan mudik.

Lihat saja di Kota Cilegon, Banten, mobil pick up bernomor polisi AE 9736 NF berdalih memuat kerupuk, nyatanya berisikan orang yang akan mudik menuju Bengkulu.

Mereka berusaha mengelabui petugas Dinas Perhubungan (Dishub) dan Polres Cilegon, dengan menutup bagian belakang pick up mereka menggunakan terpal dan dibuat sedemikian rupa agar terlihat seperti membawa barang.

"Kami mencurigai kendaraan yang mengaku membawa kerupuk, tetapi terlihat mobil bak belakang seperti membawa beban berat. Ketika dicek, dengan cara dibuka terpalnya, ternyata isinya orang," kata Kapolsek Pulomerak AKP Rifki Seftirian, saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Rabu, 29 April 2020.

Pick up itu terkena pemeriksaan di check point Gerem Bawah, Kelurahan Gerem, Kota Cilegon, Banten, Rabu siang kemarin.

Berusaha mengelabui petugas gabungan, mereka berharap bisa lolos pemeriksaan check point kemudian membeli tiket penyeberangan di Pelabuhan Merak menuju Bakauheni.

"Mereka terkena penyekatan di check point Gerem Bawah," terang Rifki.

Posisi duduk pun di atur sedemikian rupa, dua orang duduk di bagian depan, sopir dan kernet. Kemudian dua orang lagi berada di bak mobil pick up. Bagian kanan kiri mobil sudah di modifikasi dengan dipasangi besi sebagai penahan. Bagian atas bak mobil dipasangi penahan.

Di atas penahan itu kemudian ditaruh kerupuk dan berbagai makanan ringan jenis oleh-oleh. Agar penumpangnya tetap nyaman, lantai dasar back mobil di pasangi kasur dan tas pakaian. Sehingga terlihat penuh seperti mengangkut kebutuhan logistik.

"Ada empat orang, dua di depan dan dua di belakang. Tetap kami imbau agar putar balik ke daerah asal keberangkatan," jelas Rifki.

4 dari 6 Halaman

Naik Truk Kontainer

Meski pemerintah dengan tegas menyatakan mudik dilarang, hingga kini masih saja ditemukan sebagian masyarakat yang tetap nekat mudik ke kampung halaman.

Salah satunya dilakukan oleh tujuh orang yang diduga hendak mudik ke daerah Rangkas Bitung, Lebak-Banten.

Mereka mengelabui petugas gabungan di check point penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Tangerang untuk menumpang di truk kontainer Hino.

"Ya benar. Pelanggaran ini ditemukan pada saat penerapan PSBB hari ke 11, Selasa, 28 April lalu," ungkap Kapolresta Tangerang, Kombes Pol Ade Ary, Kamis (30/4/2020).

Saat itu, keenam penumpangnya duduk di depan dekat supir. Saat melewati cek poin PSBB di Citra Raya, oleh polisi kendaraan besar tersebut disetop untuk diperiksa.

"Saat ditanya petugas, mereka ini hendak mudik tujuan ke daerah Rangkas Bitung, Lebak Banten," kata Kapolres.

Mereka adalah Abdul Probo sebagai supir. Serta keenam orang lainnya sebagai penumpang adalah Herman, Didin, Supandi, Yani,Yanto dan Suhanda yang mayoritas beralamat KTP di Paneglang, Banten.

Saat didapati petugas dan setelah didata, ketujuh orang dengan truk kontainernya langsung diperintahkan untuk putar balik.

"Jelas tidak boleh melintas dan harus putar balik. Para penumpangnya pun diberi imbauan," kata Kapolres.

5 dari 6 Halaman

Usaha Sopir Travel Gelap

Polisi menangkap seorang sopir travel gelap dan pemudik yang kedapatan tetap melakukan perjalanan antarkota antarprovinsi di tengah pandemi virus Corona atau Covid-19. Para penumpang berasal dari Jakarta.

Kabag Ops Korlantas Polri Kombes Benyamin menyampaikan, mereka diamankan saat pemeriksaan di Pos Bantu Nungku, Tasikmalaya, Jawa Barat, sekitar pukul 02.30 WIB dini hari tadi.

"Pengemudi membawa empat orang pemudik," tutur Benyamin saat dikonfirmasi, Kamis (30/4/2020).

Menurut Benyamin, pemudik bermaksud mudik dari Jakarta ke Sukaraja, Sukabumi, Jawa Barat. Sopir travel pun mencari jalan untuk mengantar mereka.

"Rute yang dilalui travel gelap di antaranya dari Jakarta melalui tol, keluar Tol Buah Batu menggunakan jalan tikus ke Cileunyi, selanjutnya ke Nagreg, Malambong, Ciawi, Cisinga, dan tertangkap di Pos Check Point Batu Nungku," jelas dia.

Kini baik sopir travel dan empat orang pemudik diamankan di Polres Tasikmalaya Kota. Selain dimintai keterangan, mereka mendapatkan edukasi pentingnya menekan penyebaran Covid-19.

"Dengan ongkos Rp 400 ribu sampai tujuan rumah pemudik," Benyamin menandaskan.

6 dari 6 Halaman

Sembunyi di Toilet Bus

Polisi telah menyekat seluruh jalur perbatasan yang hendak keluar Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) terkait adanya pelarangan mudik lebaran 2020.

Meski begitu, polisi telah menemukan masyarakat yang hendak mudik menggunakan bus dengan cara bersembunyi saat polisi mengecek di daerah Bekasi.

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Sambodo Purnomo Yogo mengatakan, kejadian tersebut terjadi pada Rabu, 29 April 2020 malam disebuah pos pantau pemudik polisi. Saat itu, pihaknya sedang melakukan pengecekan setiap kendaraan yang lewat.

"Iya, jadi tadi malam sekitar pukul 22.00 WIB di Pos PAM Kedung Waringin (Bekasi) anggota sedang melakukan pengecekan kendaraan," kata Sambodo saat dihubungi, Kamis (30/4/2020).

Ketika melakukan pengecekan kendaraan, sebuah bus dengan lampu kabin yang tak menyala dan seperti tidak berpenumpang itu melewati pos pantau tersebut.

Lantas, polisi pun memberhentikannya untuk dilakukan pemeriksaan sama seperti kendaraan lainnya.

Ternyata, saat dilakukan pemeriksaan itu ditemukannya enam orang penumpang yang sedang bersembunyi dengan cara meluruskan kursi penumpang dan mematikan lampu kabin bus. Ada pula yang bersembunyi di dalam toilet bus.

"Ditemukan ada lima orang merebahkan tempat duduk dan lampu dimatikan. Ditemukan juga satu orang di dalam toilet bus," jelasnya.

Tak hanya menemukan enam orang pemudik saja, polisi juga menemukan sejumlah barang bawaan para pemudik seperti tas dan koper yang berada di dalam bagasi bus tersebut.

"Iya kita temukan barang-barang pemudik di bagasi bus," ucapnya.

Dengan cara seperti itu, mereka berharap dapat lolos dari pemeriksaan polisi dan dapat pulang kekampung halamannya masing-masing. Untuk bus Syifa Putra dengan nomor polisi H 7018 OE yang berasal dari Jakarta itu bertujuan ke Semarang, Jawa Tengah.

"Itu bus dari Jakarta mau ke Jawa Tengah," ujarnya.

Dengan begitu, bus tersebut langsung diminta untuk putar arah kembali ke Jakarta oleh para petugas. "Sanskinya kita putar balikan arah kemabali ke Jakarta," tutupnya.

BERI KOMENTAR