HOME » BERITA » BEGINI KISAH SOPIR BUS YANG EVAKUASI PASIEN COVID-19, HARUS STAND BY 24 JAM

Begini Kisah Sopir Bus yang Evakuasi Pasien COVID-19, Harus Stand By 24 Jam

Turut menjadi garda terdepan melawan COVID-19, para sopir bis ini berbagi kisah mereka saat mengevakuasi pasien

Sabtu, 03 Oktober 2020 18:15 Editor : Ahmad Muzaki
Begini Kisah Sopir Bus yang Evakuasi Pasien COVID-19, Harus Stand By 24 Jam
Bus sekolah dialihfungsikan untuk menjemput pasien Covid-19. ©2020 Merdeka.com/Imam Buhori

OTOSIA.COM - Di masa pandemi Corona (COVID-19), Laswanto atau yang kerap disapa Anto, sopir bus sekolah DKI Jakarta mendapatkan tugas baru. Anto diberikan amanah untuk turut mengantarkan para pasien dari Puskesmas ke Wisma Atlet Kemayoran.

Selain Anto, ada juga sopir bus sekolah lain yang diperbantukan mengingat jumlah mobil ambulans yang digunakan untuk evakuasi masih terbatas. Anto mengungkapkan, tugas tersebut tak mengenal waktu, artinya harus stand by 24 jam.

Melansir Merdeka.com, jika ada panggilan di grup pesan singkat, dia dan teman-temannya harus segera bergegas dan mempersiapkan diri ke lokasi yang dituju. Satu driver mendapatkan tugas evakuasi bervariasi tergantung lokasi penjemputan.

"Ini enggak mengenal waktu, 24 jam standby terus dan kalau ditelepon harus siap evakuasi. Dua jam sebelum penjemputan kita sudah mulai jalan dengan dikawal patwal, polisi," kata Anto saat dihubungi, beberapa waktu lalu.

1 dari 5 Halaman

Dia mengatakan, para sopir juga harus mengenakan baju hazmat atau APD lengkap dengan kacamata pelindung hingga masker saat menjemput para pasien isolasi mandiri. Bus yang digunakan juga dipasangi pembatas antara driver dan penumpang.

"Selama perjalanan pendingin di dalam bus harus dimatikan. Petugas Puskesmas yang mendata pasien duduk di samping pengemudi dengan APD lengkap," tutur dia.

2 dari 5 Halaman

Dia menuturkan, pasien yang diantarkannya tampak sehat dan tidak terlihat sakit. Ada anak kecil hingga ibu hamil, pria dan wanita.

"Mereka enggak kelihatan sakit, pada segar dan bugar. Ada anak-anak bawa mainan, ibu hamil, nenek-nenek dari Panti Jompo juga pernah saya antarkan. Tapi kalau yang panti itu diantarkan ke RS Duren Sawit karena sudah tua dan punya penyakit bawaan," kenang dia.

3 dari 5 Halaman

Sebelum dan sesudah mengantarkan pasien, bus disemprot disinfektan dan pengemudi diharuskan mandi di salah satu lokasi yang ditentukan. Seperti halnya di RSPI Sulianti Saroso. Selesai tugas, bus pulang ke pool di Kramatjati, Jakarta Timur. Sampai di pool tersebut, sopir masih diharuskan mandi kembali dan menunggu tugas lanjutan.

"Kalau lagi flu atau enggak enak badan enggak boleh bertugas. Jadi harus isolasi mandiri hingga membaik, alhamdulillah saya dan teman-teman driver masih sehat," ujar dia.

4 dari 5 Halaman

Rapid tes hingga swab Covid-19 sudah menjadi rutinitas para driver. Karantina mandiri selama dua hingga tiga hari dilakukan di mes yang disediakan.

Meski disediakan mes, Anto memilih untuk pulang untuk bertemu istri dan kedua anaknya yang masih balita. Selama menjalankan tugas hal terpenting ini, dia dan teman temannya merasa bahagia dan ikhlas. Agar tetap meningkatkan imunitas dalam dirinya. Menurutnya, rasa was-was dan takut hanya akan memperburuk keadaan.

5 dari 5 Halaman

Meski begitu, dirinya tetap berusaha untuk menjalankan protokol kesehatan yang ada. Ia pun juga berharap agar masyarakat juga mematuhi protokol kesehatan, agar keadaan semakin membaik dan pulih seperti sebelum pandemi.

"Setiap saya sampai rumah anak-anak harus masuk dulu ke dalam kamar, saya mandi, terus nunggu beberapa jam di luar rumah baru berani bermain sama anak," jelasnya.

BERI KOMENTAR