HOME » BERITA » BENARKAH PABRIK NISSAN TUTUP KARENA UU OMNIBUS LAW?

Benarkah Pabrik Nissan Tutup Karena UU Omnibus Law?

Beredar kabar bahwa pabrik Nissan tutup karena UU Omnibus Law, benarkah?

Kamis, 29 Oktober 2020 15:15 Editor : Ahmad Muzaki
Benarkah Pabrik Nissan Tutup Karena UU Omnibus Law?
Nissan Motor Indonesia bangun pabrik engine baru. ©2016 Merdeka.com

OTOSIA.COM - Baru-baru ini beredar kabar di media sosial yang menyebutkan bahwa pabrik Nissan di Indonesia tutup karena UU Omnibus Law. Tak hanya itu saja, informasi tersebut juga menjelaskan jika pabrik Nissan pindah ke Thailand.

"Pabrik Mobil Nissan umumkan tutup usahanya bulan Maret 2021.
Lho...
Sudah dibuatkan Undang Undang Omnibus Law kok malah TUTUP alias KABUR ke Thailand...?
Emang UU itu tidak ampuh, tho...?
Oala biyung...biyung...
Komen dilarang kalap..."

1 dari 4 Halaman

Penelusuran

Menurut penelusuran merdeka.com, informasi itu tidak benar. Dalam artikel merdeka.com berjudul "Confirm, Nissan Tutup Pabrik Indonesia demi Profit Lebih Besar" pada 29 Mei 2020, dijelaskan bahwa penutupan pabrik Nissan tidak ada kaitannya dengan UU Omnibus Law.

Makoto Uchida, CEO Nissan Motor Company, mengonfirmasi rencana perusahaan menutup pabrik di Spanyol dan Indonesia. Rencana ini ingin mendorong utilisasi pabrik di atas 80 persen dan membuat operasional perusahaan lebih profit, seperti dalam keterangan pers Nissan di Tokyo, dikutip dari Asia.Nikkei.com, kemarin (28/5).

Namun, Uchida menolak berkomentar lebih jauh tentang pemangkasan sebanyak 12.500 pekerja yang telah diumumkan pada Juli tahun lalu.

Dia mengatakan perusahaan akan bernegosiasi dengan serikat pekerja terkait dan pemerintah setempat.

2 dari 4 Halaman

Menurut Uchida, pihaknya sudah memulai program empat tahun untuk memangkas kapasitas produksi sebesar 20 persen menjadi 5,4 juta unit per tahun. Hal ini menyebabkan lini produk lebih sedikit, dari 69 model jadi 55 model dan memotong fixed cost sekitar 300 miliar yen.

Nissan juga memangkas kapasitas secara global sebagai bagian dari rencana yang disusun bersama Renault dan Mitsubishi Motors, anggota Aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi.

Uchida juga memaparkan rencana Nissan untuk fokus di pasar inti dan produk, penarikan dari Korea Selatan, serta menghentikan bisnis Datsun di Rusia.

Nissan juga menetapkan gol untuk menjual lebih dari satu juta unit mobil listrik di akhir tahun fiskal 2023. Mobil listrik ini menjadi kunci pendorong Nissan di masa depan.

3 dari 4 Halaman

Berdasarkan kinerja tahun fiskal 2019 yang berakhir 31 Maret 2020, Nissan Motor melaporkan rugi bersih sebesar 671 miliar yen (USD 6,2 miliar) atau setara Rp 84 triliun. Periode ini berbarengan dengan pandemi Covid-19.

Pada tahun fiskal terakhir ini, Nissan menjual 4,79 juta unit kendaraan secara global, turun 13 persen dari tahun sebelumnya. Sementara pendapatannya mencapai 9,87 triliun yen, turun 14,6 persen dari tahun fiskal sebelumnya.

Nissan Motor dimiliki sebesar 43,4 persen saham oleh Renault, sementara Nissan sendiri memiliki saham 15 persen di mitranya asal Perancis itu.

4 dari 4 Halaman

Kesimpulan

Informasi terkait penutupan pabrik Nissan di Indonesia karena UU Omnibus Law adalah hoaks. Pasalnya pabrik produsen mobil asal Jepang itu tutup setelah melaporkan kerugian bersih sebesar Rp671 miliar yen (USD 6,2 miliar) atau setara Rp 84 triliun. Periode ini berbarengan dengan pandemi Covid-19, atau sejak Maret 2020.

Oleh sebab itu, jangan mudah percaya terhadap informasi yang beredar. Pastikan informasi yang ada berasal dari sumber terpercaya. Sehingga bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Penulis: Fellyanda Suci Agiesta

Sumber: Merdeka.com

BERI KOMENTAR