HOME » BERITA » BERKACA DARI THAILAND, PAJAK MOBIL KONVENSIONAL DINAIKKAN UNTUK DORONG ELEKTRIFIKASI

Berkaca dari Thailand, Pajak Mobil Konvensional Dinaikkan untuk Dorong Elektrifikasi

Strategi tersebut merupakan langkah pemerintah untuk mendorong elektrifikasi kendaraan dan mengurangi pencemaran udara.

Sabtu, 26 Desember 2020 13:15 Editor : Nurrohman Sidiq
Berkaca dari Thailand, Pajak Mobil Konvensional Dinaikkan untuk Dorong Elektrifikasi
BMW i3 (hgmsites.net)

OTOSIA.COM - Program elektrifikasi tengah menggema di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Kebijakan ini tentu saja nantinya akan berimbas pada kendaraan berbasis bahan bakar minyak (BBM). Lantas, bagaimana nasib kendaraan konvensional tersebut?

Berkaca dari Thailand, pemerintah negara ini dikabarkan akan melakukan pertemuan bulan depan untuk membahas tentang kenaikan pajak kendaraan konvensional. Strategi tersebut merupakan langkah pemerintah untuk mendorong elektrifikasi kendaraan dan mengurangi pencemaran udara.

Usulan kenaikan pajak tersebut disebutkan oleh Finance Ministry, merupakan buntut dari aturan pajak yang akan berakhir pada tahun 2025 nanti. Dalam sumber yang sama juga menekankan bahwa mobil konvensional bakal dikenai pajak tertinggi sehingga menekan warga Thailand untuk beralih ke kendaraan listrik.

1 dari 2 Halaman

Atthawit Techawiboonwong, general manager untuk external and government affairs Nissan Motor Thailand menerangkan kepada Bangkok Post, pihaknya mengaku telah bertemu dengan pemerintah untuk memperbincangkan soal kenaikan pajak tersebut, yang diperkirakan akan berlaku tahun 2026 nanti.


Menurut Atthawit, pihaknya sudah menyarankan pemerintah untuk menambahkan langkah lanjutan karena menaikkan pajak tidaklah cukup. Baginya, memangkas pajak pendapatan untuk perusahaan yang membeli kendaraan listrik dianggap menjadi awal yang baik.

Bagi Nissan Motor Thailand, perusahaan otomotif telah siap untuk mengikuti aturan kendaraan listrik karena memang mereka sudah memproduksinya dan siap masuk ke Thailand.

 

2 dari 2 Halaman

"Akan tetapi, bila pembelinya tidak siap, Kami tidak akan bisa menjual mobil. EV itu mahal. Apakah mereka (masyarakat Thiland) siap membelinya?" paparnya.

Lantas, mungkinkah aturan seperti ini cocok diterapkan di Indonesia bila nantinya elektrifikasi benar-benar dioptimalkan?

BERI KOMENTAR