HOME » BERITA » BIJAKLAH MEMENCET KLAKSON, JIKA TAK INGIN MENJADI PENYEBAB KECELAKAAN

Bijaklah Memencet Klakson, Jika Tak Ingin Menjadi Penyebab Kecelakaan

Jangan salah ya, penggunaan klakson ini sebenarnya sudah diatur dalam PP Nomor 55 Tahun 2012 Pasal 39 dan 69. Agar tidak menimbulkan polusi suara dan diterima bagus oleh indera pendengar manusia.

Senin, 16 April 2018 19:45 Editor : Dini Arining Tyas
Foto Ilustrasi: Instagram/tmcpoldametrojaya

OTOSIA.COM - Setiap kendaraan tentu dilengkapi dengan klakson. Sebab, klakson ini merupakan piranti kendaraan yang berfungi sebagai pengingat kendaraan sekaligus alat komunikasi antar pengendara.

Klakson kendaraan normalnya hanya berbunyi "din...din..." Tapi belakangan juga banyak yang memodifikasi klaksonnya. Terlebih saat demam klakson berbunyi telolet.

Jangan salah ya, penggunaan klakson ini sebenarnya sudah diatur dalam PP Nomor 55 Tahun 2012 Pasal 39 dan 69. Agar tidak menimbulkan polusi suara dan diterima bagus oleh indera pendengar manusia.

Kekuatan bunyi klakson harus sesuai dengan aturan, yakni paling rendah 83 desibel dan paling tinggi 118 desibel.

Namun demikian, penggunaan klakson juga harus tetap sesuai kebutuhan ya otolovers. Sebab, jika berlebihan menggunakan klakson bukan tidak mungkin suara klakson akan membuat pengemudi lain tidak fokus.

"Bunyikan klakson kendaraan bila benar-benar diperlukan. Karena suara klakson yang terlalu nyaring dapat memekakkan telinga dan mengganggu konsentrasi pengendara lain, hal ini membahayakan dan bisa menimbulkan kecelakaan," tulis akun @tmcpoldametro pada keterangan gambar akun instagramnya.

(kpl/tys)

BERI KOMENTAR