HOME » BERITA » CARA KLAIM ASURANSI TABRAKAN BERUNTUN, RIBET TIDAK?

Cara Klaim Asuransi Tabrakan Beruntun, Ribet Tidak?

Cara klaim asuransi tabrakan beruntun tak begitu saja bisa dilakukan. Pada kasus tabrakan beruntun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan aika ingin mengajukan klaim asuransi.

Jum'at, 12 April 2019 21:30 Editor : Dini Arining Tyas
Ilustrasi tabrakan beruntun (Liputan6.com)

OTOSIA.COM - Memiliki jaminan asuransi untuk mobil bisa sangat membantu manakala terjadi hal yang tak diinginkan. Seperti kasus yang kerap terjadi, yakni kecelakaan.

Kecelakaan yang dialami bisa saja beruntun. Biasanya tabrakan beruntun terjadi bermula dari mobil paling depan yang melakukan pengereman mendadak, lantaran bebrapa faktor. Kebanyakan pengguna mobil jarang memahami jarak aman dengan mobil lain.

Apalagi jika menjadi salah satu mobil yang terlibat dalam tabrakan beruntun itu. Posisi macam itu tentu menjadi dilema, terutama soal biaya perbaikan kendaraan. Karena pada dasarnya, asuransi memiliki manfaat cukup banyak.

Apakah bisa melakukan proses klaim asuransi seperti pada umumnya?

"Untuk masalahh tabrakan beruntun, proses klaim terlebih dahulu dianalisis oleh pihak asuransi dan keinginan pelanggan untuk penggunaan asuransinya. Apakah dia ingin ditanggung pihak penabrak paling akhir. Ataukah menggunakan skema tunjangan pihak ketiga dan lainnya," ujar Workshop Head Auto2000 Kenjeran, Surabaya, Yusuf Bahtiar.

Menurutnya, kebanyakan pada kasus tabrakan beruntun yang menjadi pihak paling disalahkan adalah pengendara yang menabrak mobil di depannya. Sebab jika merjuk aturan yang berlaku, pengemudi belakang harus bisa menjaga jarak, dengan kendaraan di depannya. Atas daras itulah kendaraan yang ditabrak dari belakang, bisa mengajukan tuntutan pada pengemudi di belakang yang menabrak.

Jika pengendara yang menabrak punya polis asuransi kendaraan, ada perluasan jaminan tanggungan jawab hukum pada pihak ketiga atau third party liability, maka kerusakan mobil yang ditabrak bisa diklaim asuransinya.

Tapi kondisi berbeda jika antara penabrak dan korban, sama-sama memiliki polis asuransi dengna jaminan all risk. Jika seperti ini biasanya tak saling menuntut.

"Mereka bakal menyelesaikan kerugian ke perusahaan asuransi masing-masing. Dan dengan kesepakatan saling pikul risiko. Pihak asuransi siap melayani kebutuha pelanggan sesuai hal-hal yang ditanggung oleh klausul polisnya," tandasnya.

Sumber: OTO.com

(kpl/tys)

BERI KOMENTAR