HOME » BERITA » CERITA PRIHATIN OJEK PANGKALAN DI SITUASI SEPI IBUKOTA

Cerita Prihatin Ojek Pangkalan di Situasi Sepi Ibukota

Sejak munculnya virus corona penghasilan ojek pangkalan jauh menurun. Sehari mereka hanya dapat uang Rp 10 ribu sampai Rp 20 ribu.

Senin, 13 April 2020 14:15 Editor : Nazarudin Ray
Cerita Prihatin Ojek Pangkalan di Situasi Sepi Ibukota
Aang, pengojek pengkalan nyambi berjualan kopi seduh (Nazar Ray)

OTOSIA.COM - "Pak jangan moto terus, istirahat dulu, ngopi dulu sini pak," teriak seseorang dari bawah jembatan penyeberangan jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, tempat otosia memotret di hari pertama diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta, Jumat (10/4) lalu.

Otosia pun langsung menghampiri Aang, lelaki yang berprofesi sebagai pengojek pangkalan (opang) yang nyambi jualan kopi di situasi sulit pandemi corona di Ibukota.

Sambil menyeduh kopi pesanan otosia, Aang pun mulai bercerita tentang kehidupannya sehari-hari sebagai pengojek yang mangkal di bawah jembatan penyeberangan. Menurutnya, sebelum ada wabah COVID-19, dalam sehari ia bisa mendapat Rp100 ribu sampai Rp150 ribu dari mengojek.

"Selama ada corona, sehari narik ojek dari jam 6 pagi sampai jam 8 malam cuma dapat Rp10.000, paling gede Rp20.000, itu juga dari satu penumpang," ungkap pria kelahiran Jakarta 48 tahun silam ini.

"Kebetulan motor irit dan bensin tidak isi lagi. Lagi pula kan juga saya tidak mutar-mutar," tambahnya.

1 dari 4 Halaman

Makin lama bercerita, suaranya makin lirih, menuturkan pendapatannya yang suram. Bapak tiga anak ini tidak lantas patah arang. Menjual kopi di pangkalan ojek adalah jalan lain menutupi pemasukannya yang jeblok.

"Banyak temen-temen siang sudah pada pulang, karena memang enggak ada penumpang. Alhamdulillah, dari jual kopi aja sih bisa dapat Rp 40.000. Yang beli kadang satpam, sesama tukang ojek, ojol, atau pegawai gedung-gedung sini yang masih masuk," papar Aang.

"Sekarang mah susah deh, apalagi ditambah PSBB. Mana harus bayar kontrakan Rp 700 ribu tiap bulan. Saya tahu bahayanya corona, tapi mau bagaimana lagi, saya harus kasih makan anak dan istri, bayar kontrakan juga. Pemerintah harusnya kasih solusi kalau mau batasi orang," tukasnya.

2 dari 4 Halaman

Aang merasa kalau pemerintah cuma memperhatikan Ojek Online (Ojol) saja. Sedangkan Opang tidak ditoleh sama sekali saat pemberlakuan PSBB. "Jangan ojol terus yang diperhatikan pemerintah. Opang juga tukang ojek. Tolong dengar juga suara kami. Kami butuh kepedulian pemerintah," tukasnya.

"Lagi pula mana janjinya, katanya ada bantuan sosial. Kami-kami di sini tidak pernah dapat sembako yang katanya dibagikan. Kalau katanya ojol dapat keringanan kredit motor, ojek pangkalan seperti kami jangan dilupakan juga," lanjutnya.

3 dari 4 Halaman

Cerita Ojek Lainnya

Senada dengan Aang. Danil, rekan seporefesinya juga mengutarakan pengalaman yang sama. Bedanya jika Aang bertahan hingga malam sambil berjualan kopi, namun pria berusia 60 tahun ini lebih memilih kembali ke rumah jika menjelang sore tidak mendapatkan penumpang.

"Kadang tidak dapat penumpang sama sekali. Paling banter dapat Rp 20 ribu. Semoga corona cepat berakhir deh," harapnya.

4 dari 4 Halaman

Beberapa tukang ojek lainnya yang otosia temui mengaku ada yang mencari tambahan dengan menjual madu, hingga menawarkan diri mengantar penghuni komplek perumahan yang dikenal ke lokasi tujuan yang dekat, seperti ke pasar kantor pos yang buka dan sebagainya.

Bahkan salah satu ojek yang mangka di Dukuh Atas, Jakarta Pusat, menyerahkan tarif kepada penumpang. Sampai-sampai ia memasang kardus di atas motornya yang bertuliskan 'Ojek, tarif terserah penumpang'.

"Ya dari pagi saya sendiri di sini, sama sekali belum mengantar penumpang. Teman-teman ojek lain, saya tidak tahu ke mana," ucapnya lirih.

BERI KOMENTAR