HOME » BERITA » DAYA BELI MAKIN TURUN, INDUSTRI OTOMOTIF DIPERKIRAKAN MASIH STAGNAN PADA 2021

Daya Beli Makin Turun, Industri Otomotif Diperkirakan Masih Stagnan pada 2021

Kondisi industri otomotif diprediksi belum akan pulih hingga tahun depan. Pengamat transportasi menyebut industrio otomotif masih akan stagnan pada 2021.

Kamis, 12 November 2020 15:15 Editor : Dini Arining Tyas
Daya Beli Makin Turun, Industri Otomotif Diperkirakan Masih Stagnan pada 2021
Ekspor mobil (Dok. Otosia)

OTOSIA.COM - Di tengah situasi yang tak pasti seperti ini, masyarakat sepertinya memilih untuk lebih berhemat dan menyisihkan uangnya untuk menabung. Daya beli masyarakat pun disebut kian menurun akibat dampak pandemi COVID-19.

Pengamat transportasi senior sekaligus Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menilai kinerja industri otomotif masih stagnan hingga tahun depan.

"Sekarang penurunan daya beli masyarakat jauh sekali. Orang jadi berfikir dua kali buat beli produk otomotif seperti mobil kan. Jadi pada 2021 nanti masih stagnan untuk industri otomotif ini," ujar dia saat dihubungi Merdeka.com, Rabu (11/11/2020).

1 dari 3 Halaman

Dia mengatakan, hal ini tercermin dari lesunya penjualan mobil baru secara kuartalan maupun tahunan baik untuk pasar dalam negeri maupun untuk ekspor. Bahkan, mobil bekas masih cukup banyak yang belum laku di tahun ini.

Apalagi, banyak kota di Indonesia yang mulai mengembangkan sistem transportasi umum modern dan terintegrasi. Alhasil mulai masyarakat mulai melirik penggunaan transportasi umum, khususnya kaum urban.

"Palembang sudah punya LRT kan, Jakarta dengan MRT, juga Bandung dan Surabaya dengan progres kereta cepat. Sehingga Ini pasti juga berdampak ke penjualan produk otomotif yang menurut," tegasnya.

2 dari 3 Halaman

Selain itu, berkembangnya tren bersepeda juga turut mempengaruhi turunnya pembelian kendaraan bermotor. Mengingat saat ini sepeda juga digunakan sebagai alternatif transportasi untuk menunjang berbagai aktivitas keseharian masyarakat.

"Jadi, ke depan saya fikir pemanfaatan sepeda ini akan lebih luas. Apalagi banyak kebijakan pemerintah juga yang ramah bagi Pesepeda," terangnya.

Maka dari itu, dia meyakini pemulihan sektor industri otomotif akan membutuhkan waktu sedikit lama, minimal 2 tahun. Terutama bagi kendaraan pribadi di era kebiasaan baru ini. "Pulihnya industri otomotif ini akan bertahap. Tetapi, tergantung kondisi ekonomi negara juga ya," tutupnya.

3 dari 3 Halaman

Sebelumnya, Menteri perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, pertumbuhan sektor industri manufaktur di kuartal III-2020 sebesar 5,25 persen dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Dia berharap pertumbuhan sektor manufaktur bisa terus membaik.

"Nah ini merupakan hal yang sangat positif yang menurut kami kira-kira kita sudah pada posisi rock bottom pada Kuartal II dan mudah-mudahan ke depan kita akan mulai menunjukkan proses pemulihan," kata Agus dalam talkshow Update KPCPEN: Pemulihan Ekonomi Nasional, Senin (9/11).

Terlebih, secara umum sektor industri semuanya tumbuh jika dibandingkan dengan kuartal II 2020. Tapi jika dibandingkan dengan tahun 2019, masih ada tekanan-tekanan untuk tahun 2020 ini. Misalnya produksi mobil pada kuartal III 2020 mencapai 113.560 unit atau naik sebesar 172 persen.

"Ini kuartal to kuartal, jadi dari kuartal II ke kuartal III itu ada kenaikan 172 persen. Namun kalau dibandingkan dengan YoY ini ada penurunan sebesar 68,47 persen," jelasnya.

Penulis: Suleaman

Sumber: Merdeka.com

BERI KOMENTAR