HOME » BERITA » DFSK GELORA E BISA JADI JAWABAN MASA DEPAN ELEKTRIFIKASI INDONESIA

DFSK Gelora E Bisa Jadi Jawaban Masa Depan Elektrifikasi Indonesia

posisi DFSK Gelora E sebagai mobil listrik niaga pertama bisa jadi jawaban masa depan elektrifikasi di Indonesia. Tidak menutup kemungkinan kehadirannya akan memicu lahirnya model-model kendaraan listrik niaga lain yang lebih...

Senin, 25 April 2022 20:15 Editor : Nurrohman Sidiq
DFSK Gelora E Bisa Jadi Jawaban Masa Depan Elektrifikasi Indonesia
DFSK Gelora E (Nazar Ray)

OTOSIA.COM - Pemerintah Republik Indonesia sangat serius dalam mempercepat program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLB) untuk mengejar banyak target dari sisi ekonomi hingga lingkungan hijau.

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), sendiri berkomitmen untuk mendorong industri mobil listrik nasional dari hulu ke hilir, sehingga bisa segera memberi pendapatan dan pemasukan kepada negara.

"Teknologi kita punya kesempatan besar dalam bangun industri dari hulu ke hilir dari mobil listrik lewat lithium baterai yang nikelnya kita miliki. Ini yang harus didorong agar bisa segera dilaksanakan dan beri kontribusi besar bagi negara," ungkapnya, dikutip dari Merdeka.com Kamis (21/1/2021).

Agar terbentuk ekosistem yang memadai, diterbitkanlah Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 Tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai untuk Transportasi Jalan, dan berbagai peraturan turunan lainnya yang mendukung.

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Instagram/@Jokowi)

Jokowi melihat potensi Indonesia bisa bermain dalam sektor produk dan ekonomi ramah lingkungan (green product, green economy) yang sedang banyak dilirik oleh negara kawasan. Oleh karena itulah, ia terus berupaya agar industri mobil listrik dapat segera beroperasi di Indonesia.

"Dan kita sekali lagi punya kesempatan besar masuk ke produk hijau dan ekonomi hijau. Karena ke depan semakin tingginya kesadaran masyarakat akan lingkungan hidup. Ini akan berpengaruh semua pada ekonomi, bisnis global, dan tentu saja akan berpengaruh pada ekonomi kita," serunya.

Langkah Jokowi kemudian secara estafet diteruskan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang menerbitkan Permen ESDM Nomor 13 tahun 2020 tentang Penyediaan Infrastruktur Pengisian Listrik untuk KBLBB yang mengatur standar, keselamatan serta ketentuan ketenagalistrikan, termasuk tarif dan insentif.

Arifin Tasrif, menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (esdm.go.id)

Menteri ESDM, Arifin Tasrif memproyeksikan pembangunan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) mencapai 572 unit dan Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU) sebanyak 3.000 unit untuk tahun 2021.

"Pada 2020 terbangun 180 unit SPKLU dan diharapkan sampai 2030 akan terbangun 31.859 unit SPBKLU," kata Menteri ESDM.

Selain ramah terhadap lingkungan terutama mengurangi gas buang, peningkatan jumlah kendaraan listrik akan mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) sampai 6 juta kiloliter.

"Dengan peningkatan kendaraan listrik pada tahun 2030 akan memberikan potensi pengurangan konsumsi BBM sebesar 6 juta kiloliter per tahun," kata Menteri ESDM.

Pada tahap awal, penggunaan mobil listrik ditargetkan menyasar lingkungan kementerian/lembaga, pemerintah daerah, BUMN, dan swasta. Tahun 2025, penggunaan mobil listrik diproyeksikan sampai 19.220 unit, motor listrik 757.139 unit dan bus listrik mencapai 10.227 unit.

Di tahun yang sama, setidaknya diprediksi sudah tersedia 6.318 unit SPKLU, 17.000 unit SPBKLU dengan 374 ribu unit mobil listrik dan 11,8 juta unit motor listrik. Jika memenuhi target, penghematan konsumsi BBM berpotensi menembus angka 2,56 juta kiloliter.


1 dari 5 Halaman

Respon Agen Pemegang Merek

DFSK di IIMS Hybrid 2021 (Instgram/dfskindonesia)

Merespon ambisi pemerintah untuk menjadi pemain besar dalam industri kendaraan listrik, para Agen Pemegang Merek (APM) menanggapi dengan tangan terbuka dan mulai mempersiapkan berbagai produk berbasis mesin elektrik.

Salah satu APM yang juga turut ambil bagian ialah PT Sokonindo Automobile (DFSK). Semangat pemerintah dalam mengembangkan kendaraan listrik dianggap sangat relevan dengan komitmen DFSK yang juga ingin menghadirkan kendaraan efisien serta ramah lingkungan.

"DFSK siap melaju memasuki era kendaraan listrik di Indonesia, secara aktif mengikuti seruan pemerintah dalam pengembangan kendaraan listrik dan membawa produk kendaraan listrik yang baik ke pasar Indonesia. DFSK akan berperan aktif dalam perlindungan lingkungan dan mendorong roda perekonomian negara melalui kendaraan yang kami produksi," ungkap CEO PT Sokonindo Automobile, Alexander Barus, Kamis (15/4/2021).

Memanfaatkan panggung IIMS Hybrid 2021 di JIEXpo Kemayoran, Jakarta, DFSK kemudian memamerkan kembali sebuah mobil listrik Gelora E dan membuka keran pre-order di sana.

"Kehadiran kendaraan listrik DFSK di Indonesia, terutama DFSK Gelora E, menegaskan komitmen kami siap untuk memasuki era baru kendaraan listrik. Kehadiran kendaraan listrik tidak dapat dihindari dan kita harus berpartisipasi aktif dalam menjaga lingkungan hidup secara berkelanjutan, mendukung program kendaraan listrik pemerintah, dan membantu mendorong roda perekonomian negara, dengan menghadirkan kendaraan yang efisien dan bebas emisi karbon gas buang," lanjut Sales And Marketing Director PT Sokonindo Automobile, Rifin Tanuwijaya.

Bukan sebuah SUV atau city car seperti halnya APM lain yang memang getol menapaki sektor tersebut, DFSK Gelora E justru menjamah sektor Light Commercial Elektric Vehicle atau kendaraan niaga ringan.

Segmen tersebut memang masih ramai meski terdampak pandemi Corona (COVID-19). Sebagai contoh Daihatsu Gran Max MB yang bisa mengantongi angka penjualan ritel 860 unit di bulan Januari 2021, berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Contoh lainnya Suzuki APV yang terjual sampai 211 unit di periode yang sama.

Semua yang tergolong dalam segmen tersebut merupakan kendaraan pembakaran internal atau Internal combustion engine (ICE).

Kemunculan DFSK Gelora E kemudian membuka opsi baru era elektrifikasi mobil niaga. Inilah yang kemudian membuat Gelora E dianggap sebagai pioner dan seperti membuka sub-segmen baru di bawah payung industri kendaraan komersial niaga ringan.

Jelas saja, pesaingnya masih belum ada di Indonesia.

 

2 dari 5 Halaman

Bukan Tanpa Tantangan

SPG dan DFSK Gelora E (Nazar Ray)

Memasarkan kendaraan listrik pada tahap awal pembangungan ekosistem seperti sekarang bukan kondisi yang mudah.

DFSK membuka keran pre-order dengan banderol harga berkisar antara Rp 510 juta hingga Rp 520 juta untuk Gelora E Minibus, dan Rp 480 juta hingga Rp 490 juta untuk versi Blind Van. Tawaran harga itu berlaku selama gelaran IIMS 2021 dari 15-25 April 2021.

Tentu saja banyak pihak mempertanyakan soal harga DFSK Gelora E yang relatif tinggi itu, padahal para pemain lama bermesin konvensional menyediakan harga di rentang Rp 150-200 jutaan. Pun untuk Gelora (non-elektrik) dipatok hanya Rp 169 juta on the road Jakarta.

DFSK mengakui ada banyak hal yang membuat harga Gelora E masih cukup tinggi, salah satunya soal statusnya yang masih CBU (Completely Built Up). Dengan begitu secara keseluruhan kendaraan didatangkan langsung dari China sehingga banyak mengalami penambahan harga.

Di sisi lain, permasalahan baterai pun masih jadi dilema.

"Nah baterai ini yang paling mahal, 50 persen harga mobil listrik, misalnya Rp 500 juta Gelora E, itu 50 persennya baterai," terang Franz Wang, Managing Director PT Sokonindo Automobile.

Untuk membuat Gelora E bersaing dengan mobil bermesin konvensional, Wang menyebut perlu mendapatkan dukungan banyak pihak termasuk pemerintah. Hal ini terkait dengan pemberian insentif seperti pengadaan baterai yang harganya cukup tinggi.

"Memang ada insentif dari pemerintah, tapi masih jauh dari harapan. Misalnya insentif pemerintah itu hanya BBNKB Jakarta nol itu (yang 10 persen tiap tahunnya). Kemudian cuma bebas free parking beberapa area pemerintahan atau di mall. Beda kalau misal di Eropa. Di China sendiri, baterainya disubsidi pemerintah. Otomatis harga mobil gasoline dan listrik sama, sehingga orang lebih milih listrik", ungkapnya.

Bukan hanya itu saja, proses pembangunan stasiun pengisian baterai pastinya membutuhkan waktu yang tidak singkat. Ini pun memicu gelombang pertanyaan seperti bagaimana bila tiba-tiba daya baterai habis di tengah jalan, kemana pengguna harus mencatu daya dan lain-lain.

Belum lagi perihal lama pengecasan. Pastinya keraguan masyarakat masih kuat ketika mobil membutuhkan waktu panjang untuk setiap pengecesan. 

Charging DFSK Gelora E (DFSK)

Layaknya sebuah telepon selular, DFSK Gelora E bisa diisi dayanya dengan listrik rumah tangga berata-rata 220V 16A. Charging port-nya ada di bagian logo DFSK depan yang menyatu dengan grill. Pengisian dari 0-100 persen membutuhkan waktu sekitar 8 jam.

Kalau mau lebih cepat sebenarnya ada fitur Quick Charging. Port pengisiannya terletak di samping kanan bawah pintu kemudi. Quick charging akan aktif mengisi mulai dari 20-80 persen dalam waktu 80 menit atau cukup 2,5 jam untuk pengisian 0-100 persen.

Hanya saja, Quick Charging membutuhkan stasiun pengisian baterai tersendiri.

DFSK lebih lanjut memaparkan penentuan pasar Gelora E tidak terlepas dari kebutuhan masyarakat sekaligus infrastruktur yang belum matang di Indonesia tersebut.

Rifin Tanuwijaya, Sales And Marketing Director PT Sokonindo Automobile, menjelaskan pasar niaga punya cakupan infrastruktur yang lebih mudah dijangkau ketimbang kendaraan lain dalam hal penyediaan infrastruktur.

Ia mencontohkan, ketika pengguna mobil sudah jelas lokasinya, maka akan lebih mudah membangun infrastrukturnya karena tentu saja akan terus dibutuhkan sepanjang waktu.

"Kalau komersial sudah ditentukan perusahaan, baik minibus atau van angkut barang. Misalnya kamu (menyasar fleet market) atau cover daerah Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan lainnya. Kita bisa pasang pool dia. Misalnya dari gudang ke Tanah Abang, kita pasang di situ infrastrukturnya," ujar Rifin.

 

3 dari 5 Halaman

Potensi Besar Elektrifikasi Kendaraan Niaga

DFSK Gelora E (DFSK)

Masuknya DFSK Gelora E di kelas kendaraan niaga ringan bisa jadi akan memicu elektrifikasi yang berkelanjutan. Tidak bisa dipungkiri lahirnya mobil listrik memang memiliki banyak benefit, khususnya dalam operasional usaha.

Sebagai contoh, DFSK Gelora E yang memiliki baterai berkapasitas 42 kWh mampu menjelajah jarak 300 Km dalam satu kali catu daya, berdasarkan NEDC (New European Driving Cycle).

DFSK mengklaim Gelora E hanya butuh Rp 200 setiap kilometernya.

Bila sebuah mobil dengan konsumsi bahan bakar 1:10 diisi Pertalite berharga Rp 7 ribu, maka setidaknya masih membutuhkan Rp 700an per kilometer. Artinya, mobil listrik bisa menekan pengeluaran untuk BBM hingga 1/3.

Tanpa mesin kombusi, mobil listrik juga memiliki perawatan yang lebih simpel. DFSK bahkan menyebut biaya maintenance Gelora E lebih hemat 30 persen, kalau dibandingkan mobil berbahan bakar fosil.

"Karena tidak ada mesin dan hanya baterai, biaya perawatannya juga lebih hemat 30 persen dibandingkan mobil niaga ringan bermesin konvensional," sebut Wang.

Hal itu menurutnya karena komposisi mobil listrik tidak lagi serumit kendaraan konvensional.

"Tidak perlu bahan bakar, tidak perlu ganti oli. Oli mesin, oli tansmisi tidak perlu diganti setiap 10.000 km misalnya. Terus tidak ada perawatan karena tidak ada pembakaran," rinci Wang.

Pun bicara soal tenaga, Gelora E dipersenjatai dengan dapur pacu Permanent Magnet Synchronous Motor yang punya torsi super besar hingga 200 Nm. Khas mobil listrik yang punya hentakan awal sangat kuat. Namun tenaganya juga diklaim mencapai 80 hp/9.000 rpm.

Masalah baterai kini jadi lebih canggih dan minim masalah. Seperti kepunyaan Gelora E yang memiliki standar IP67 untuk menjaganya tetap aman dan tahan dalam situasi ekstrem. Standar IP67 sendiri memberikan jaminan ketahanan terhadap debu dan air, selain perlindungan isolasi, tegangan tinggi dan perlindungan baterai ketat.

4 dari 5 Halaman

Didukung Tarif Listrik yang Murah

DFSK Gelora E (DFSK)

Selain dari unit kendaraannya yang ramah energi, tarif listrik untuk kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) atau kendaraan listrik di Indonesia disebut yang termurah setelah China.

Tarif Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) mengacu pada tarif khusus yakni Rp 1.644 - Rp 2.466 per kWh.

"Tarif di Indonesia ini lebih murah dari negara di dunia ini menggunakan tarif layanan khusus. Hanya China yang lebih rendah (harganya) dari Indonesia," kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, dalam Konferensi Pers dan Pameran Virtual Grab #LangkahHijau, Jakarta, Kamis, (22/4/2021).

Arifin turut mengatakan bila dibandingkan dengan bahan bakar konvensional, penggunaan listrik sebagai bahan bakar lebih hemat. Bahkan dia menyebut bisa lebih irit sampai 4 kali lipat.

"Jika dibandingkan dengan (bahan bakar) konvensional, KBLBB ini lebih hemat 4 kali," kata dia.

5 dari 5 Halaman

Bidang Usaha untuk Mobil Listrik Niaga

Kargo DFSK Gelora E (DFSK)

Menteri Perhubungan Republik Indonesia Budi Karya Sumadi sempat mampir untuk melihat-lihat DFSK Gelora E. Menurutnya, mobil ini sangat cocok untuk armada feeder bus.

"Kendaraan ini cocok untuk feeder busshuttle bus bandara dan stasiun kereta api. Kendaraan ini juga bisa di pakai di kota-kota lain di Indonesia," ujar Budi Karya Sumadi dalam siaran pers DFSK.

Pada kesempatan yang lain, Wang membenarkan untuk saat ini sektor-sektor logistiklah yang paling menjanjikan.

"Paling ideal untuk perusahaan logistik, karena dari warehouse, gudangnya atau pabriknya, ke mall, ke Tanah Abang. Infrastrukturnya kita pasangnya lebih gampang," tutur Wang sembari menerangkan berbagai contoh perhitungan pembangunan terminal pengisian daya baterai.

Dengan demikian, posisi DFSK Gelora E sebagai mobil listrik niaga pertama bisa jadi jawaban masa depan elektrifikasi di segmen tersebut. Tidak menutup kemungkinan kehadirannya akan memicu lahirnya model-model kendaraan listrik niaga lain yang lebih canggih, lebih irit atau punya daya tampung lebih besar. Terlebih seiring berjalannya waktu, Indonesia makin siap dengan era kendaraan listriknya.

BERI KOMENTAR