HOME » BERITA » DFSK GELORA E, MOBIL NIAGA ELEKTRIK YANG PALING BISA BIKIN CUAN

DFSK Gelora E, Mobil Niaga Elektrik yang Paling Bisa Bikin Cuan

Hadirnya DFSK Gelora E seolah menantang arus dan berdiri tegak di tengah derasnya laju pasar mobil niaga Tanah Air yang riuh dihuni oleh mobil bermesin konvensional.

Senin, 25 April 2022 17:00 Editor : Nurrohman Sidiq
DFSK Gelora E, Mobil Niaga Elektrik yang Paling Bisa Bikin Cuan
DFSK Gelora E di IIMS Hybrid 2021 (Nazar Ray)

OTOSIA.COM - Pasti irit dan bikin cuan? Itulah pertanyaan yang terbesit di pikiran ketika pertama kali Otosia.com menyaksikan peluncuran DFSK Gelora E pada hari pertama IIMS Hybrid 2021 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (15/4/2021).

Bukan tanpa alasan, mobil berbadan bongsor ini merupakan pioner atau bisa dibilang yang pertama memasuki segmen Light Commercial Electric Vehicle. Ya, ini adalah mobil niaga ringan tapi bermesin full elektrik. Unik bukan?

DFSK seolah menantang arus dan berdiri tegak di tengah derasnya laju pasar mobil niaga Tanah Air yang riuh dihuni oleh mobil berbahan bakar fosil.

Franz Wang, Managing Director PT Sokonindo Automobile, tidak menampik bahwa mereka sedang getol menyasar sektor usaha terutama logistik, jasa pengiriman/kurir dengan menawarkan sejumlah benefit secara keuangan yang bisa dirasakan langsung.

SPG dan DFSK Gelora E (Nazar Ray)

Di sisi lain, ternyata ada peluang besar yang sebenarnya cukup menjanjikan dilirik dari kacamata bisnis.

Rifin Tanuwijaya, Sales And Marketing Director PT Sokonindo Automobile, menyebut pasar niaga punya cakupan infrastruktur yang lebih predictable ketimbang moda kendaraan lainnya. Hal ini tentu saja terkait dengan belum matangnya sarana dan prasarana kendaraan listrik di Tanah Air.

Rifin mencontohkan, ketika pengguna mobil sudah jelas lokasinya, maka akan lebih mudah membangun infrastruktur yang dibutuhkan karena tentu saja akan terus dibutuhkan sepanjang waktu.

DFSK Gelora E (DFSK)

"Kalau komersial sudah ditentukan perusahaan, baik minibus atau van angkut barang. Misalnya kamu (menyasar fleet market) atau cover daerah Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan lainnya. Kita bisa pasang pool dia. Misalnya dari gudang ke Tanah Abang, kita pasang di situ infrastrukturnya," ujar Rifin.

Mengingat targetnya yang jelas, lantas seberapa tangguh atau setidaknya apa saja unique selling pointsDFSK Gelora E untuk bermain di kelas niaga ringan?

1 dari 12 Halaman

Persaingan Mobil Niaga Ringan

DFSK Gelora E (DFSK)

Bicara persaingan, rasanya kurang pantas menyamaratakan DFSK Gelora E dengan minibus atau blind van sekelas Daihatsu Grand Max, Suzuki Carry Van, Wuling Formo, Daihatsu Luxio atau APV Arena Blind Van.

Varian-varian tersebut lebih cocok diadu dengan DFSK Gelora (non-elektrik), karena memang berada di zona yang sama dan masih menggunakan mesin pembakaran internal atau Internal Combustion Engine (ICE). Pun dari segi harga, Gelora non elektrik berada di angka Rp 169 juta yang cukup kompetitif dengan merek-merek di atas.

Itu artinya, DFSK Gelora E merupakan sub-segmen baru yang belum ada pesaingnya di Indonesia, meski sebenarnya masih berada dalam kategori kendaraan niaga ringan.

 

2 dari 12 Halaman

Kriteria Mobil Niaga yang Bikin Cuan

Kargo DFSK Gelora E (DFSK)

Sebelum beranjak membahas kemampuan DFSK Gelora E, penting untuk terlebih dahulu memahami kriteria mobil niaga ringan yang benar-benar dicari oleh dunia usaha Indonesia.

Erdhy Eriska, salah satu pegiat usaha travel bernama Hai Holiday yang beroperasi di Kota Malang, memberikan beberapa syarat mobil yang paling cocok untuk berniaga.

"Pertama, kendaraan harus bermesin tangguh dan rendah konsumsi bahan bakarnya. Contohnya saja mesin diesel. Kalau mesin bensin sekelas MPV 7-seater misalkan Toyota Avanza, Daihatsu Xenia, atau bahkan Calya rasanya kayak kurang greget," ungkap Erdhy.


Kriteria selanjutnya, menurut Erdhy, ialah perawatan mesin yang tentu saja nantinya akan berpengaruh terhadap biaya operasional.


"Yang kedua itu perawatan berkala yang mudah dan murah. Soalnya mobil niaga itu kan mobilitasnya sangat tinggi, jadi perlu mendukung operasional," ucapnya lagi.

Ia menekankan juga untuk faktor kenyamanan, terutama bila mobil digunakan untuk usaha travel seperti dirinya. Baginya kenyamanan merupakan poin mutlak agar penumpang betah selama di perjalanan.

"Ketiga, kenyamanan. Faktor kenyamanan kendaraan merupakan faktor terpenting dalam jasa travel. Kendaraan yang dipakai tidak limbung, suspensi nyaman, ac dingin dan fasilitas di dalam kendaraan lengkap yang bikin penumpang betah saat di jalan," tegasnya.

Terakhir, tentu saja soal kapasitasnya yang besar. Dimensi sangat penting untuk menentukan jumlah penumpang yang ia bawa. Semakin besar kapasitas penumpang, ruang atau daya angkutnya, pastinya bikin usaha makin cuan!

"Tapi jangan lupa lho kapasitas itu penting. Nggak cuma kapasitas nggankut barang aja, tapi kalau peruntukannya untuk penumpang, ya makin besar daya angkutnya berarti makin cuan dong," tutupnya.

Wawancara singkat ini pun berujung pada kesimpulan bahwa kriteria mobil niaga yang paling dicari antara lain, bermesin tangguh, hemat bahan bakar, ringan dalam hal perawatan, nyaman dikendarai dan punya daya angkut besar.

Nah, apakah DFSK Gelora E mampu memenuhi kriteria tersebut?

3 dari 12 Halaman

Efisiensi Bahan Bakar

Baterai DFSK Gelora E (DFSK)

DFSK Gelora E menggunakan mesin Permanent Magnet Synchronous Motor dengan baterai berkapasitas 42 kWh.

Dalam sekali charge sampai penuh, mobil dapat menempuh perjalanan sampai 300 Km berdasarkan NEDC (New European Driving Cycle). Konsumsi energinya hanya 14,5 kWh/100 Km.

Artinya, kira-kira mobil bisa dipakai menjelajah Jakarta-Bandung pulang-pergi hanya dalam sekali catu daya. Biayanya pun sangat murah, DFSK mengklaim Gelora E hanya butuh sekitar Rp 200 per kilometer.

Kalau dibandingkan dengan kendaraan konvensional, klaim itu pastinya lebih irit. Sebagai asumsi, sebuah mobil berbahan bakar bensin memiliki konsumsi bahan bakar minyak (BBM) 1:10 dan diisi Pertalite dengan harga Rp 7 ribu. Maka, setiap satu kilometer mobil itu tentu masih menghabiskan Rp 700an.

Dengan begitu biaya operasional Gelora E bisa jadi lebih rendah hingga 1/3 dibandingkan kendaraan komersial konvensional.

 

4 dari 12 Halaman

Perawatan Jauh Lebih Murah

SPG dengan DFSK Gelora E (Nazar Ray)

Konsep mesin listrik memang tidak serumit mobil konvensional yang mengharuskan banyak part untuk pembakaran.

"Tidak perlu bahan bakar, tidak perlu ganti oli. Oli mesin, oli tansmisi tidak perlu diganti setiap 10.000 km misalnya. Terus tidak ada perawatan karena tidak ada pembakaran," rinci Wang.


Dari situlah, DFSK mengklaim adanya mobil listrik seperti Gelora E merupakan solusi meringankan biaya perawatan.


"Karena tidak ada mesin dan hanya baterai, biaya perawatannya juga lebih hemat 30 persen dibandingkan mobil niaga ringan bermesin konvensional," tambahnya.

 

5 dari 12 Halaman

Paling Lega di Kelasnya

Kabin DFSK Gelora E (DFSK)

Kriteria kendaraan yang bikin cuan berikutnya didasarkan pada daya tampung yang muat mengangkut banyak barang atau orang. DFSK Gelora E memiliki dimensi 4.500 mm (panjang) x 1.680 mm (lebar) x 2.000 mm (tinggi). Ukuran tersebut lebih bongsor ketimbang Daihatsu Gran Max yang memiliki dimensi 4.045 mm (panjang) x 1.665 mm (lebar) x 1.900 mm (tinggi).

Bila pun dihadapkan dengan Wuling Formo yang juga terkenal berdimensi besar dengan 4.493 mm (panjang) x 1.691 mm (lebar) x 1.751 mm (tinggi), DFSK Gelora E masih juga lebih unggul.

Urusan daya tampung, DFSK membagi Gelora E dalam dua varian yakni Minibus dan Blind Van.

Daya Tampung DFSK Gelora E (DFSK)

Varian minibus diperuntukkan untuk menampung tujuh orang penumpang, yang sedikit akan merasa lebih nyaman dengan kelonggaran dimensinya. Sedangkan varian Blind Van punya panjang kabin 12,63 meter atau luas 4,8 meter kubik sebagai ruang kargo yang ekstra lapang.

6 dari 12 Halaman

Sektor Dapur Pacu

Charging Station DFSK Gelora E (Nazar Ray)

Kelebihan mesin listrik bisa sangat terasa dari suaranya yang senyap. Jelas beda jauh dengan mobil pembakaran internal. Di satu sisi lain, torsi mobil ini memang unggulan.

Ketika Tim Otosia melakukan test drive DFSK Gelora E, torsinya terasa menjambak.

Di atas kertas, mobil ini terbilang cukup powerful dengan torsi bawah 80 Nm dan puncaknya 200 Nm. Dibandingkan Gelora (non-elektrik) yang hanya memiliki 140 Nm, Gelora E lebih kerasa hentakannya. Belum lagi maksimum powernya yang mencapai 80 hp/9.000 rpm.

"Mengapa torsinya lebih gede (dibandingkan mobil konvensional)? Karena penggeraknya tadi langsung ke differential di belakangnya. Jadi tidak melalui transmisi lagi," jelas Wang.

7 dari 12 Halaman

Punya Fitur-fitur Modern

8 Inch Head Unit DFSK Gelora E (DFSK)

Sebagai mobil angkut barang memang tidak banyak varian yang menyajikan interior mewah. Apalagi bila tujuannya untuk armada fleet.

DFSK Gelora E menghadirkan konsep berbeda dengan menyajikan interior yang punya kesan modern. Setidaknya mobil ini sudah menggunakan power window, sehingga tidak perlu lagi memutar tuas jendela.

Meter cluster juga sudah dilengkapi MID ditambah fitur pelepas bosan berupa head unit berukuran 8 inch touchscreen.

Knob Transmisi DFSK Gelora E (DFSK)

Uniknya lagi, sistem transmisinya tidak lagi menggunakan tuas melainkan kenop layaknya mobil-mobil premium. Ada 4 pilihan mode berkendara, antara lain R (mundur), N (netral), D (drive/berkendara) dan E (Eco Driving).

8 dari 12 Halaman

Fitur keselamatan

Brosur tentang Fitur Keselamatan DFSK Gelora E (DFSK)

Bukan hanya soal mesin dan dimensinya yang unggul, DFSK turut menyajikan fitur keselamatan berupa ABS dan EBD. Fitur ini dapat membantu sopir ketika harus melakukan pengereman darurat.

Pun ketika mobil mengalami bahaya dan kecelakaan tidak terhindarkan, DFSK menjamin Gelora E dengan Double Anti Collision. Ini merupakan sistem keamanan bertingkat yang dirancang pada bodi depan untuk mengurangi impact ketika mengalami benturan.

Untuk kamera standarnya, DFSK sudah membenamkan sensor parkir dan kamera mundur.

9 dari 12 Halaman

Bisa Isi Baterai di Rumah

Charging DFSK Gelora E (DFSK)

Layaknya sebuah telepon selular, DFSK Gelora E bisa diisi dayanya dengan listrik rumah tangga berata-rata 220V 16A. Charging port-nya ada di bagian logo DFSK depan yang menyatu dengan grill. Pengisian dari 0-100 persen membutuhkan waktu sekitar 8 jam.

Kalau mau lebih cepat sebenarnya ada fitur Quick Charging. Port pengisiannya terletak di samping kanan bawah pintu kemudi. Quick charging akan aktif mengisi mulai dari 20-80 persen dalam waktu 80 menit atau cukup 2,5 jam untuk pengisian 0-100 persen.

Hanya saja, Quick Charging membutuhkan stasiun pengisian baterai tersendiri.

Urusan baterai, DFSK mengklaim telah memberikan standar IP67 untuk menjaga baterai tetap aman dan tahan dalam kondisi ekstrem. Standar IP67 sendiri memberikan jaminan ketahanan terhadap debu dan air, selain perlindungan isolasi, tegangan tinggi dan perlindungan baterai ketat.

10 dari 12 Halaman

Konsentrasi Harga

Banderolan harga DFSK Gelora E berada di atas rata-rata pemain lama di kelas kendaraan niaga ringan konvensional. Alasannya masuk akal, mobil ini masih bestatus CBU (Completely Built Up) yang seluruhnya diimpor dari China.

Untuk pembeliannya, DFSK membuka keran pre-order dengan banderol harga berkisar antara Rp 510 juta hingga Rp 520 juta untuk Gelora E Minibus, dan Rp 480 juta hingga Rp 490 juta untuk versi Blind Van. Tawaran harga itu berlaku selama gelaran IIMS 2021 dari 15-25 April 2021.

Tidak hanya itu saja, permasalahan baterai pun jadi dilema mengapa Gelora E belum bisa dibanderol setara mobil pembakaran internal.

"Nah baterai ini yang paling mahal, 50 persen harga mobil listrik, misalnya Rp 500 juta Gelora E, itu 50 persennya baterai," terang Wang.


Lebih jauh, Wang berharap pemerintah bisa memberikan insentif lagi bagi kendaraan listrik seperti Gelora E agar ekosistem mobil listrik terus berkembang di Tanah Air.

"Memang ada insentif dari pemerintah, tapi masih jauh dari harapan. Misalnya insentif pemerintah itu hanya BBNKB Jakarta nol itu (yang 10 persen tiap tahunnya). Kemudian cuma bebas free parking beberapa area pemerintahan atau di mall. Beda kalau misal di Eropa. Di China sendiri, baterainya disubsidi pemerintah. Otomatis harga mobil gasoline dan listrik sama, sehingga orang lebih milih listrik", ungkapnya.

11 dari 12 Halaman

Kecocokan dengan Bidang Usaha Indonesia

SPG dengan DFSK Gelora E (Nazar Ray)

DFSK Gelora E berani ambil start paling awal dan unjuk gigi lebih dulu di kelas Light Commercial Electric Vehicle. Meski support system infrastruktur di Indonesia belum cukup siap, setidaknya mereka sudah berani berkomitmen.


"DFSK siap melaju memasuki era kendaraan listrik di Indonesia, secara aktif mengikuti seruan pemerintah dalam pengembangan kendaraan listrik dan membawa produk kendaraan listrik yang baik ke pasar Indonesia. DFSK akan berperan aktif dalam perlindungan lingkungan dan mendorong roda perekonomian negara melalui kendaraan yang kami produksi," ungkap CEO PT Sokonindo Automobile, Alexander Barus, Kamis (15/4/2021).

Keberanian ini pun diapresiasi oleh Menteri Perhubungan Republik Indonesia Budi Karya Sumadi. Ia menyebut, DFSK Gelora E sangat cocok untuk armada feeder bus.

"Kendaraan ini cocok untuk feeder bus, shuttle bus bandara dan stasiun kereta api. Kendaraan ini juga bisa di pakai di kota-kota lain di Indonesia," ujar Budi Karya Sumadi dalam siaran pers DFSK.

Menurut dia, DFSK Gelora E bisa berkontribusi bagi perekonomian Indonesia karena cocok untuk berbagai jenis usaha, mulai dari logistik hingga kargo.

"Paling ideal untuk perusahaan logistik, karena dari warehouse, gudangnya atau pabriknya, ke mall, ke Tanah Abang. Infrastrukturnya kita pasangnya lebih gampang," tutur Wang sembari menerangkan berbagai contoh perhitungan pembangunan terminal pengisian daya baterai.

Meski demikian, sesuai pasar yang ditarget DFSK, Gelora E juga masih cocok untuk personal. Apalagi charging dayanya bisa menggunakan listrik rumah tangga.

12 dari 12 Halaman

Spesifikasi Komplet DFSK Gelora E

Semua informasi terkait spesifikasi dan keunggulan DSFK Gelora E, dapat kamu cek di bawah ini:

BERI KOMENTAR