HOME » BERITA » E-TOLL GANTI ETC PASTI MAKAN BUDGET, TAPI ADA UNTUNGNYA

E-Toll Ganti ETC Pasti Makan Budget, tapi Ada Untungnya

Namun jika ETC diterapkan di Indonesia, sudah pasti negara harus mengeluarkan biaya besar di samping edukasi lagi kepada pengelola dan tentunya kepada masyarakat selaku pengguna.

Minggu, 01 April 2018 14:00 Editor : Nurrohman Sidiq
Foto by maaconsultants.com

OTOSIA.COM - Wacana ETC atau electronic toll collection diutarakan oleh Asosiasi Pengusaha Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (Aptiknas) di tengah polemik e-toll yang masih bikin akses ke tol terhambat.

ETC sendiri memungkinkan mobil untuk melaju saja saat memanfaatkan jalan tol. Pasalnya, jika sudah terdaftar, mobil cukup melaju saja melalui gerbang berkamera sistem ETC dan selanjutnya tinggal terima rekening tagihan atau cara lainnya.

Namun jika ETC diterapkan di Indonesia, sudah pasti negara harus mengeluarkan biaya besar di samping edukasi lagi kepada pengelola dan tentunya kepada masyarakat selaku pengguna.

"Memang untuk mengubah suatu sistem, tidak mudah. Butuh biaya juga. Butuh kebijakan. Namun, ini memang dibutuhkan karena kalau kita macet, kan yang habis itu waktu yang tidak bisa kita beli," kata Ketua Umum Aptiknas Soegiharto Santoso.

Kerugian lain yang akan terus dirasakan jika problem e-toll yang ada sekarang ini tidak diatasi adalah pemborosan terhadap subsidi bahan bakar minyak (BBM).

"Juga bahan bakar karena kan pemerintah subsidi, dibakar di jalanan karena kemacetan lalu lintas yang luar biasa. Menurut data, 58 persen habis di jalan," kata dia.

Persoalan yang diibaratkan harus keluar modal besar, tetapi hasilnya akan berpengaruh jangka panjang memang saat ini masih menjadi bahasan banyak orang.

Soegiharto Santoso sendiri menilai hal ini tak ubahnya ketika pemerintahan Presiden Jokowi membangun infrastruktur di Indonesia.

"Lihat di NTT, Papua, jadi jalanan. Itu benar-benar jadi jalanan loh. Berapa biayanya? Besar memang. Namun menurut saya Pak Jokowi cerdas. Kalau tidak diberesin, biaya transportasinya, itu lebih mahal. Di Jakarta macet LRT, MRT, itu sekarang. Namun, nantinya lebih ekonomis," kata dia.

(kpl/why/sdi)

BERI KOMENTAR