HOME » BERITA » EFEK SAMPING SALAH BELI ATAU COBA-COBA PRODUKSI BUSI PALSU

Efek Samping Salah Beli atau Coba-coba Produksi Busi Palsu

Busi palsu memang tidak mudah dikenali karena tampilannya yang nyaris serupa dengan aslinya. Meski demikian, sebenarnya ada beberapa cara untuk membedakannya.

Jum'at, 09 Juli 2021 09:45 Editor : Nurrohman Sidiq
Efek Samping Salah Beli atau Coba-coba Produksi Busi Palsu
Bermacam busi palsu (Diko Oktaviano)

OTOSIA.COM - Entah sadar atau tidak, busi palsu banyak beredar di pasaran. Konsumen yang tidak jeli bisa saja tertipu dengan penampakan luarnya yang nyaris identik dengan busi orisinal.

Diko Oktaviano, Technical Support NGK Busi Indonesia, menyebut bisnis busi palsu cukup menggiurkan karena marginkeuntungan yang tinggi. Itulah mengapa peredaran busi palsu menjamur dan semakin berani mengikuti pasaran busi asli.

"Bisnis ini menggiurkan. Gimana enggak, harga beli busi palsu untuk tipe nikel mereka dapat dengan harga murah. Lalu mereka bisa menjualanya lagi dengan keuntungan besar. Bahkan harga jualnya dibuat sama dengan harga busi asli," terang Diko.

Menurut Diko, busi yang paling sering dipalsukan berjenis nikel, sebagian tipe laser LZKAR6AP11 seperti yang digunakan oleh merek Nissan dan laser iridium berkode IZFR6K-13 yang kerap dipakai mobil Honda.

1 dari 4 Halaman

Pemicu Peredaran Busi Palsu

Kemasan busi palsu di bawah dengan tanda silang (Diko Oktaviano)

Peredaran busi palsu bukan hanya dipicu oleh iming-iming profit tinggi, tapi juga akses mendapatkan busi bekas atau sampah busi yang relatif mudah.

Busi bekas tergolong dalam sampah anorganik yang aman meski dibuang ke tempat sampah. Selain itu, sampah busi bisa bernilai ekonomi untuk dijual kembali sebagai barang bekas.

Sampah busi yang masih utuh secara fisik rupanya berpotensi dimanfaatkan ulang, contohnya saja dijual sebagai busi seken atau dipalsukan menjadi barang baru.

Seperti pernyataan Yudi Susanto, Manager HSE (Health, Safety and Environment) PT NGK Busi Indonesia. Menurutnya, konsumen yang mengumpulkan busi untuk dijual kembali perlu mengecek pihak ketiga sebgai pengepulnya.

"Ini dilakukan karena ingin menjaga kualitas busi NGK, dikhawatirkan jika dibuang ke pihak ke 3 yang tidak jelas akan dimanfaatkan menjadi produk busi palsu dan hal itu akan merugikan kualitas produk NGK," ujar Yudi.

2 dari 4 Halaman

Antispasi dari Pihak Pemilik Merek

Busi berbahan logam mulia platinum NGK G-Power (Otosia.com/Nazar Ray)

PT NGK Busi Indonesia sebagai produsen sekaligus pemasar merek NGK pun sudah mengantisipasi peredaran busi palsu di pasaran, mulai dari hulu hingga hilir.

Dari sisi limbah produksi yang terdiri dari busi-busi NG (No Good) atau reject, semuanya diolah secara profesional oleh pihak ketiga sehingga tidak akan bisa dimanfaatkan lagi atau pun berpotensi merusak lingkungan.

"Untuk limbah busi skala besar seperti busi NG/reject yang dihasilkan NGK sendiri, tetap kami kirimkan dan diolah oleh pihak ke 3 yaitu pengolah limbah yang memiliki izin dari pemerintah tapi tetap menjadi limbah Non-B3," urai Yudi.

Sedangkan ketika busi sudah di tangan konsumen, pihak NGK Indonesia terus melakukan pengawasan dan edukasi kepada masyarakat.

Diko mengakui bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam ketika mengetahui peredaran busi palsu yang mengancam NGK.

"NGK punya lawyer perusahaan yang ditunjuk NGK Jepang yang akan me-review dan merekomendasikan setiap pelanggaran hukum yang terjadi di masyarakat," ujar Diko.

Ia menambahkan setiap pelanggaran yang berkaitan dengan produk NGK tentu memiliki nilai hukum yang bisa saja berujung pada sanksi.

"Tentunya akan ada tindakan hukum entah itu penutupan, sangsi administratif atau lainnya. Pastinya sih semua koordinasi dulu dengan Lawyer NGK untuk ngelakuin tindakannya," imbuhnya.

Selain itu, pihak NGK Indonesia juga kerap memberikan edukasi tentang pentingnya merusak kertas pembungkus dan elektroda busi sebelum membuangnya. Ini merupakan trik yang paling efektif karena tentunya busi bekas tidak lagi bisa dipakai untuk kendaraan.

"Sebisa mungkin busi yang sudah dipakai harus dirusak biar enggak ada kegiatan daur ulang dengan cara di cuci lagi trus dijual dengan harga murah. Kasus seperti ini sering kita temuin di bengkel-bengkel pinggiran yang menjual busi NGK cucian atau busi bekas

3 dari 4 Halaman

Efek Penggunaan Busi Palsu

Bermacam busi palsu (Diko Oktaviano)

Busi palsu bukan saja punya umur lebih pendek, tapi juga berpengaruh ke pengapian mesin sehingga menurunkan tenaga, menghambat proses start atau bikin konsumsi bahan bakar makin boros.

Dalam beberapa kasus, busi palsu bahkan memicu overheat yang ditandai dengan melelehnya elektroda busi yang rentan merusak ruang bakar serta piston.

"Kalo efeknya sudah banyak komentar dari para pengguna kendaraan yang ngerasain mulai dari busi cepet rusak, mesin bermasalah, pengapian gak normal bahkan ada yang sampai elektroda meleleh sehingga bikin turun mesin. Ini sangat beresiko," tegas Diko.

Selain itu, lelehan material akibat pembakaran yang tidak sempurna bepotensi menimbulkan efek domino, seperti timbulnya residu di dalam silinder mesin.

Sisa-sisa lelehan material yang tidak habis terbakar itu akan memunculkan spot api baru atau diebut dengan surface ignition. Hal itu disebabkan oleh bara material yang masih menyala di ruang bakar sebelum busi memercikkan listrik untuk menghasilkan api.

4 dari 4 Halaman

Caram Bedakan Busi Asli dan Palsu

Busi-busi yang tidak jelas kualitas dan produsennya (Diko Oktaviano)

Busi palsu memang tidak mudah dikenali karena tampilannya yang nyaris serupa dengan aslinya. Meski demikian, sebenarnya ada beberapa cara untuk membedakannya.

Pertama, pastinya dari segi harga yang terkadang tidak masuk akal. Busi asli untuk tipe laser platinum dijual di kisaran Rp 160.000 per unit, sedangkan yang palsu cuma Rp 60.000.

"Kalau tokonya enggak ambil untung banyak, bisa kita bedain. Tapi ada toko yang nakal. Mereka modal Rp 60.000 dijual cuma beda 10 persen dari harga asli," tukas Diko.

Biasanya, kata Diko, barang palsu ini menyerupai busi asli buatan negara lain. Seolah-olah mereka impor.

"Logika saja harga jual busi laser Rp 160.000, lalu ada yang jual Rp 60.000. Harga modalnya saja tidak sampai. Memangnya impor tidak pakai biaya masuk juga?" ujarnya.

Cara lainnya ialah mengidentifikasi fisik busi itu sendiri, antara lain informasi kode produksi, embos logo dan gasket ring yang bisa dilepas.

Dia mencontohkan, logo pada busi asli NGK dicetak tebal dan sempurna, metal shell tertera kode produksi pada hexagon, ring gasket tidak dapat dilepas tanpa bantuan alat, elektroda memiliki tingkat kerapihan dan presisi tinggi.

Sebaliknya, untuk busi palsu, logo busi berbahan sticker dan mudah terkelupas, metal shell tanpa kode produksi pada hexagon, ring gasket mudah dilepas dengan putaran tangan, elektroda bentuk tidak rapih dan presisi.

Pada busi asli, part number tercetak rapi dan teratur, sedangkan busi palsu tulisannya hitam, tebal dan posisinya tidak rapi.

Selain itu bisa dilihat dari terminal nut-nya. Kalau ulir pada busi asli itu lebih halus dan teratur. Kalau yang palsu akan terlihat kasar dan tidak tertata dengan baik.

Kemasan busi palsu pun disebut berbeda. Hal itu umumnya bisa diidentifikasi untuk kardus pembungkus busi nikel.

"Untungnya yang kelas nikel ini bungkusnya masih bisa diidentifikasi. Dia (busi palsu) pakai motif bungkus tahun 2013 ke bawah. Makanya kita ganti motif bungkusannya," ujarnya.

Busi palsu yang mudah diidentifikasi secara fisik menurut Diko biasanya berasal dari industri rumahan. Sedangkan busi imitasi yang sulit dibedakan secara fisik biasanya berasal dari industri yang lebih mapan.

"Ini biasanya kelas pemalsu ecek-ecek. Bisa diidentifikasi dari fisik. Kita sudah banyak melayani tipe busi palsu, dari KW sampai busi palsu yang susah dibedakan secara fisik. Penyebarannya semua bermula dari negara yang terkenal dengan produk home industrinya ya," pungkasnya.

Agar terhindar dari busi palsu, Diko menyarankan untuk selalu memerhatikan tempat membelinya agar tidak sampai tertipu oleh pedagang nakal.

"Nah saran kami sih untuk selalu beli busi dari sumber distributor yang terpercaya dan yang sudah ditunjuk oleh NGK agar terjamin kualitasnya. Kalau masih ragu silakan berkomunikasi dengan pihak NGK baik secara online maupun offline. Banyak kok kita buka hotline komunikasi di sosial media atau dari website," tutup Diko.

BERI KOMENTAR