HOME » BERITA » FAKTOR INI JADI BATU SANDUNGAN KEHADIRAN MOTOR LISTRIK

Faktor Ini jadi Batu Sandungan Kehadiran Motor Listrik

Motor listrik memang berbeda dengan kendaraan konvensional. Selain bahan bakarnya, motor listrik ini sebenarnya tak bising, malah senyap tanpa suara.

Rabu, 20 Februari 2019 16:45 Editor : Dini Arining Tyas
Presiden RI Joko Widodo saat mencoba mengendarai sepeda motor listrik buatan Indonesia, Gesits (7/11/2018) (Liputan6.com/Angga Yuniar)

OTOSIA.COM - Motor listrik memang berbeda dengan kendaraan konvensional. Selain bahan bakarnya, motor listrik ini sebenarnya tak bising, malah senyap tanpa suara.

Motor listrik yang senyap itu seolah bisa mengurangi polusi suara. Namun sayangnya, keabsenan suara khas kendaraan itu justru bisa memicu masalah baru.

Sebab, para pejalan kaki susah untuk menyadari kehadiran kendaraan jika tak ada suara. Karena sangat senyap, motor listrik menjadi tidak aman. Maka itu, ada aturan regulasi yang dikeluarkan juga oleh PBB, tentang adanya suara minimalnya.

Apalagi jika sepeda motor listrik dilajukan dalam kecepatan tinggi. Bukan tak mungkin bisa memicu kecelakaan.

"Saat membahas keselamatan maupun kelancaran maka kecepatan kembali menjadi basis pemikiran untuk mengatasi perlambatan maupun pencegahan untuk menurunkan tingkat fatalitas korban kecelakaan dan meningkatkan kualitas keselamatan," ujar Direktur Keamanan dan Keselamatan Korlantas Polri, Brigjen Pol Chryshnanda Dwilaksana, dalam keterangan resminya, Selasa (19/2/2019), seperti dikutip dari Liputan6.com.

lanjut Chryshnanda, sebelum peredaran motor listrik belum masiv, sebaiknya pengkategorian pengaturan kendaraan bermotor tak lagi berbasis kapasitas mesin (cc), melainkan berbasis kecepatan.

"Mengapa pengaturan pada kecepatan? Tatkala standar jarak tempuh dengan waktu tempuh bisa dibuat maka yang dilakukan adalah me-manage kecepatan. Kecepatan ini juga perlu diatur standar minimal dan maksimalnya," lanjutnya.

Menurutnya, kendaraan dengan laju kecepatan 30 kpj saja sudah bisa membuat orang yang tertabrak meninggal.

"Mengendarai kendaraan yang mampu dioperasionalkan dengan kecepatan tinggi ini dibutuhkan kompetensi tertentu untuk menjaga keselamatan bagi dirinya maupun orang lain," tandasnya.

Sumber: Liputan6.com

(kpl/tys)

BERI KOMENTAR