HOME » BERITA » GENJOT ELEKTRIKFIKASI, PEMERINTAH FOKUS BANGUN EKOSISTEM KENDARAAN LISTIK

Genjot Elektrikfikasi, Pemerintah Fokus Bangun Ekosistem Kendaraan Listik

Pemerintah fokus menciptakan ekosistem pengembangan kendaraan listrik dengan melibatkan para pemangku kepentingan yang meliputi industri otomotif, produsen baterai, dan konsumen.

Senin, 18 Oktober 2021 08:15 Editor : Nazarudin Ray
Genjot Elektrikfikasi, Pemerintah Fokus Bangun Ekosistem Kendaraan Listik
Ilustrasi Mitsubishi MiEV (Otosia.com/Nazar Ray)

OTOSIA.COM - Pemerintah telah menetapkan peta jalan (roadmap) pengembangan industri Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) melalui Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 27Tahun 2020 tentang Spesifikasi Teknis, Roadmap EV dan Perhitungan Tingkat Kandungan Lokal Dalam Negeri (TKDN).

Regulasi tersebut berfungsi sebagai petunjuk atau penjelasan bagi stakeholder industri otomotif terkait strategi, kebijakan dan program dalam rangka mencapai target Indonesia sebagai basis produksi dan ekspor hub kendaraan listrik.

1 dari 6 Halaman

Menurut Agus Gumiwang, Menteri Perindustrian RI, untuk menciptakan ekosistem dalam pengembangan kendaraan listrik, diperlukan keterlibatan dari para pemangku kepentingan yang meliputi industri otomotif, produsen baterai, dan konsumen.

Dalam pengembangan Battery Electric Vehicle (BEV), lanjut Agus, memerlukan kegiatan pilot project serta ketersediaan infrastruktur seperti charging station

2 dari 6 Halaman

Target dan insentif

Pemerintah menargetkan produksi BEV pada tahun 2030 dapat mencapai 600 ribu unit untuk roda 4 atau lebih, serta 2,45 juta unit untuk roda 2. 

?Produksi kendaraan listrik diharapkan mampu menurunkan emisi CO2 sebesar 2,7 juta ton untuk roda 4 atau lebih dan sebesar 1,1 juta ton untuk roda 2,? kata Agus pada acara webinar dengan tema 'Quo Vadis Industri Otomotif Indonesia di Era Elektrifikasi', Jumat (15/10/2021) .

Pemerintah memberikan berbagai insentif fiskal dan non-fiskal bagi konsumen BEV, seperti pengenaan Pajak Pertambahan Nilai Barang Mewah (PPnBM) sebesar 0% (PP No 74/2021), pajak atas penyerahan hak milik kendaraan bermotor (BBN- KB) sebesar 0% untuk KBLBB di Pemprov DKI Jakarta (Pergub No 3/2020).

3 dari 6 Halaman

Selain itu diberikan BBN-KB sebesar 10% Mobil Listrik dan 2,5% Sepeda Motor Listrik di Pemprov Jawa Barat (Perda No. 9/2019), Uang muka minimum sebesar 0% dan suku bunga rendah untuk kendaraan listrik (Peraturan BI No 22/2020), diskon penyambungan dan penambahan daya listrik, dan sebagainya.

Mobil listrik Tesla

Sementara itu, bagi perusahaan industri BEV dapat memanfaatkan berbagai fasilitas seperti Tax Holiday atau Mini Tax Holiday (UU 25/2007, PMK 130/2020, Per BKPM 7/2020), Tax Allowance (PP 18/2015 Jo PP 9/2016, Permenperin 1/2018), Pembebaasan Bea Masuk (PMK 188/2015), Bea Masuk Ditanggung Pemerintah, serta Super Tax Deduction untuk kegiatan R&D (PP 45/2019, dan PMK No.153/2020).

?Dalam roadmap yang dirancang hingga tahun 2030 tersebut, diperkirakan pembelian kendaraan listrik untuk roda 4 akan mencapai 132.983 unit, sedangkan untuk kendaraan listrik roda 2 akan mencapai 398.530 unit,? paparnya.

4 dari 6 Halaman

Baterai

Menperin menambahkan, meningkatnya kebutuhan baterai kendaraan listrik secara global dinilai akan mendukung peran strategis dalam rantai pasok global industri kendaraan listrik.

Sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia serta masih tingginya cadangan bahan baku primer lainnya seperti cobalt, mangan, dan aluminium, Indonesia harus mampu mengikuti perkembangan teknologi baterai.

Oleh karena itu, industri baterai di Indonesia harus mengantisipasi perkembangan teknologi ke depan karena akan membawa dampak pada baterai yang lebih murah, energi yang dihasilkan lebih tinggi dan waktu pengisian yang singkat.

5 dari 6 Halaman

"Adanya teknologi disruptive battery seperti ini, mengindikasikan ketersediaan nikel, mangan dan kobalt melimpah tidak menjamin produksi baterai keberhasilan produksi baterai. Pertimbangan biaya dan kemampuan storage dari material baru juga harus diantisipasi," imbuhnya

Saat ini ada sembilan perusahaan yang mendukung industri baterai, yang meliputi lima perusahaan penyedia bahan baku baterai terdiri dari nikel murni, kobalt murni , ferro nikel, endapan hidroksida campuran, dan lain-lain, serta empat perusahaan adalah produsen baterai.

"Dengan demikian, Indonesia mampu mendukung rantai pasokan baterai untuk kendaraan listrik mulai dari bahan baku, kilang, manufaktur sel baterai dan perakitan baterai, manufaktur EV, hingga daur ulang EV," pungkasnya.

 

6 dari 6 Halaman

BERI KOMENTAR