HOME » BERITA » HATI-HATI, SERING TERJEBAK MACET BISA PICU KANKER

Hati-Hati, Sering Terjebak Macet Bisa Picu Kanker

Masalah kemacetan lalu lintas tak sekadar bisa memicu stres bagi para pengguna jalan. Ternyata, penelitian terbaru menemukan bahwa kemacetan juga bisa picu kanker.

Sabtu, 15 Mei 2021 14:15 Editor : Dini Arining Tyas
Hati-Hati, Sering Terjebak Macet Bisa Picu Kanker
Kondisi kemacetan di Jakarta (Liputan6.com)

OTOSIA.COM - Macet di kota-kota besar sudah menjadi hal biasa, terlebih di jam-jam sibuk seperti jam pergi dan pulang kantor. Meskipun ada pilihan transportasi umum, tampak belum bisa mengatasi kemacetan yang terjadi di kota-kota besar di Indonesia.

Masalah macet ini, memang wajib diselesakan. Pasalnya, menurut peneliti senior dari Universitas Surrey, Inggris, Dr Prashant Kumar, mengatakan bahwa kondisi jalanan macet secara ilmiah dapat meningkatkan potensi sakit orang-orang yang terjebak di dalamnya. Hal tersebut, berkaitan dengan kadar polutan yang ada saat kepadatan lalu lintas terjadi.

Ketika macet, emisi yang keluar dari semua kendaraan terakumulasi hanya di satu titik. Kumar, yang memimpin riset tentang polusi pada 2015, menemukan bahwa pengemudi (dan tentu saja penumpangnya) yang terjebak di kemacetan terkena partikel berbahaya 29 kali lebih banyak daripada yang mengemudi dalam arus lalu lintas yang lancar.

1 dari 2 Halaman

Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, mengklasifikasikan polusi udara luar ruangan semacam ini sebagai karsinogenik, atau zat yang dapat menyebabkan penyakit kanker pada manusia.

Dengan efek yang cukup berbahaya, ada cara yang bisa dilakukan untuk meminimalisasi hal tersebut dengan tidak "menarik" polutan dari luar ruangan ke dalam mobil. Caranya adalah dengan menutup jendela dan mematikan kipas. Memang, cara ini tidak berlaku bagi mereka yang mengendarai sepeda motor.

2 dari 2 Halaman

Menghindari polusi

"Salah satu cara terbaik untuk membatasi pemaparan udara kotor adalah dengan menutup jendela, mematikan kipas, dan memperlebar jarak antara Anda dan mobil yang ada di depan ketika macet atau saat menunggu lampu merah," ujar Kumar, dikutip dari laman resmi Universitas Surrey, surrey.ac.uk.

Kalau kipas atau pengatur suhu perlu menyala, sambung Kumar, pengaturan terbaik adalah dengan menyirkulasikan kembali udara di dalam mobil tanpa menarik udara dari luar.

Reporter: Arief Aszhari

Sumber: Liputan6.com

BERI KOMENTAR