HOME » BERITA » INDONESIA MENGALAMI DEFISIT SELAMA 10 BULAN DI SEKTOR OTOMOTIF

Indonesia Mengalami Defisit Selama 10 Bulan di Sektor Otomotif

Minggu, 30 Desember 2018 10:30 Editor : Ahmad Muzaki
Produksi motor Yamaha (pakwheels.com)

OTOSIA.COM - Neraca perdagangan yang baru saja diperbarui Kementerian Perdagangan menunjukkan hasil yang kurang baik, terutama sektor otomotif. Sektor otomotif mengalami defisit US$602,54 juta dalam kurun waktu 10 bulan terakhir. Rentan waktu Januari hingga Oktober 2018 sektor otomotif melakukan ekspor US$6.225,6 juta dan impor US$6.828,14 juta.

Kalau dibedah, dalam rentang itu, industri otomotif mengekspor kendaraan roda dua dengan total nilai sebesar US$ 1,3 miliar. Sedangkan untuk kendaraan roda empat, bernilai US$ 4,7 miliar. Sisanya US$ 225,6 juta berasal dari komponen penyokong. Memang porsinya cukup besar naik 9,68 persen dari 2017. Namun jangan lupa, nilai impor yang lebih besar juga mesti dibenahi.

Jika berkaca pada periode sama tahun lalu, besaran impor mencapai US$ 5.498,98 juta. Nilainya melonjak 24,14 persen atau naik US$ 1.329,16 juta pada 2018. Padahal selama 2017, industri otomotif nasional surplus US$ 143,9 juta. Memang menunggu rekap dua bulan menutup tahun fiskal 2018.

Dalam lima tahun terakhir, kita pernah defisit parah pada 2013 sebesar US$ 3.347,6 juta dan 2014 sejumlah US$ 1.039 juta. Sementara surplus tertinggi terjadi pada 2016 sebanyak US$ 569,4 juta. Semoga saja menutup 2018 torehannya masih positif, meski tipis pula harapannya.

Geber Ekspor

Menperin mengaku terus menggenjot nilai ekspor. Namun energi untuk menggerakkan itu adalah investasi. Tentunya agar industri menghasilkan produk yang berdaya saing. Ia mencontohkan beberapa industri otomotif yang berhasil melakukan ekspor dengan investasi tak sedikit. Mulai Toyota, Mitsubishi, Suzuki dan Yamaha Motor. Dan rata-rata kapasitas produksinya sudah optimal.

Hingga Desember 2018, investasi industri nonmigas diperkirakan mencapai Rp 226,18 triliun. Dan di dalamnya terkandung angka sektor otomotif. Selain menumbuhkan populasi industri, investasi dapat memperdalam struktur industri di dalam negeri, sehingga berperan sebagai substitusi impor.

Lalu bagaimana peluang memperbaiki neraca dagang selain investasi? Pendekatan regulasi seperti harmonisasi tarif Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) juga penting. Pemerintah mengaku terus merancang kebijakan pemberian insentif fiskal. "Misalnya, untuk industri otomotif, kami mengusulkan harmonisasi tarif dan revisi besaran PPnBM," imbuh Airlangga Hartanto, Menteri Perindustrian.

Untuk mendorong ekspor terus meningkat tentu harus ditunjang dengan kepastian aturan yang tak gampang goyah. Ini bertujuan agar pelaku industri dapat memetakan bisnisnya dengan aman. Namun juga tidak hanya itu, pelaku industri juga harus bisa menawarkan produk yang sesuai dengan pasar global.

Sumber: Oto.com

 

 

(kpl/ahm)

BERI KOMENTAR