HOME » BERITA » INDUSTRI OTOMOTIF MAKIN LESU KARENA CORONA, APA LANGKAH PEMERINTAH?

Industri Otomotif Makin Lesu karena Corona, Apa Langkah Pemerintah?

Kementerian Perindustrianakan mengambil langkah strategis untuk meminimalkan dampak COVID-19 terhadap industri otomotif yang lesu.

Rabu, 08 April 2020 19:15 Editor : Nazarudin Ray
Industri Otomotif Makin Lesu karena Corona, Apa Langkah Pemerintah?
Pandemi corona mengganggu ekspor mobil Indonesia (Arsip Otosia)

OTOSIA.COM - Pandemi virus corona memporak porandakan berbagai sektor termasuk industri otomotif dalam negeri. Situasi demikian membuat kinerja produsen otomotif nasional terhambat karena berada dalam masa sulit.

Sejumlah pabrikan otomotif terpaksa menghentikan sementara operasional pabrik mereka untuk mencegah penyebaran corona. Hal yang sama dialami oleh para pemasok komponen mereka. Kondisi ini diperparah dengan daya beli masyarakat yang makin menurun.

1 dari 2 Halaman

Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian RI akan mengambil langkah strategis untuk meminimalkan dampak COVID-19 terhadap industri otomotif, dan menjaga kinerja otomotif agar tetap memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional.

?Walaupun ada pabrikan otomotif yang terganggu produksinya akibat Covid-19, kami memastikan ketersediaan produk dan suku cadang kendaraan bermotor, sehingga dapat memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor,? kata Putu Juli Ardika, Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi dan Pertahanan (IMATAP) Kemenperin, di Jakarta, Rabu (8/4).

Agar kembali bergairah pemerintah berencana memberikan stimulus fiskal, nonfiskal, dan moneter untuk pelaku industri otomotif. Stimulus fiskal itu berupa insentif/relaksasi PPh Pasal 21, 22, 25 selama enam bulan, insentif/restitusi PPN dipercepat selama enam bulan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No. 23/2020, dan juga memberikan pengurangan bea masuk impor.

Menteri Perindustrian telah menyampaikan usulan Pos Tarif terkait stimulus jilid II kepada Menteri Keuangan untuk pembebasan bea masuk impor dalam rangka penanganan dampak COVID-19.

?Stimulus nonfiskal diberikan dalam skema penyederhanaan atau pengurangan lartas eskpor dan impor untuk bahan baku, percepatan proses ekspor-impor untuk reputable trader, serta penyederhanaan proses ekspor impor melalui NLE (National Logistic Ecosystem),? paparnya.

2 dari 2 Halaman

Sedangkan, terkait stimulus moneter, diberikan berdasarkan Peraturan OJK Nomor 11 Tahun 2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) dan Relaksasi Program Jaminan pada BPJAMSOSTEK.

Kemenperin juga aktif melakukan koordinasi dengan industri otomotif untuk menjaring masukan sebagai dasar untuk stimulus lain yang dapat diberikan selanjutnya, sehingga dapat mengurangi beban industri otomotif ketika mengahdapi masa pandemi COVID-19.

?Usulan Paket Stimulus Ekonomi untuk sektor industri termasuk industri otomotif telah masuk ke dalam paket stimulus tahap I dan tahap II, dan saat ini sedang dibahas kembali kemungkinan memberikan stimulus baru," paparya.

Menteri Perindustrian telah mengusulkan pemberian pembebasan bea masuk impor terhadap industri otomotif. Berdasarkan surat Menperin ini, diusulkan 593 pos tarif untuk diberikan pembebasan impor yang terbagi dalam 27 Kelompok sektor.

Adapun untuk sektor industri kendaraan bermotor, trailer dan semitrailer, diusulkan sebanyak 45 Pos Tarif dengan prognosa impor April sampai dengan September 2020 sebesar USD 632,17 ribu dan potential lost negara sebesar Rp924 miliar.

 

BERI KOMENTAR