HOME » BERITA » INI PEMILIK MOGE PERTAMA DI INDONESIA, DULU WARGA MENYEBUTNYA 'KERETA SETAN'

Ini Pemilik Moge Pertama di Indonesia, Dulu Warga Menyebutnya 'Kereta Setan'

Inilah pemilik moge pertama di Indonesia

Senin, 02 November 2020 15:15 Editor : Ahmad Muzaki
Ini Pemilik Moge Pertama di Indonesia, Dulu Warga Menyebutnya 'Kereta Setan'
Foto Ilustrasi . ©2013 merdeka.com/parwito

OTOSIA.COM - Aksi arogansi pengendara motor gede (moge) kembali terjadi. Dua anggota TNI jadi korban pengeroyokan oleh sekelompok pengendara moge. Kejadian tak terpuji itu terjadi di Simpang Tarok, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat.

Kabarnya aksi pengeroyokan itu dipicu kesalahpahaman saat berkendara. Dan atas kasus tersebut, kini sudah ada 4 pengendara moge yang ditetapkan tersangka.

Buntut dari insiden ini tentu adalah pandangan masyarakat kepada anggota klub moge. Kini mereka semakin dipandang arogan.

Pemilik-Pemilik moge sendiri biasanya dikenal dari golongan orang berduit, mulai dari pengusaha hingga mantan pejabat. Maklum, harga dari motor itu sendiri yang tidak murah.

Kebanyakan, motor-motor gede yang terkenal juga di-import dari luar negeri. Ternyata, moge juga sudah ada di Indonesia sejak masa penjajahan lho.

Lantas, siapakah sebenarnya pemilik moge pertama di Tanah Air? Berikut informasi selengkapnya:

1 dari 4 Halaman

Pemilik Moge Pertama

Di Indonesia sendiri, sepeda motor pertama kali ada dan menjelajahi jalanan sejak masa penjajahan yang dikenal dengan masa Hindia Belanda. Sepeda motor pertama dimiliki oleh seorang masinis pabrik gula di Umbul dekat Probolinggo, bernama John C Potter.

Motor tersebut didatangkan langsung oleh Potter dari pabrik Hildebrand dan Wolfmuller di Jerman pada tahun 1893. Pada masa itu, kendaraan bermotor masih menjadi hal yang asing.

Untuk itu, motor milik Potter itu menjadi kendaraan bermesin pertama yang menjelajah jalanan pada masa Hindia Belanda.

2 dari 4 Halaman

Masyarakat Sebut Motor Adalah Kereta Setan

Menurut informasi, bentuk motor pada jaman dahulu juga belum se-modern saat ini. Motor milik Potter itu diketahui masih sangat sederhana. Tanpa rantai, kopling, atau perseneling, putaran roda sendiri digerakan langsung dari engkol mesin.

Meski begitu, motor tersebut dikatakan sudah memiliki kapasitas mesin mencapai 1500 CC. Karena masih jarang, saat pertama kali didatangkan ke Indonesia, masyarakat pada era itupun terkaget-kaget melihat adanya sebuah mesin yang bisa digerakkan tanpa kuda. Hal tersebut membuat mereka menyebutnya sebagai 'kereta setan', seperti yang ditulis dalam ensiklopedi Jakarta.

3 dari 4 Halaman

Awal Tahun 1900-an Motor Mulai Populer di Indonesia

Pada awal tahun 1900an, sepeda motor mulai jadi tren kaum elite di Hindia Belanda. Meski begitu, motor hanya dimiliki oleh kalangan pejabat pemerintah, pengusaha perkebunan, atau bos pabrik gula. Kemudian mulailah muncul merek-merek motor seperti Norton dan Ariel dari Inggris, atau Minerva dari Belgia. Sementara merek motor gede yang paling populer yakni Harley Davidson, dulu lebih dikenal sebagai motor militer Belanda, kepolisian atau administratur perkebunan.

4 dari 4 Halaman

Kebiasaan Touring Sudah Ada Sejak Dulu

Jika para pemilik motor gede saat ini biasa melakukan touring ke berbagai daerah di Indonesia, ternyata zaman dahulu para pemotor juga terbiasa melakukan touring. Hanya saja, zaman dahulu para pemotor memiliki ambisi untung saling adu cepat memecahkan rekor.

Salah satunya adalah Gerrit de Radt, yang sangat berambisi menaklukkan rekor perjalanan Jakarta-Surabaya sejauh 845 kilometer. Pada tahun 1917, Raadt menorehkan waktu 20 jam 45 menit. Setelah itu para pemotor berlomba-lomba menyusulnya. Rekor Raadt pun berkali-kali terlampaui. Tahun 1932 dengan sepeda motor Rudge, dia membukukan waktu 10 jam 1 menit. Waktu yang sangat istimewa saat itu, bahkan hingga sekarang.

Setelah Indonesia merdeka, sekitar tahun 1950-an motor produksi Jerman BMW mulai masuk ke Indonesia. Awalnya motor ini digunakan untuk pengawalan VIP. Namun banyak pula penggemar motor yang ikut memesan.

Kemudian di akhir 60-an barulah motor-motor produksi Jepang masuk ke Tanah Air dan mencapai puncaknya pada tahun 1970. Kini beragam model motor dari beberapa pabrikan telah dijumpai di jalanan Indonesia.

Penulis: Khulafa Pinta Winastya

Sumber: Merdeka.com

BERI KOMENTAR