HOME » BERITA » INI SEDERET ALASAN MASYARAKAT DIDORONG UNTUK TINGGALKAN BBM OKTAN RENDAH

Ini Sederet Alasan Masyarakat Didorong untuk Tinggalkan BBM Oktan Rendah

Ada banyak kerugian jika masyarakat terus memakai BBM Oktan Rendah

Kamis, 26 November 2020 20:15 Editor : Ahmad Muzaki
Ini Sederet Alasan Masyarakat Didorong untuk Tinggalkan BBM Oktan Rendah
SPBU. ©2012 Merdeka.com

OTOSIA.COM - Saat ini masyarakat terus didorong untuk meninggalkan Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan Ron Rendah, seperti Premium. Hal itu dilakukan untuk menjaga lingkungan, serta kesehatan.

Hal itu turut diungkapkan oleh Koordinator Indonesia Energy Watch (IEW), Adnan Rarasina. Selain mengganggu lingkungan, ia mengatakan bahwa BBM oktan rendah dapat membuat pembakaran di dalam mesin tak sempurna.

1 dari 5 Halaman

Ini terjadi, kata Adnan, karena terbakarnya BBM di dalam ruang bakar hanya karena tekanan mesin bukan karena percikan api dari busi. Akibatnya, selain menjadikan mesin menggelitik juga membuat banyak BBM terbuang dan menjadi emisi hidrokarbon, karbon monoksida (CO), dan nitrogen dioksida melalui knalpot.

"Bahaya BBM beroktan rendah seperti Premium akan mencemari lingkungan, yang pada ujungnya akan berdampak pula pada kesehatan manusia," ungkap Adnan ketika dihubungi, Selasa (24/11).

2 dari 5 Halaman

Apalagi di jalanan yang padat kendaraan. Adanan menilai hal itu akan berisiko menyebabkan gangguan pernapasan.Karena itu, langkah pemerintah bersama Pertamina mendorong penggunaan bahan bakar ron tinggi, seperti Pertamax, sangat bagus untuk mengurus dampak buruk polusi.

Penggunaan BBM ron tinggi, seperti Pertamax, kata dia, maka risiko pencemaran lingkungan yang hilirnya berdampak pula pada kesehatan manusia akan semakin rendah.

"Jadi, sangat tepat kebijakan untuk terus edukasi publik untuk tidak lagi menggunakan premium," ungkap dia.

3 dari 5 Halaman

Sementara, pengamat otomotif Jusri Pulubuhu menambahkan, jika terus diedukasi maka secara perlahan dampak buruk BBM oktan rendah akan disadari masyarakat. Begitu juga secara perlahan publik akan menyadari dampak positif menggunakan BBM Ron tinggi.

Untuk itu, pemerintah disarankan tak ragu untuk mulai sepenuhnya menyalurkan BBM Ron tinggi. Pemerintah sebenarnya hanya perlu melakukan stop produk BBM oktan dan cetane rendah.

Sudah saatnya, lanjut dia, masyarakat menggunakan BBM ron tinggi karena memiliki banyak kelebihan, mesin awet, tenaga kendaraan terjaga, dampak buruk terhadap lingkungan juga lebih kecil, dibanding bahan bakar oktan rendah.

"Hanya saja pemerintah perlu mempercepat, agar program ini terealisasi dengan cepat," ungkapnya.

4 dari 5 Halaman

Picu Penyakit

Sebelumnya, Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), Premium bisa memicu penyakit mematikan seperti kanker. Konsumsi BBM oktan rendah bisa memicu berbagai penyakit, termasuk kanker. BBM oktan rendah akan membuat pembakaran di dalam mesin menjadi tidak sempurna. Ini terjadi, karena terbakarnya BBM di dalam ruang bakar hanya hanya karena tekanan mesin bukan karena percikan api dari busi.

Berdasar riset KPPB bersama Universitas Indonesia (UI), rata-rata air seni masyarakat Jakarta mengandung polysiclic aromatic hydrocarbons (PAH) 2.200 mg kreatinin. Angka tersebut, lanjut Safrudin sangat tinggi karena standar World Health Organizazation (WHO) hanya memperbolehkan 500 mg kreatinin.

Selain itu, di dalam urine juga ditemukan benzene yang juga sangat tinggi, yaitu 8,9 mg. Angka tersebut jauh di atas standar WHO, yaitu maksimal hanya boleh 0,3 mg kreatinin.

5 dari 5 Halaman

Dari temuan KPPB, PAH dan benzene pada urine masyarakat Jakarta tersebut berasal dari pencemaran hidrokarbon kendaraan bermotor. Jadi sangat wajar jika angka penderita kanker di Jakarta tinggi dan terus meningkat.

Tak hanya kanker, berbagai penyakit lain yang tak kalah berbahaya, juga mengintai. Selain itu, karbon monoksida yang dihasilkan juga bersifat racun dan nitrogen dioksida memicu penyakit paru-paru.

Kemudian bahaya lainnya adalah dapat mencemari lingkungan. Akhirnya kesehatan manusia terancam, seperti mengganggu saluran pernafasan. Dalam jangka panjang pencemaran lingkungan yang terjadi bisa menyebabkan kanker paru-paru.

Sumber: Merdeka.com

BERI KOMENTAR