HOME » BERITA » INVESTASI INDUSTRI BATERAI MOBIL LISTRIK TANAH AIR DIPREDIKSI BUTUHKAN DANA RP244,7 TRILIUN

Investasi Industri Baterai Mobil Listrik Tanah Air Diprediksi Butuhkan Dana Rp244,7 Triliun

Nilai investasi untuk pengembangan industri baterai kendaraan listrik di Indonesia mencapai Rp 244,7 triliun. Jumlah itu merupakan untuk ekosistem industri dari hulu ke hilir.

Selasa, 02 Februari 2021 15:45 Editor : Dini Arining Tyas
Investasi Industri Baterai Mobil Listrik Tanah Air Diprediksi Butuhkan Dana Rp244,7 Triliun
SPKLU (Liputan6.com)

OTOSIA.COM - Indonesia sedang menggarap sektor industri kendaraan listrik, yang mana tak hanya memproduksi mobilnya saja melainkan juga baterainya. Rencananya, industri baterai listrik itu akan dipusatkan di kawasan Industri Batang Jawa Tengah.

Ketua Tim Percepatan Pengembangan Industri Electric Vehicle Battery (EV Battery) BUMN, Agus Tjahajana, mengatakan pembangunan industri baterai kendaraan listrik membutuhkan investasi USD 13,4 hingga USD 17,4 miliar atau berkisar Rp 188,4 - Rp 244,7 triliun (kurs Rp 14.064). Investasi ini untuk ekosistem industri dari hulu sampai ke hilir.

"Nilai investasi baterai EV dari hulu sampai hilir, terendah sampai ke tertinggi untuk kapasitas sel hingga 140 Giga Watt Hour (GWh) sekitar USD 13,4 sampai dengan USD 17,4 miliar," kata Agus yang juga merupakan Komisaris Utama MIND ID, dalam RDP dengan Komisi VII pada Senin (1/2/2021).

1 dari 2 Halaman

Pemerintah saat ini tengah mendorong percepatan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBL-BB). Pemerintah juga sudah menyiapkan rencana roadmap pengembangan industri baterai EV hingga 2027.

Pada 2022, Original Equipment Manufacturer (OEM) mulai memproduksi EV di Indonesia. Produksi baterai EV dari hulu ke hilir direncanakan akan mulai beroperasi pada 2024.

Sebagai bagian dari rencana ini, Badan Usaha Milik Negara akan membentuk konsorsium Indonesia Battery Holding (IBH) dengan masing-masing porsi saham 25 persen untuk Mining and Industry Indonesia (MIND ID), PT Pertamina (Persero), PT PLN (Persero), dan PT Aneka Tambang (Antam) Tbk.

2 dari 2 Halaman

"Konsorsium IBH harus memastikan penyelarasan soal target, jadwal, proyek, produk di sepanjang ekosistem baterai hulu hingga hilir," jelas Agus mengenai salah satu tugas konsorsium IBH.

Kementerian BUMN sedang berkomunikasi dengan berbagai kementerian termasuk Kementerian Keuangan dan ESDM agar pemain-pemain dunia di sektor EV mau datang dan nyaman berinvestasi di Indonesia.

Selain itu, BUMN juga bersinergi dengan lembaga pemerintah non kementerian untuk melakukan pengembangan dan penelitian yang bertujuan meningkatkan daya saing industri EV Indonesia, termasuk Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) terkait implementasi charging station, serta pengembangan dan pembuatan prototype sel baterai berbasis lithium ion di Universitas Sebelas Maret (UNS).

Sumber: Merdeka.com

BERI KOMENTAR