HOME » BERITA » JELAJAH BROMO, TES MOTOR ROYAL ENFIELD HIMALAYAN LANGSUNG DI HABITATNYA

Jelajah Bromo, Tes Motor Royal Enfield Himalayan Langsung di Habitatnya

Jum'at, 10 Agustus 2018 08:45 Editor : Cornelius Candra
Foto: Nazar Ray

OTOSIA.COM - Royal Enfield Himalayan yang diluncurkan di IIMS 2018 lalu akhirnya bisa dites langsung. Motor ini sendiri menyandang nama "Himalayan" yang artinya punya habitat di pegunungan Himalaya.

Artinya, bukan cuma motor gaya adventure, tetapi memang motor khusus jalur gunung. Ini pula yang akan dites dengan membawa Royal Enfield Himalayan sejauh 120 km menanjak Bromo, Jawa Timur.

Perjalanan sendiri dimulai dari Hotel Harris menuju Tumpang dan Coban Pelangi. Motor lalu diajak lewat Jarak Ijo dan Widodaten. Garis akhirnya pasir sisi barat Gunung Bromo.

Lalu apa rasannya menaiki motor Rp 93 juta ini? Buat mereka yang tidak terbiasa dengan motor besar, tunggangan satu ini sebenarnya lumayan ramping. Bobotnya sendiri 180 kg, beda tipis dengan motor 250 cc, padahal mesinnya 411 cc.

Menurut desainernya, Royal Enfield Himalayan terinspirasi dari mereka yang biasa betransportasi via jalan pegunungan. Makanya juga, ketika melewati sejumlah tanjakan dan kerikil, motor ini terasa penuh kendali, apalagi tarikannya panjang sehingga tidak perlu terlalu repot untuk pindah gigi.

Tarikan itu bisa dirasakan dari mesin tipe LS410 satu silinder 4-tak yang bore x stroke-nya 78 mm x 86 mm. Artinya, model stroke panjang.

Jarak 120 km jelas sarat dengan tantangan. Mereka yang biasa naik motor di perkotaan sama artinya dapat tantangan berat melewati medan yang jauh dari rata. Motor ini pun sampai jatuh beberapa kali karena keseimbangan melewati medan jadi PR besar di jalur ini.

Saran kami, kalau naik motor ini di pegunungan, pakai peralatan pelindung yang lengkap termasuk deker dan lain sebagainya.

Uniknya karena motor untuk gunung, Royal Enfield Himalayan dibikin dengan konstruksi kokoh. Spesifikasi rangkanya half-duplex split cradle frame robotic welded. Makanya waktu jatuh sampai berkali-kali, motor ini tidak rusak.

Perjalanan pun makin mengerikan ketika memasuki tebing curam di kiri di daerah Wonokitri. Rancangan posisi pengendara dekat dengan posisi sentral sepeda motor supaya rasanya bisa lebih terkoneksi dengan motor dan mendapatkan handling yang responsif.

Kelebihan itu membuat pengendara bisa memilih jatuh ke mana saat rasanya tidak sanggup menahan keseimbangan di tebing curam tersebut.

Yah, ini memang pengalaman yang berat. Tapi rasanya jadi punya pengalaman adventure yang lumayan maksimal.

Beres di tanjakan itu, kami turun ke kawasan Nongkojajar dan Jabung, Singosari, lalu kembali ke Hotel Harris. Selepas adventure itu, hiburannya adalah melewati pemandangan di jalan pedesaan Malang.

 (kpl/nzr/crn)

BERI KOMENTAR