HOME » BERITA » KATANYA PAKAI B20 SEBABKAN INJEKTOR RUSAK, BEGINI PENJELASANNYA

Katanya Pakai B20 Sebabkan Injektor Rusak, Begini Penjelasannya

Mandatori B20 sudah dijalankan secara masif sejak 1 September 2018 lalu. Namun, program B20 ini baru diimplementasikan dengan baik di sektor transportasi atau Public Service Obligation (PSO).

Senin, 18 Februari 2019 21:45 Editor : Dini Arining Tyas
Ilustrasi biodiesel (Liputan6.com)

OTOSIA.COM - Mandatori B20 sudah dijalankan secara masif sejak 1 September 2018 lalu. Namun, program B20 ini baru diimplementasikan dengan baik di sektor transportasi atau Public Service Obligation (PSO).

Pro dan kontra soal kebijakan ini pun tak terhindarkan. Sampai muncul isu bahwa B20 bisa menyebabkan kerusakan pada injektor kendaraan.

Jika melihat penjelasan Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), keberhasilan B20 sendiri tergantung pada tiga faktor. Yakni, kualitas bahan bakar (biodiesel dan solar), handlng bahan bakar, dan kompatibilitas material terhadap bahan bakar tersebut.

Kerusakan yang terjadi pada injektor bisa diakibatkan dari ketidaksesuaian salah satu atau lebih dari ketiga faktor tersebut.

Berbicara soal biodiesel sendiri, bahan bakar alternatif tersebut pada dasarnya siap digunakan oleh mesin diesel biasa dengan sedikit atau tanpa penyesuaian.

Ilustrasi B20 (Istimewa)

Jika ada penyesuaian, itu dibutuhkan jika penyimpanan atau wadah biodiesel terbuat dari bahan yang sensitif dengan biodiesel seperti seal, gasket, dan perekat. Terutama pada mobil lama dan yang terbuat dari karet alam dan keret nitril.

Pengguna biodiesel juga diharapkan mencegah terjadinya kontaminasi air pada biodiesel, agar tak menimbulkan sludge. Selama handling biodiesel baik dan sesuai dengan tta cara penanganan yang disarankan, maka sludge pada biodiesel tidak akan timbul.

Penggunaan biodiesel sendiri disebut bisa meningkatkan kualitas lingkungan karena sifat degradable (mudah terurai) dan emisi yang dikeluarkan lebih rendah dari emisi hasil pembakaran bahan bakar fosil.

Selai uji kelayakan, Ditjen EBTKE, bersama beberapa stakeholder pernah melakukan uji pemanfaatan B20 atau biodiesel 20 persen, pada tahun 2014.

Hasilnya, kendaraan berbahan bakar B20 menghasilkan emisi CO yang lebih rendah dibandingkan kendaraan B0. Hal ini dipengaruhi oleh lebih tingginya angka cetane dan kandungan oksigen dalam B20 sehingga mendorong terjadinya pembakaran yang lebih sempurna.

Selain itu juga, kendaraan berbahan bakar B20 menghasilkan emisi Total Hydrocarbon (THC) yang lebih rendah dibandingkan kendaraan B0. hal ini disebabkan pembakaran yang lebih baik pada kendaraan B20, sehingga bisa menekan emisi THC yang disesuaikan.

(kpl/tys)

BERI KOMENTAR