HOME » BERITA » KECELAKAAN LALU LINTAS SAAT PENDEMI LEBIH FRONTAL DAN FATAL

Kecelakaan Lalu Lintas Saat Pendemi Lebih Frontal dan Fatal

Situasi jalan yang tidak padat saat pandemi memicu kecelakaan yang lebih frontal dan fatal. Tingkat kerusakan lebih parah daripada kondisi normal.

Minggu, 22 November 2020 10:15 Editor : Nazarudin Ray
Ilustrasi kecelakaan lalu lintas di jalan bebas hambatan (kutv.com)

OTOSIA.COM - Berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2018 tentang Keselamatan Jalan, jumlah kematian akibat kecelakaan lalu lintas di seluruh dunia tetap tinggi yaitu 1,35 juta orang per tahun. Indonesia termasuk salah satu negara dengan tingkat kecelakaan lalu lintas tinggi di Asia Tenggara.

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (UN Sustainable Development) dari PBB telah menargetkan untuk mengurangi separuh jumlah kematian dan cedera akibat kecelakaan lalu lintas jalan pada tahun 2020 secara global.

Terkait keselamatan jalan, Michelin Indonesia kembali melakukan kampanye Michelin Safe Mobility di masa pandemi.

Kegiatan tersebut merupakan pembaruan dari kampanye Michelin Safety Academy, perhelatan tahunan Michelin yang diadakan untuk mendorong perilaku berkendara yang aman dan bertanggung jawab serta mewujudkan mobilitas yang lebih baik.

"Saat ini ada 120 juta ban Michellin di dunia, dipakai semua jenis kendaraan, dan medan jalan beragam. Jadi ini merupakan salah satu komitmen kita sebagai pelaku industri otomotif untuk mendorong kampanye keselamatan berkendara," kata Kartika Susanti, Head of Public Affairs and Press Relation Michelin Indonesia dalam webinar bersama media, Kamis (19/11).

Kampanye ini didukung oleh Federasi Automobil International (FIA) dan Ikatan Motor Indonesia (IMI) dan diselenggarakan secara digital. Michelin Safe Mobility 2020 mengajak seluruh pengguna jalan untuk tetap patuh pada prinsip-prinsip keselamatan saat berkendara, terutama ketika kepadatan lalu lintas cenderung berkurang di masa pandemi COVID-19.

Kampanye tersebut terbilang tepat di masa pandemi mengingat tingkat fatalitas kecelakaan di jalan tol cukup tinggi. Saat situasi kepadatan menurun di masa pandemi, efek kecelakaan justru lebih buruk dari kondisi ramai.

"Jumlah angkanya, lebih akurat pada jalan tol. Lebih otentik. Kita bisa lihat di tol ring road dalam kota kota saat pandemi. Kendaraan yang tidak keluar, justru kecelakaannya lebih fatal daripada normal. Saat normal tol padat, di mana saat pandemi hal ini tidak terjadi. Kalau sekarang malah kerusakannya lebih parah, karena lebih frontal," kata Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Jakarta Anondo Eko.

Menurut Eko, banyak Faktor yang mempengaruhi resiko kecelakaan di jalan, terutama perilaku berkendara. Namun salah satu faktor terpenting yang dapat diminimalisir oleh pengendara adalah kondisi kendaraan, seperti mesin, rem, dan ban.

Selain itu, aksesoris kendaraan juga terkadang bisa menimbulkan resiko baik untuk kendaraan itu sendiri atau kendaraan lain, misalnya lampu yang terlalu silau atau aksesoris di setir yang menghalangi airbag.

"Hal- hal seperti ini dapat dicegah dengan pengecekan atau servis rutin, memilih produk atau aksesoris terbaik yang sesuai dengan kendaraan masing- masing," tukas Eko.

Sementara itu Customer Engineering Support Michelin Indonesia Mochammad Fachrul Rozi menyarankan agar pengendara secara rutin memeriksa kondisi ban. Pasalnya ban dapat memicu terjadinya kecelakaan karena ban merupakan komponen yang langsung bersentuhan dengan permukaan jalan.

"Minimal setiap dua minggu sekali, periksa tekanan angin ban dan pastikan untuk mengikuti ikuti standar yang telah ditetapkan pabrikan mobil dalam mengisi tekanan angin," kata Rozi.

Rozi juga mengingatkan agar pengemudi selalu memeriksa kondisi ban sebelum melakukan perjalanan.

(kpl/nzr)

BERI KOMENTAR