HOME » BERITA » KENALAN DENGAN 3 FINALIS FESTIVAL KREATIF LOKAL 2020 KATEGORI VIDEOGRAFI

Kenalan dengan 3 Finalis Festival Kreatif Lokal 2020 Kategori Videografi

Berikut profil mereka selengkapnya!

Jum'at, 13 November 2020 07:00 Editor : Iwan Tantomi
credit: Aceh Documentary

OTOSIA.COM - Di masa sekarang ini videografi bukan hanya diperlukan sebagai sarana dokumentasi, tetapi juga dapat menjadi sumber penghasilan jika serius ditekuni. Sebut saja lewat platform YouTube, kamu bisa mengunggah konten video yang sudah diedit dengan ciamik. Jika mendapatkan banyak penayangan, tentu akan berpeluang mendapatkan penghasilan dari iklan yang disematkan oleh YouTube.

Lebih bagus lagi jika videografi ini juga mampu memberikan dampak bagi sekitar, sehingga turut membantu menghidupkan perekonomian, lebih-lebih di masa pandemi. Gebrakan itulah akhirnya yang mampu dilakukan oleh ketiga finalis Festival Kreatif Lokal 2020 dari kategori videografi ini.

Bukan saja mampu membuat videografi yang keren, tetapi mereka juga sanggup membawa perubahan yang lebih baik, baik dari segi perekonomian maupun sosial di daerah masing-masing. Berikut profil mereka selengkapnya!

Aceh Documentary

credit: Aceh Documentary

Bermula dari komunitas, Aceh Documentary yang didirikan oleh Faisal Ilyas menjelma sebagai lembaga sosial entrepreneur yang berpengalaman dalam dunia produksi media dan komunikasi. Usaha ini memproduksi video, film dan layananproduksi film layar lebar/komersil.

Tak hanya itu, sejak 2013 silam berupaya meningkatkan keahlian kelompok masyarakat di semua aspek perfliman. Mendorong implementasi medium film dalam kampanye sosial, lingkungan, pendidikan, budaya dan kearifan lokal. Tim Aceh Documentary terdiri dari individu yang memiliki pengalaman yang matang, mulai dari creative director, director, producer, DoP, art director. Pelayanan sepenuh hati adalah tagline kami, kami berupaya untuk menyuguhkan ide kreatif melalui perspektif yang baru.

Kerennya dalam kurun waktu 7 tahun, Aceh Documentary telah memproduseri 63 Judul film dokumenter, 125 Sutradara muda, lebih 300 event screening, kajian dan apresiasi film. Kini omzet usaha ini mencapai Rp70 juta per bulan. Sementara dampak bagi masyarakat, antara lain membangun ekosistem ekonomi kreatif khususnya sektor film secara keberlanjutan, menambah nilai ekonomi serta mendorong ke arah industri film yang dihasilkan tenaga ahli film yang memiliki ketrampilan, menjadi rumah produksi yang tidak semata-mata dimanfaatkan oleh Aceh Documentary, melainkan untuk kepentingan berbagai pihak terutama pembuat film, serta membuka lapangan kerja bagi para elaku industri perfilman.

Riplay Studio

credit: Riplay Studio

Usaha ini dibangun oleh Andy Said Tandio. Riplay Studio awalnya sekadar kanal youtube yang hanya digunakan sebagai portofolio untuk mengikuti ajang perlombaan. Seiring berjalannya waktu, ternyata beberapa video animasi yang diupload di kanal YouTube banyak diminati masyarakat. Hasilnya, pada akhir tahun 2017 memutuskan untuk fokus mengelola kanal YouTube "Rizky Riplay".

Pada tahun pertama, usaha ini berhasil meraih 1 juta subscriber dan hingga saat ini telah memiliki lebih dari 5,4 juta subscribers. Tak hanya itu, Riplay memiliki Channel video animasi di YouTube (Rizky Riplay) dengan konten-konten original yang mengangkat konten lokal, dan digemari masyarakat luas, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Kini omzet usaha ini mencapai Rp50 juta per bulan. Bukan hanya sukses membangun usaha, Riplay Studio juga telah memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekitar. Beberapa di antaranya, seperti membuka lapangan kerja dan menambah penghasilan masyarakat, sedangkan animator sesuai dengan pembagian hasil dari pendapatan per bulannya. Selain itu juga menjadi wadah bagi animator khususnya di Surabaya untuk bisa berkreasi dan menjadi wadah bagi pelajar SMK dan mahasiswa untuk magang.

Kisah Bersama Studio

credit: Kisah Bersama Studio

Hadir sejak 2017, Kisah Bersama Studio dirintis oleh Anggi Kurniawan yang berasal dari Aceh. Posisi geografis Aceh yang berada di ujung barat Indonesia membuat industri film berjibaku menumbuhkannya, karena terbatasnya akses dan fasilitas produksi, terlebih tidak adanya bioskop yang menjadi isu klasik Aceh di masa sekarang.

Usaha ini sadar bahwa industri yang baik harus diawali dari ekosistem yang baik juga, maka ekosistem itu usaha ini ciptakan sendiri, dengan membentuk komunitas penguatan SDM Film bernama Film Portal (instagram: @filmportalsession), komunitas muslimah kreatif Pesantren Sinema (@pesantrensinema), juga kreator peduli umkm yang membantu para pengusaha kecil memasarkan produknya semasa pandemi covid-19 (@kreatorpeduliumkm).

Kisah Bersama Studio juga menyewakan studio untuk produksi video, serta mengambil project dari banyak instansi dinas/pemerintah, juga video komersil untuk pemasukan operasional, dari ekosistem komunitas itulah SDM dipekerjakan, sehingga usaha ini bisa nyaris tanpa modal karena ekosistem telah/sudah berjalan dengan baik.

Kini Kisah Bersama Studio bisa meraih omzet hingga Rp40 juta per bulan. Sementara dampak langsung yang diterima oleh masyarakat dari usaha ini, antara lain membuka lapangan pekerjaan dengan menyerap tenaga kerja dari masyarakat sekitar, menjembatani para film maker lokal dengan masyarakat sekitar yang berpotensi, mewadahi para masyarakat sekitar khususnya para generasi milenial yang berpotensi dengan membuat komunitas-komunitas di bawah naungan Kisah Bersama, hingga membentuk pesantren cinema untuk memfasilitasi para anak muda khususnya para perempuan yang berpotensi dalam industri perfilman, agar mereka dapat berkarya dan berekspresi secara leluasa.

Sebagai informasi, Festival Kreatif Lokal 2020 adalah kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) dari Adira Finance bekerjasama dengan Kemenparekraf RI bertemakan #BangkitBersamaSahabat yang diadakan mulai Agustus 2020 hingga Januari 2021 mendatang. Kegiatan ini merupakan bentuk dukungan Adira Finance terhadap program Kemenparekraf RI #BeliKreatifLokal dan Bangga Buatan Indonesia.

(kly/tmi)

BERI KOMENTAR