HOME » BERITA » KENALI 7 KONFIGURASI MESIN SEPEDA MOTOR YANG MELAJU DI JALAN RAYA

Kenali 7 Konfigurasi Mesin Sepeda Motor yang Melaju di Jalan Raya

Selasa, 06 Februari 2018 19:45

Kenali 7 Konfigurasi Mesin Sepeda Motor yang Melaju di Jalan Raya
Foto : motorcycle.com
Editor : Cornelius Candra

Otosia.com - Perkembangan di dunia otomotif semakin pesat, tak terkecuali sepeda motor. Teknologi yang disajikan pada sepeda motor ternyata juga memunculkan berbagai konfigurasi mesin.

Tercatat ada 7 konfigurasi mesin sepeda motor yang melaju di jalan raya. Konfigurasi ini berbeda dari satu pabrikan ke pabrikan lain. Karena perbedaan itu seakan-akan konfigurasi mesin menjadi ciri khas.

Karakter yang dihasilkan pun berbeda pada setiap konfigurasi. Suara yang keluar juga tidak sama. Supaya kenal lebih dekat, Otosia akan bahas 7 konfigurasi sepeda motor secara mendalam.

1. Mesin 1 Silinder Horizontal / Vertikal / Diagonal

Mesin ini sangat familiar di Indonesia. Pasalnya banyak sepeda motor di pasaran yang menggunakan mesin ini. Dikatakan mesin 1 silinder lantaran hanya memiliki 1 piston. Kebanyakan mesin 1 silinder memiliki kapasitas mesin di bawah 250 cc. Tapi tak jarang pula mesin dengan kapasitas lebih yang menganut sistem ini. Kawasaki KLR 650 keluaran tahun 2007 menggunakan 1 silinder meskipun berkapasitas 650 cc. KTM juga menganut sistem ini untuk Duke 690 cc.

Mesin 1 silinder yang kerap dijumpai diklasifkasikan kembali menjadi 3, horizontal (tidur), vertikal atau tegak, dan miring. Mesin horizontal dapat kita jumpai pada produk sepeda motor bebek, seperti Honda Revo, Yamaha Jupiter, dan Suzuki Shogun. Sedangkan untuk mesin vertikal terdapat pada sepeda motor seperti, Honda CB 100, Suzuki Thunder 125, dan Yamaha Byson. Untuk mesin diagonal bisa kita jumpai pada Honda Sonic, Suzuki Satria, dan Yamaha Vixion.

Mesin ini memiliki perawatan yang mudah. Selain itu memiliki torsi yang besar. Tak jarang pula dijumpai sepeda motor trail dengan kapasitas besar menggunakan 1 silinder saja. Getaran yang dihasilkan cukup terasa dan semakin keras pada mesin berkapasitas di atas 250 cc.

Meskipun torsi yang dihasilkan cukup baik, mesin jenis ini memiliki catatan buruk pada urusan top-speed. Sayangnya pada mesin dengan posisi tidur, torsi yang dihasilkan tidak sebesar mesin vertikal meskipun berkapasitas sama. Namun mesin tidur lebih mudah dikuasai ketika bermanufer.

2. Mesin 2 Silinder Segaris (In-line Twin / Parallel Twin)

Banyak sepeda motor berkapasitas di atas 200 cc yang menggunakan mesin 2 silinder. Kita dapat menjumpai jenis mesin ini pada sepeda motor seperti, Kawasaki Ninja 250, Yamaha R25, dan Suzuki Inazuma. Bahkan pabrikan asal Jerman, BMW, menggunakan sistem ini pada F 800 GS.

Mesin ini memiliki power yang besar namun tidak terdapat kesulitan dalam perawatannya. Torsi yang dihasilkan cukup merata pada setiap putaran (rpm). Begitu pula dengan getaran mesin, cukup merata pada putaran bawah, tengah, dan atas.

3. Mesin 2 Silinder V-Twin

Mesin ini memiliki 2 silinder yang menyerupai huruf "V". V Twin sangat ikonik dan mudah dikenali, terlebih pada motor buatan Amerika Serikat, Harley Davidson. Hampir seluruh sepeda motor yang diproduksi di negeri Paman sam tersebut menggunakan Sistem ini.

Hal itu bukan berarti negara Eropa tidak menganut sistem ini. Pabrikan motor asal Italia, Ducati dan Aprilia juga menerapkan sistem V Twin. Pada Ducati terdapat pada beberapa line-up adventurenya seperti Hypermotard dan Hyperstrada. Sementara pada Aprilia tertanam pada produk seperti Aprilia Pegaso 750 dan Dorsoduro 750.

Yang membedakan ketiganya adalah sudut yang memisahkan kedua mesin tersebut. H-D memiliki sudut paling sempit da ketiganya berkisar pada 30 derajat. Sementara Aprilia memisahkan dua silinder miliknya sejauh kurang lebih 60 derajat. Pada Ducati terdapat jarak lebih dari 90 derajat dari kedua silender miliknya dan cenderung membentuk huruf "L".

Mesin ini menghasilkan getaran yang tinggi, terlebih pada H-D. Namun getaran tersebut bisa diminamilisir dengan berbagai teknologi. Suara yang dihasilkan berbeda dengan 2 silinder in-line. Yang menjadi kekurangan adalah torsi yang terlalu liar dan center of gravity atau pusat grafitasi motor berada di titik yang cukup tinggi.

4. Mesin 2 Silinder Berlawanan / Boxer

Masih dari line up 2 silinder, kali ini kedua piston berada pada posisi saling membelakangi. Bentuknya sangat khas karena terdapat 2 head silinder dalam posisi horisontal. Mesin ini identik dengan pabrikan asal Jerman, BMW. Mesin ini banyak terlihat ditopang oleh rangka BMW dengan seri R, seperti R 1200 GS, R Nine T, dan R 1300 R.

Mesin ini mudah untuk diajak bermanuver karena memiliki titik grafitasi yang rendah. Torsi yang dihasilkan relatif tinggi dan tenaga yang disalurkan tidak terlalu liar sehingga mudah dikuasai. Selain tidak mudah panas, mesin boxer juga memiliki suara yang halus meskipun ber-cc besar.

5. Mesin 2 Silinder V Twin Melintang

Sulit memang membayangkan bagaimana bentuk mesin ini karena jarang beredar di Indonesia. Mesin ini berbentuk "V" seperti produk H-D, tetapi melebar. Mesin ini unik karena hanya menempel pada sasis Moto Guzzi. Sepeda motor asal Italia tersebut memiliki cylinder-hear yang menyembul pada sisi kanan-kirinya. Sangat mudah mengenali mesin jenis ini karena ciri khas dimensi tersebut.

Getaran mesin yang dihasilkan cenderung keras namun berbeda dengan mesin 2 silinder yang lain. Selain itu, mesin ini memiliki distribusi tenaga yang halus. Sama halnya dengan mesin boxer, karena berada luar rangka, mesin ini tidak cepat panas. Namun tenaga yang dihasilkan cenderung lebih rendah jika dibanding dengan mesin 2 silinder lain dan pusat gravitasi terletak pada titik yang cukup tinggi.

6. Mesin 3 Silinder Segaris (Triple In-line)

Secara fisik, mesin ini serupa dengan mesin 2 silinder in-line. Yang membedakan hanyalah jumlah silindernya. Namun perbedaan 1 silinder tersebut memberikan perbedaan yang signifikan. Mesin ini memaksimalkan torsi dan top end power.

Ini adalah jalan tengah antara mesin 2 silinder dan 4 silinder. Bisa dibilang mesin ini memiliki performa yang seimbang. Mesin 3 silinder memiliki torsi yang cukup namun tidak terlalu besar dan top end power yang tidak terlalu tinggi. Begitu pula dengan getaran, tidak sekasar 2 silinder, namun juga tidak sehalus 4 silinder. Suara yang dihasilkan pun sangat berbeda dengan berbagai mesin yang ada.

Mesin jenis ini dipopulerkan oleh Triumph asal Inggris pada varian Daytona. MV Agusta asal Italia juga menggunakan mesin ini. Tak ketinggalan produsen asal Jepang, Yamaha yang mengadopsi sistem ini pada MT-09.

7. Mesin 4 Silinder In-line

Dari sekian banyak konfigurasi, mesin inilah yang memiliki suara paling halus dan berkarakter. Kebanyakan superbike dan sportbike menganut sistem ini. hanya Ducati dan Aprilia yang tidak berminat untuk memasang teknologi ini pada produk mereka.

Torsi yang diberikan bisa dibilang tidak terlalu baik, namun power yang diberikan sangat memuaskan para pecinta kecepatan. Mesin ini sangat efisien dalam pembakaran dan penyebaran bobotnya pun baik karena dimensinya yang relatif lebar.

Mesin jenis ini bisa mudah kita temukan pada produk Jepang dan Eropa yang berkapasitas mesin di atas 600 cc. Honda menyematkan teknologi ini pada line-up sportbike seperti Honda Fireblade 1000rr. Motor seharga Rp 1,5 miliaran milik Kawasaki, H2 juga memiliki 4 silinder segaris. Begitu pula dengan Yamaha R1M, BMW S1000RR, dan Suzuki B King.

Itulah 7 konfigurasi mesin sepeda motor yang bisa kita jumpai di jalanan Indonesia. Tertarik untuk mencoba ketujuhnya Otolovers?

 (kpl/crn)






Daftarkan email Anda untuk berlangganan berita terbaru Kami

APA PENDAPAT ANDA ?

2018-2-8
detail

BERITA POPULER