HOME » BERITA » KENDARAI SEPEDA MOTOR LEBIH BAIK UNTUK KESEHATAN OTAK KETIMBANG NYETIR MOBIL

Kendarai Sepeda Motor Lebih Baik untuk Kesehatan Otak Ketimbang Nyetir Mobil

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat stres pengendara sepeda motor lebih rendah ketimbang pengemudi mobil.

Selasa, 10 Desember 2019 18:45 Editor : Dini Arining Tyas
Kendarai Sepeda Motor Lebih Baik untuk Kesehatan Otak Ketimbang Nyetir Mobil
Berkendara sepeda motor (Ilustrasi/liveabout.com)

OTOSIA.COM - Penelitian yang dilakukan oleh Institute of Neuroscince and Human Behavior (INHB) menunjukkan sesuatu yang menarik. Awalnya, penelitian dilakukan untuk mengetahui mengapa pengendara sepeda motor menjadi kendaraan mereka.

Tapi rupanya, hasil lain yang mereka dapatkan. Melansir Visordown, penelitian itu justru menemukan bahwa tingkat stres pengendara sepeda motor lebih rendah ketimbang pengemudi mobil.

1 dari 2 Halaman

Hormon Kortisol Lebih Sedikit

Kendarai Sepeda Motor Lebih Baik untuk Kesehatan Otak Ketimbang Nyetir MobilHormon Kortisol Lebih Sedikit

Hal itu lantaran, pada pengendara sepeda motor, hormon kortisol yang dilepaskan oleh otak ketika cemas lebih sedikit 28 persen ketimbang pengemudi mobil, selama tes dilakukan.

Hasil penelitan mendapati bahwa saat berkendara sepeda motor, subyek mengalami peningkatan fokus sensorik dan lebih tahan terhadap gangguan. Selain itu, mengendarai sepeda motor juga menghasilkan peningkatan kadar adrenalin dan detak jantung, serta penurunan kadar kortisol.

Hasil itu disebut sama dengan apa yang didapatkan setelah sesi latihan ringan. Maka itu, hal itu disebut juga bisa mengurangi tingkat stres.

2 dari 2 Halaman

Bisa Membakar Kalori

Kendarai Sepeda Motor Lebih Baik untuk Kesehatan Otak Ketimbang Nyetir MobilBisa Membakar Kalori

Lebih lanjut, penelitian juga menemukan bahwa berkendara sepeda motor bisa membakar 170-600 kalori per jam. Jumlah kalori yang dibakar itu sama dengan melakukan latihan di gym selama satu jam.

INHB melibatkan 50 pengendara sepeda motor dan 50 pengemudi mobil dalam penelitian ini. Mereka diminta untuk berkendara selama 20 menit dalam kondisi yang sama.

Selama tes, tim peneliti mengukur detak jantung, kortisol dan level adrenalin. Peneliti juga memantau aktivitas otak para responden.

BERI KOMENTAR