HOME » BERITA » KISAH DI BALIK RUMAH YANG BERDIRI DI TENGAH JALAN TANGERANG, SERING TERTABRAK

Kisah di Balik Rumah yang Berdiri di Tengah Jalan Tangerang, Sering Tertabrak

Sebuah rumah di Kota Tangerang tampak tak seperti rumah lainnya. Rumah itu berdiri hampir memakan setengah badan jalan.

Selasa, 07 Juli 2020 18:45 Editor : Dini Arining Tyas
Kisah di Balik Rumah yang Berdiri di Tengah Jalan Tangerang, Sering Tertabrak
Rumah di Poris, Kota Tangerang (Merdeka.com)

OTOSIA.COM - Memang bukan hal yang aneh saat ada rumah yang dibangun mepet sekali dengan jalan raya, di Indonesia. Padahal jika sesuai aturan, ada yang disebut dengan GSB atau Garis Sempadan Bangunan.

Tapi entah mengapa masih banyak rumah-rumah atau bangunan lain yang didirikan sangat mepet dengan jalan. Seperti rumah yang belakangan menjadi sorotan warga di Tangerang.

Dilansir dari Merdeka.com, bangunan yang berdiri di Jalan Maulana Hasanudin, Kelurahan Poris Jaya, Batu Ceper, Kota Tangerang itu memakan hampir setengah badan jalan raya.

Keberadaan rumah tersebut kerap mengganggu lalu lintas kendaraan dari Poris menuju Daan Mogot dan sebaliknya. Tak ayal, kemacetan hingga kecelakaan pun kerap terjadi di lokasi itu.

1 dari 3 Halaman

Tak hanya itu, rumah yang sudah berdiri hampir 14 tahun itu juga kerap tertabrak kendaraan yang melintas. Pemilik rumah, Anwar, menceritakan bahwa rumah tersebut pernah tertabrak sangat parah hingga dinding jebol.

"Pernah mobil yang nabrak tuh sampai masuk rumah, dinding-dinding pada jebol. Rusak parah," ungkap laki-laki 52 tahun itu.

Tak dipungkiri, dirinya juga sering merasa khawatir dengan keadaan anak-anaknya. Pasalnya jalur tersebut merupakan jalan yang ramai. Saat membuka pintu, halaman depan rumah itu sudah masuk kawasan jalan Maulana Hasannudin.

2 dari 3 Halaman

Terkendala Sertifikat

Warga setempat mengungkapkan jika pada tahun 2012 lalu kawasan tersebut terjadi pelebaran jalan. Dan menurutnya karena terkendala ketiadaan sertifikat akhirnya rumah milik Anwar dibiarkan seperti itu.

"Saat pelebaran Jalan Hasanudin tahun 2012 lalu enggak kena pembebasan. Sampai sekarang masih dibiarkan karena sertifikatnya digadein," kata Dedi, penjual warteg di dekat lokasi, hari ini.

Senada dengan hal itu, Anwar pun membenarkan dan saat itu ia menuturkan jika sertifikat rumahnya hilang pada 2001.

Saat kedua orang tuanya membutuhkan tambahan biaya untuk berangkat haji, salah seorang oknum yang tidak bertanggung jawab membawa sertifikat miliknya untuk digadaikan di bank sebagai jaminan. Hingga kini ia tidak mengetahui keberadaan sertifikat tersebut.

"Kejadian itu pada tahun 2001, tapi oknum itu menggadaikan sertifikat rumah saya ke bank,? ujarnya.

3 dari 3 Halaman

Akan Dibongkar

Kabar terakhir yang diperoleh jika rumah tersebut rencananya akan dibongkar dalam waktu dekat.

Taufik Syahzeni, selaku kepala PUPR Kota Tangerang juga membenarkan bahwa rumah tersebut sudah masuk agenda untuk dibebaskan.

Namun mengingat dokumen tidak lengkap (tidak ada sertifikat), akhirnya rumah tersebut kembali ditunda untuk dibongkar.

Pihak PUPR sendiri masih mengkaji terkait upaya pembongkaran tersebut, agar bisa segera dioptimalkan sebagai fungsi kawasan lalu lintas.

BERI KOMENTAR