HOME » BERITA » KISAH PENGGALI KUBURAN JENAZAH PASIEN COVID-19 DI TENGAH PROSES PEMAKAMAN YANG SUNYI

Kisah Penggali Kuburan Jenazah Pasien COVID-19 di Tengah Proses Pemakaman yang Sunyi

Banyak cerita dari berbagai kalangan soal virus Corona (COVID-19), termasuk dari seorang garda terdepan yakni penggali kubur untuk pemakaman jenazah pasien COVID-19.

Kamis, 30 April 2020 09:00 Editor : Dini Arining Tyas
Kisah Penggali Kuburan Jenazah Pasien COVID-19 di Tengah Proses Pemakaman yang Sunyi
Pemakaman jenazah pasien COVID-19 di Tegal Alur (Liputan6.com)

OTOSIA.COM - Tak hanya bagi para pasien virus Corona (COVID-19), kisah mengharukan juga dialami para garda terdepan COVID-19. Seperti tenaga medis, relawan kemanusiaan, hingga penggali kubur untuk jenazah pasien COVID-19.

Itulah yang dialami oleh Subhan, yang sehari-hari bekerja sebagai penggali kubur di Kota Pekanbaru, Riau. Dilansir dari Merdeka.com, semenjak COVID-19 mulai merebak di Riau, dia ditunjuk sebagai koordinator penggali kuburan di TPU Tengku Mahmud Palas.

Jalan Terjal

Subhan pun membagikan kisahnya sejak awal memakamkan jenazah pasien COVID-19. Pemakaman tempat Subhan bekerja terletak di pinggiran Kota Pekanbaru. Pemakaman tersebut dikelilingi kebun kelapa sawit dan letaknya jauh dari pemukiman penduduk.

Lahan seluas 10 hektare tersebut separuhnya dipakai sebagai tempat pemindahan makam dari pusat kota lainnya. Sedangkan sisanya ditanami singkong dan pisang oleh warga sekitar.

Sejak awal bulan April 2020, Pemerintah Kota menyiapkan area seluas dua hektare di bagian ujung TPU Tengku Mahmud Palas untuk memakamkan pasien yang terinfeksi atau diduga terinfeksi virus Corona.

Tidak seperti pemakaman lama yang jalannya sudah beraspal, jalan menuju pemakaman yang baru masih jalan tanah yang susah dilalui kendaraan saat hujan turun.

1 dari 8 Halaman

Semua Serba Mendadak

Subhan mengatakan awal mula memakamkan jenazah dengan keharusan menerapkan protokol COVID-19, semuanya serba mendadak. Dia dan teman-temannya tidak memiliki kesiapan untuk mempersiapkan segala yang dibutuhkan.

"Semuanya serba mendadak. Tanggal 9 April saya dihubungi di kantor untuk siapkan lahan untuk pemakaman khusus Corona. Waktu itu malam Jumat, jenazah pertama dimakamkan, belum ada persiapan sama sekali," kata Subhan, dilansir dari Antara.

Para penggali kubur tidak punya banyak wkatu untuk menyiapkan lahan pemakaman. Sehingga, bekas tanaman singkong masih berserakan di sana sampai sekarang.

2 dari 8 Halaman

Harus Memakai Hazmat

Dalam menjalankan tugas menggali makam, Subhan dan rekannya harus selalu siaga dengan alat pelindung diri berupa setelan hazmat warna putih dan masker medis di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tengku Mahmud Palas, Kecamatan Rumbai.

 

3 dari 8 Halaman

Pernah Tidak Tidur Selama Dua Hari

Dia juga bercerita bahwa penggali kubur sekarang harus siaga 24 jam. Hal ini lantaran mereka bisa kapan saja menerima panggilan untuk mengurus pemakaman jenazah pasien COVID-19 atau pasien yang diduga terinfeksi COVID-19.

Bahkan dia pernah terpaksa terjaga selama dua hari karena ada jenazah yang harus dimakamkan pada dini hari.

"Saya menggali sendirian karena kawan-kawan lainnya saya telepon enggak ada yang bangun. Pakai pacul dan lampu motor untuk penerangan, saya gali lubang kuburan jam 03.00," ceritanya.

4 dari 8 Halaman

Tak Ada Keluarga yang Mengantar

Pasien atau yang diduga positif Corona, sesuai protokol kesehatan harus dimakamkan dalam waktu maksimal 4 jam setelah jenazah keluar dari rumah sakit guna meminimalkan risiko penularan virus corona. Pemakaman jenazah dilangsungkan tanpa persiapan dari pihak keluarga, sehingga semua makam baru tidak ada nisannya.

Subhan ikut merasa sangat sedih karena pemakaman jenazah juga tidak seperti lainnya. Tidak ada keluarga yang berada di liang lahat. Smeua anggota keluarga mengantarkan jenazah dengan doa dari kejauhan. Pemakaman jenazah COVID-19 sangat sunyi, tandasnya.

5 dari 8 Halaman

Menandai Makam dengan Sukarela

Tidak adanya nisan yang dipersiapkan untuk para jenazah COVID-19 yang dimakamkan, membuat Subhan dan teman-temannya secara sukarela menandai setiap makam baru agar ahli waris dan pelayat tidak kebingungan mencari makam anggota keluarga atau kerabat mereka.

6 dari 8 Halaman

Sudah Ada Puluhan Makam Baru di TPU Tengku Mahmud Palas

Kini sudah ada beberapa puluh makam baru di TPU Tengku Mahmud Palas. Semuanya merupakan makam pasien dalam pengawasan (PDP) COVID-19 yang meninggal dunia di Pekanbaru. 

Sejak 9 April hingga 28 April sudah ada 44 makam baru di sana, yang artinya dalam sehari Subhan dan kawan-kawannya rata-rata harus menggali dua sampai tiga liang lahat.

7 dari 8 Halaman

Tujuh Liang Lahat dalam Sehari

Setiap hari para penggali kubur harus menyiapkan hingga tujuh liang lahat untuk berjaga-jaga. Mengingat kasus infeksi virus corona diperkirakan masih akan mengalami peningkatan.

"Pernah dalam satu hari tujuh jenazah dimakamkan. Itu kita kerja sampai subuh," kata Subhan yang baru kali ini menyaksikan wabah begitu cepat merenggut nyawa orang.

8 dari 8 Halaman

Hanya Bisa Pasrah

Selama menjalankan tugas untuk menggali makam dan menguburkan jenazah COVID-19, Subhan mengakui ada kengerian dan rasa takut sejak pertama kali menangani pemakaman pasien COVID-19. Namun rasa ngeri itu menghilang bersama peningkatan ritme kegiatan pemakaman.

"Perasaan ngeri ada, tapi namanya juga sudah wabah. Saya mau lari juga mau kemana, karena tugasnya memang gali kuburan," kata Subhan lalu tersenyum.

BERI KOMENTAR