HOME » BERITA » KISAH WARUNG GAIB DI KILOMETER 15 JALUR ALAS ROBAN YANG ANGKER

Kisah Warung Gaib di Kilometer 15 Jalur Alas Roban yang Angker

Beberapa jalanan di Indonesia memang masih dikelilingi hutan. Bahkan sekalipun jalan raya itu adalah jalan utama penghubung satu kota dengan kota lain, seperti jalur Alas Roban yang terkenal angker.

Selasa, 25 Juni 2019 17:45 Editor : Dini Arining Tyas
Kisah Warung Gaib di Kilometer 15 Jalur Alas Roban yang Angker
Jalan di kawasan Alas Roban (mbatang.com)

OTOSIA.COM - Beberapa jalanan di Indonesia memang masih dikelilingi hutan. Bahkan sekalipun jalan raya itu adalah jalan utama penghubung satu kota dengan kota lain.

Sebut saja sepanjang jalur pantura yang terkenal dengan keangkerannya. Lalu, jalur hutan Blora yang baru-baru ini juga kembali ramai jadi perbincangan di media sosial karena tak kalah angker.

Kini, yang kembali ramai diperbincangkan adalah jalur Alas Roban. Jalur ini tak asing lagi bagi para pengendara lintas pulau Jawa.

1 dari 5 Halaman

Tempat Pembuangan Mayat

Kisah Warung Gaib di Kilometer 15 Jalur Alas Roban yang AngkerTempat Pembuangan Mayat

Alas Roban sendiri dulunya adalah kawasan hutan Jati yang dikenal sebagai tempat pembuangan mayat korban penembakan misterius (Petrus), tahun 1980-an. 

Dari latar belakang tersebut, maka tak heran jika jalur Alas Roban ini cukup menguji nyali siapapun yang melewatinya. Aapalagi ditambah dengan cerita tentang tindak kejahatan yang kerap terjadi di Alas Roban.  

Selain itu jalan yang berkelok-kelok di jalur Alas Roban menambah kesan menantang bagi siapapun yang  melintas. Kabar kecelakaan tragis di jalur Alas Roban, Batang, Jawa Tengah itupun kerap terdengar.  Beberapa mengaitkan kecelakaan yang terjadi dengan hal-hal gaib yang ada di jalur tersebut. 

2 dari 5 Halaman

Tak Ada Kendaraan Lain

Kisah Warung Gaib di Kilometer 15 Jalur Alas Roban yang AngkerTak Ada Kendaraan Lain

Pemilik akun Twitter @bukanhazard, membagikan pengalaman mistis jalur Alas Roban. Kisah yang dia bagikan itu dialami sekitar tahun 2001-2005 oleh sebuah keluarga yang tinggal di Secang. 

Kala itu, satu keluarga ini berencana hendak mudik ke Jakarta melalui jalur Alas Roban. Mereka berangkat sore, supaya perjalanan lebih santai dan tak bertemu dengan lalu lintas yang ramai. 

Mereka berangkat sekitar pukul 16.00 WIB. Keluarga itu tak merasakan firasat apapun saat memulai perjalanan. Sekitar pukul 21.30 WIB, mereka mulai memasuki area Alas Roban. 

Jalanan berliku mulai terasa. Begitu juga dengan suasana mencekam yang turut terasa, Si Bapak yang mengendalikan laju mobil pun mengurangi kecepatan mobil karena kondisi jalan yang semakin gelap, berkelok, dan penuh tanjakan. 

Sisi kanan dan kiri jalan adalah jurang. Sebenarnya, rasa ganjil mulai hinggap sejak pertama masuk ke jalur ini. Mereka merasa tak berpapasan dengan kendaraan lain, artinya hanya ada mobil mereka yang sedang melintas di jalur tersebut. Padahal jalur tersebut adalah rute yang harusnya ramai kendaraan menuju Kota Tegal. 

3 dari 5 Halaman

Mobil Menabrak

Kisah Warung Gaib di Kilometer 15 Jalur Alas Roban yang AngkerMobil Menabrak

Tapi tiba-tiba di tengah perjalanan, mobil yang mereka tumpangi menabrak sesuatu. Si Bapak dan kakak turun untuk melihat kondisi, tak lupa membawa senter. Sedangkan si Ibu dan kedua adik tetap di dalam mobil. 

Anehnya, tak ada apapun yang ditabrak. Bekas berupa lecet ataupun lumpur yang menempel pun tak terlihat di sepanjang bodi mobil. Pemeriksaan kondisi mobil itu pun dilakukan berulang kali. Tapi hasilnya masih sama. 

Heran pasti, tapi perjalanan lantas dilanjutkan. Sekitar tengah malam, hujan mulai turun. Meski rintik-rintik tapi cukup mengganggu pandangan pengendara. Maka, si Bapak terus membunyikan klakson setiap akan memasuki tikungan tajam. 

Tak lama, dari kejauhan terlihat ada cahaya neon. Merasa bersyukut, karena merasa sudah melihat pemukiman. Tapi rupanya itu hanya sebuah warung makan pecele lele kecil yang berada di sudut tikungan di bawah pohon. 

4 dari 5 Halaman

Warung Pecel Lele

Kisah Warung Gaib di Kilometer 15 Jalur Alas Roban yang AngkerWarung Pecel Lele

Keluarga itu memutuskan singgah sebentar. Di pasak penanda jalan yang tak sengaja menyandung kaki si Kakak, tertera keterangan Kilometer 15. 

Kok jam segini masih buka, pak? Bapak jualannya sendirian? si kakak iseng bertanya saat memesan makanan dan minuman panas. 

Iya mas, ini sudah mau tutup kok, eh masnya dateng, saya jualan sama istri saya. itu istri saya, mas, jawab si pedagang. 

Keberadaan istri yang ditunjuk itu mengherankan si bapak dan kakak. Pasalnya, si istri itu berdiri di pintu, sedangkan saat mereka masuk tak ada yang menyadari keberadaan si istri. Tapi hal itu tak terlalu dipikirkan. 

Setelah kenyang menyantap makanan yang rasanya cocok di lidah mereka, keluarga itu melanjutkan perjalanan lagi. Tapi saat masuk mobil, untuk kedua kalinya si kakak tersandung pasak penanda Kilometer 15. 

Kondisi area Alas Roban masih hujan rintik-rintik tapi tak menghalangi mereka melanjutkan perjalanan. Kali ini lancar, karena tak lama mereka keluar dari jalur Alas Roban dan menuju Tegal.

5 dari 5 Halaman

Kilometer 15

Kisah Warung Gaib di Kilometer 15 Jalur Alas Roban yang AngkerKilometer 15

Tapi perjalanan yang \'lancar\' itu terjawab saat keluarga tersebut kembali ke rumah mereka melalui jalur yang sama. Kali ini, mereka memilih berangkat dari Jakarta pagi hari. 

Siang hari sekitar pukul 13.00 WIB mobil keluarga tersebut memasuki jalur Alas Roban. Rasa lezat warung pecel lele itu belum terlupakan, hingga mereka ingin singgah kembali. Tapi sayangya warung tersebut buka sore menjelang malam.

Si adik pun ingin buang air kecil. Karena jalur tersebut adalah hutan, maka si bapak menepikan mobil dan menyuruh adik buang air kecil mepet mobil. 

Sembari menunggu adik menyelesaikan hajatnya, menikmati pemandangan Alas Roban adalah pilihan. Tak sengaja, kakak melihat pasak penanda kilometer 15. Iya, pasak itu adalah pasak yang sama yang saat perjalanan menuju Jakarta membautnya tersandung.  

Sudah pasti kaget. Posisi pasak itu rupanya persis di tepi jurang. Mereka masih ingat posisi warung pecel lele yang mereka singgahi itu berada sekira tiga meter di belakang pasak. 

Merasa aneh, kakak memanggil ibu dan bapak, lalu menunjukkan pasak dan lokasi warung. Setelah diamati, tikungan tempat mereka berhenti siang itu adalah tempat yang sama dengan malam mereka makan ayam goreng di warung pecel lele. 

Begitu pula dengan pohon besar di tepi dalan, dan tentu pasak bertuliskan kilometer 15. Satu meter di belakang pasak itu adalah jurang yang sangat dalam. 

Hal itu membuat mereka sadar bahwa saat malam itu, mereka makan di pinggir jalan tepat melayang di atas jurang. Tak ada hal yang bisa menjelaskan apa yang keluarga tersebut alami, selain pemikiran mereka bahwa warung pecel lele itu adalah warung gaib. 

 

BERI KOMENTAR