HOME » BERITA » KONDISI POLITIK INDONESIA PANAS, APA KABAR INDUSTRI OTOMOTIF?

Kondisi Politik Indonesia Panas, Apa Kabar Industri Otomotif?

Belakangan di Indonesia isu politik sedang panas-panasnya. Beberapa sektor bisa saja terpengaruh dengan kondisi politik Tanah Air saat ini.

Jum'at, 31 Mei 2019 08:15 Editor : Dini Arining Tyas
Kondisi Politik Indonesia Panas, Apa Kabar Industri Otomotif?
Pabrik Toyota (Liputan6.com)

OTOSIA.COM - Belakangan di Indonesia isu politik sedang panas-panasnya. Beberapa sektor bisa saja terpengaruh dengan kondisi politik Tanah Air saat ini.

Tapi beruntungnya, panasnya kondisi politik tak terlalu berefek untuk sektor otomotif. Hal itu disampaikan oleh Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Warih Andang Tjahjono.

"Kita selalu bicara, suasana seperti ini kan toh cuma 1-2 hari, sektoral atau tidak terlalu national weight, kalau bicara long-term kan kita bicara potensi market Indonesia seperti apa," ujarnya saat ditemui di Jakarta, belum lama ini, seperti dikutip dari Liputan6.com.

Dirinya mengaku lebih memikirkan kebijakan pemerintah nantinya akan seperti apa.

"Jadi lebih baik memikirkan ke depan potensi market Indonesia seperti apa. Kegiatan seperti ini (demo) kan di seluruh dunia ada. Asal bisa dipastikan bahwa kegiatan ini adalah demoktasi yang lumrah, ya biasa saja. Kami yakin Indonesia itu salah satu Asian Home Country selain Cina.

1 dari 1 Halaman

Efek Jangka Panjang

Kondisi Politik Indonesia Panas, Apa Kabar Industri Otomotif?Efek Jangka Panjang

Menurut Warih, sinyal penting yang harus ditunjukkan adalah bagaimana pemerintah dan dunia usaha terus berkembang untuk jadi terus kompetitif.  

"Sebab ini dampaknya tidak hanya untuk domestik tapi ekspor market. Saat ini, on the way kebijakan kita makin kompetitif. Kan semua negara kepengin jadi negara industri. Jadi kita harus memastikan bahwa kegiatan kita itu beyond others country, mulai dari regulasi, dan sebagainya," jelasnya. 

Lebih lanjut, dampak politik saat ini tidak disikapi untuk beberapa waktu ke depan melainkan jauh ke beberapa waktu mendatang.

"Kalau saya melihatnya bukan 1-3 bulan ke depan, tapi 2-3 tahun ke depan. Karena melihatnya adalah rasa percaya diri investor. Artinya melihat kondisi saat ini tidak berpengaruh? Yah tidak signifikan lah, khususnya pada jangka panjang. Karena yang penting itu adalah jangka panjanganya itu," tandasnya. 

Sumber: Liputan6.com

BERI KOMENTAR