HOME » BERITA » LARANGAN MUSIK-ROKOK SAAT NYETIR DITURUTI ASALKAN ATURAN JELAS

Larangan Musik-Rokok Saat Nyetir Dituruti Asalkan Aturan Jelas

Tanggapan yang bermacam-macam datang dari banyak pihak khususnya para pengendara kendaraan roda empat terkait larangan mendengarkan musik dan merokok.

Sabtu, 03 Maret 2018 14:15 Editor : Cornelius Candra
Ilustrasi : Nazar Ray

OTOSIA.COM - Tanggapan yang bermacam-macam datang dari banyak pihak khususnya para pengendara kendaraan roda empat terkait larangan mendengarkan musik dan merokok.

Kebanyakan menyayangkan andaikata aturan tersebut diterapkan apalagi dengan adanya sanksi-sanksi. Sebab, anggapan musik-rokok sebagai pemicu bahaya saat berkendara lebih kurang akan kembali lagi pada bagaimana perilaku si pengendara.

Penyebab bahaya saat berkendara pun sebenarnya bisa bermacam-macam, seperti dikatakan oleh Lukman Hakim, Ketua klub mobil Toyota Agya Club.

"Banyak hal atau kegiatan yang bisa mengganggu konsentrasi dalam berkendara, selain merokok dan mendengarkan musik. Semua tergantung pada kondisi psikologis dan fisik dari pengendara," kata dia.

Merokok dalam mobil saat kondisi macet, menurut dia, sah-sah saja selama tidak membuang abu dan puntung rokok ke jalan.

"Maka sediakan asbak portable dalam mobil. Lain hal kalau merokok dalam kondisi kendaraan kecepatan tinggi, nah itu yang berbahaya, dan tetap tidak dianjurkan berkaitan dengan kesehatan," ujarnya.

Soal mendengarkan musik, berita di radio, hal ini menurut dia merupakan salah satu cara menghilangkan kejenuhan saat berkendara bahkan menghilangkan kantuk.

"Selama dalam batas volume yang wajar dan kita masih bisa mendengar suara peringatan di luar kabin, seperti klakson, sirene ambulance, bunyi peringatan perlintasan kereta, dan lain-lain (musik saat menyetir tak perlu
dilarang). Lagi pula mendengarkan musik kan one way, kegiatan pasif," tambahnya.

Intinya, kata dia, coba kaji kembali aturan yang dibuat, kalau memang aturan itu diperlukan. Bakukan aturan secara tegas dan tersurat supaya masyarkat tidak menduga-duga makna aturan yang ada, yang akhirnya jadi abu-abu.

"Buat saja langsung pasalnya 'dilarang merokok saat berkendara', 'dilarang mendengarkan musik saat berkendara' dan seterusnya.
Kami masyarakat pasti akan patuh, asal ada aturan yang jelas, ada pengawasan yang baik, ada sanksi yang adil," ujarnya.

(kpl/nz/crn)

BERI KOMENTAR