HOME » BERITA » 'LINGKARAN MALAIKAT' KIPRAH SUZUKI MEMAJUKAN EKONOMI INDONESIA

'Lingkaran Malaikat' Kiprah Suzuki Memajukan Ekonomi Indonesia

Berawal dari memproduksi mesin tenun, Suzuki kini bertransformasi menjadi raksasa otomotif dunia yang turut memajukan ekonomi Indonesia.

Jum'at, 10 September 2021 19:30 Editor : Nurrohman Sidiq
All New Suzuki Ertiga Sport (Otosia.com/Nazarudin Ray)

OTOSIA.COM - Berawal dari memproduksi mesin tenun di Kota Hamamatsu, Jepang tahun 1909, industri Suzuki terus berkembang dan memperluas bisnis ke sektor otomotif.

Kini Suzuki menjelma menjadi salah satu raksasa otomotif yang memasarkan produk-produknya ke penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Tahun 1970 silam, Suzuki memulai bisnis di Tanah Air dengan membawa dua model sepeda motor, yaitu A100 dan FR70. Model itu sangat populer pada zamannya karena desainnya yang unik, performa tangguh dan tampilannya yang keren.

Suzuki A100 (Instagram/@suzukiindonesiamotor)

Saat itu, bahkan A100 dijuluki 'Motor Pak Pos' karena banyak digunakan petugas Pos Indonesia untuk mengantar surat.

Tahun 1976, sang pick up legendaris Carry ST10 mengaspal ke Indonesia berbarengan dengan kendaraan penumpang bernama Fronte.

Dari awal itulah, nama Carry kemudian beradaptasi dengan lika-liku zaman menjadi pick up yang terus digemari oleh masyarakat Indonesia. Bahkan di tahun ini, New Carry tak terbendung sebagai mobil pick up terlaris semester I 2021dengan torehan wholesale (distribusi pabrik ke diler) Januari-Juni 24.375 unit.

Peran Suzuki Mendongkrak Ekonomi Nasional

Berlalu bersama waktu tak terasa 51 tahun Suzuki berinovasi di Indonesia dan menjadi salah satu penopang ekonomi nasional di sektor otomotif.

Otosia mengibaratkan peran Suzuki di sektor ekonomi sebagai 'lingkaran malaikat'. Sebab, sebuah brand kendaraan terdiri dari banyak komponen dan harus bersimbiosis saling menguntungkan dalam rantai market dan produksinya.

Sebagai contoh, Suzuki tentu membutuhkan human resources (sumber daya manusia) atau orang-orang sebagai ujung tombak proses produksi. Belum juga termasuk rantai pasok part mobil dan motor yang melibatkan banyak perusahaan.

Ini senada dengan pernyataan Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita yang menyebut industri otomotif merupakan salah satu sektor andalan atas kontribusi besarnya terhadap perekonomian nasional.

"Sektor ini telah menyumbangkan nilai investasi sebesar Rp99,16 triliun dengan total kapasitas produksi mencapai 2,35 juta unit per tahun dan menyerap tenaga kerja langsung sebanyak 38,39 ribu orang," ungkap Agus disitat dari laman Kemenperin, Jumat (19/2/2021).

Manufaktur Suzuki (Otosia.com/Tatan Rustandi)

Artinya, semakin tinggi penjualan mobil dan motor, maka industri ini akan tetap hidup dan menghidupi berbagai faktor ekonomi yang bernaung di bawahnya. Itulah yang juga menjadi alasan mengapa pemerintah Indonesia memberikan insentif PPnBM (pajak penjualan atas barang mewah) yang berlaku sejak Maret lalu.

Bebin Djuana, pengamat otomotif yang sudah sangat lama bergelut dengan dunia otomotif dan pernah selama 20 tahun bekerja bersama Suzuki Indonesia, menggaris bawahi bahwa jelas semua lini bisnis dari penjualan dan produksi kendaraan saling berpengaruh satu sama lain.

"Ketika volume (penjualan) meroket pasti beriringan dengan uang yang terlibat. Ketika volume penjualan naik, siapa yang diuntungkan? Tidak mungkin pabriknya saja, sedangkan komponen industrinya banyak, mulai dari supplier, pabrik, hingga dealer," ujarnya.

Suzuki yang terkenal selalu memasarkan kendaraan dengan value for money tinggi mampu menunjukkan diri sebagai Agen Pemegang Merek (APM) tahan pukul dan lekas bangkit di tengah guncangan pasar akibat pandemi Corona (COVID-19), sekaligus berkontribusi mempertahankan sumbangsihnya di industri otomotif.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), pasar mobil Suzuki tumbuh 46,2 persen secara wholesales di semester I 2021.

Suzuki XL7 (Otosia.com/Nazarudin Ray)

Distribusi dari pabrik ke diler yang sempat menyusut hingga 28.786 unit tahun lalu akibat badai COVID-19, perlahan membaik menjadi 42.075 unit.

Prestasi tersebut membuat Suzuki selalu bertahan di 10 besar merek otomotif terlaris Indonesia. Bulan Juli lalu, Suzuki menempati posisi ke-5 dengan capaian wholesales 6.274 unit dan retail sales(distribusi dari diler ke konsumen) 6.508 unit.

Sedangkan di zona sepeda motor, data tahun lalu menyebut Suzuki masih bisa mendapatkan angka wholesales 28.310 unit dan retail sales 30.242 unit.

Selain produksi dan penjualan mobil-motor, Suzuki turut mengoptimalkan lini bisnis Suzuki Marine berupa motor tempel untuk perahu atau outboard motor (OBM).

Selama tahun 2020, Suzuki Marine 2-tak menyumbang kontribusi sebesar 72,8% dari total penjualan OBM atau tumbuh 5,4% dibandingkan tahun 2019. Sedangkan Marine 4-tak menyumbang penjualan sebesar 27,2%.

'Lingkaran Malaikat' Produksi dan Jualan Suzuki

Ada beberapa faktor yang saling terkait dan memengaruhi sehingga membentuk 'lingkaran malaikat' antara produksi dan jualan Suzuki. Semua faktor inilah yang turut berimbas pada ekonomi nasional.

1. Supply Chain

Supply Chain Management (lokad.com)

Bebin Djuana menyebut satu brand otomotif bisa saja memiliki 1.000 supplier dan tiap mobil bisa mengandung setidaknya ribuan komponen. Artinya, memang tidak ada monopoli dari satu supplier saja sehingga pengaruh industri otomotif sangat kuat.

Hal itu belum ditambah dengan kandungan lokal (local content). Semakin besar kandungan lokal sebuah brand, serapan produk lokal dalam produksi juga lebih besar.

"Akhir 2019 produk kita sudah hampir menyentuh 2 juta. Di mana kandungan lokal konten dari produk-produk kami hampir 85 persen. Memproduksi di Indonesia, pertimbangannya melihat komponen harga, yang pertama adalah biaya produksi, kedua kompetisi dan regulasi. Selain itu, yang paling penting kita menciptakan banyak lapangan kerja," ujar Direktur Marketing 4W PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), Donny Saputra dalam diskusi virtual bersama Forum Wartawan Otomotif Indonesia (Forwot), Rabu (30/9/2020).

Hal ini juga yang akhirnya membuat produk Suzuki seperti Ertiga dan XL7 lolos dalam program relaksasi PPnBM pemerintah Indonesia.

Selain itu, produksi dalam negeri pun pastinya punya pengaruh besar.

"Produk kendaraan bermotor produksi dalam negeri telah mampu menembus pasar ekspor ke lebih dari 80 negara di dunia. Pada periode tahun 2020, ekspor kendaraan completely build up (CBU) sebanyak 232,17 ribu unit atau senilai Rp41,73 triliun," papar Agus Gumiwang.

Suzuki pun terlibat sangat besar dalam produksi kendaraan dalam negeri. Mereka memiliki tiga pabrik yang berlokasi di Tambun I dengan luas 124.000 m2, Tambun II seluas 420.000 m2 dan Cikarang dengan luas terbesar mencapai 1.307.000 m2.

Selama berkiprah di Tanah Air mulai tahun 1970 hingga 2020, Suzuki berhasil menghasilkan 11,2 juta unit sepeda motor dan 2,7 juta unit mobil.

Produk-produk buatan dalam negeri milik Suzuki antara lain New Carry Pick Up, All New Ertiga, Suzuki XL7, Karimun Wagon R, GSX-R150, GSX-S150, GSX150 Bandit, Satria F150, Address dan NEX II.

2. Manpower

Ilustrasi manpower di pabrik Suzuki (Herdi/Liputan6.com)

Satu dari sekian faktor penting yang memengaruhi proses produksi tentu saja SDM (Sumber Daya Manusia).

Bebin lebih lanjut mengibaratkan SDM otomotif di dalam proses produksi sebagai 'tangan' karena Indonesia belum sepenuhnya memanfaatkan teknologi robotik. Artinya, manpower di sini punya peranan vital.

"Negara kita kan belum sepenuhnya memaki robotik. Jadi manpower fungsinya masih sangat besar. Saya tidak bisa bilang sebagai jantungnya produksi, tapi mungkin tangannya. Karena kan menilainya berdasarkan tugas mereka, bagian pengelasan kah, bagian pengecatan. Tapi juga perlu diketahui bahwa memang tidak semuanya bisa dilakukan mesin (harus dioperasikan oleh manusia)," ungkapnya.

Menurut data Company Profile Suzuki yang diterbitkan Maret 2020 lalu, perusahaan berlogo 'S' ini memiliki total karyawan sebanyak 6.692 orang. Jumlah tersebut terus meningkat dari tahun ke tahun sejak 2016 yang mencapai 6.005 orang.

Itu belum termasuk tenaga marketing mereka. Dari data dan periode yang sama, dituliskan bahwa Suzuki memiliki total tenaga penjual sebanyak 3.543 orang untuk roda empat serta 956 orang untuk motor.

Saat ini, Suzuki mencatatkan memiliki SDM sebanyak 5.871 karyawan yang memutar roda produksi di tiga pabrik mereka saja.

Hitungan di atas hanya sebatas Suzuki Indonesia. Sedangkan dirunut lagi dengan supplier-nya, sangat memungkinkan bila jumlah SDM yang dibutuhkan mencapai ratusan ribu orang.

"Itu bisa melibatkan sampai 100.000 orang. Tiap supplier itu kan juga punya downliner, sehingga pasti banyak juga yang terlibat di situ," ungkap Bebin.

3. PDB Nasional

Ilustrasi pajak kendaraan (mansionglobal.com)

Dalam siaran virtualIndonesia International Motor Show (IIMS) 2021, Menperin Agus menyebut, "Industri otomotif merupakan sektor andalan yang memiliki kontribusi besar terhadap ekonomi nasional."

Secara umum, Suzuki turut menjadi salah satu dari sekian manufaktur penyumbang catatan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional yang mencapai 20 persen tiap tahunnya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto mengatakan, industri pendukung otomotif secara umum menyumbang ke PDB sebesar Rp 700 triliun.

"Industri otomotif adalah industri yang padat karya, memiliki 1,5 juta orang pekerja langsung dan 4,5 tenaga kerja tidak langsung. Industri Pendukung Otomotif menyumbang Rp700 triliun pada PDB tahun 2019. Juga terdapat kurang lebih 7.451 pabrik yang menghasilkan produk input untuk industri otomotif. Karena itu kita perlu mempertahankan basis industri otomotif nasional," jelas Airlangga di Jakarta, Senin (01/03/2021).

4. Konsumen

Ilustrasi Booth Suzuki (Otosia.com/Nazarudin Ray)

Prioritas Suzuki untuk menghadirkan kendaraan dengan kualitas terbaik pada sisi fitur unggulan yang terdapat pada value for money product serta pelayanan aftersales benar bisa dirasakan oleh konsumennya.

Begitulah yang dirasakan Gumono, pedagang pakaian bekas asal Kabupaten Tulungagung yang pernah meminang tiga model Suzuki.

Suzuki Carry pick up adalah mobil pertama yang ia beli untuk mendukung mobilitas jualannya di pasar. Mobil yang ia beli terbilang cukup tua karena diproduksi tahun 1997.

Ia juga memiliki Suzuki Carry minibus dengan karoseri Adi Putro untuk mendukung aktivitas keluarga. Bahkan sepeda motornya pun Suzuki Smash SR CW.

Ditanya soal pilihan, Gumono menilai jika Suzuki punya daya tarik tersendiri terutama dari mesinnya yang bandel dan irit.

"Pertama pasti budget ya, beli mobil atau motor kalau enggak sesuai duit dan kebutuhan kan sayang. Tapi harus saya akui, kalau Suzuki ini bandel biar tua. Smash andalan saya kalau kemana-mana," ungkapnya.

Pun dari segi perawatan, spare part melimbah membuatnya enggak gampang panik. Sebab, menurutnya di Kabupaten Tulungagung banyak toko penyedia part Suzuki mulai dari yang kecil hingga besar.

"Kalau spare part gampang sih. Biar tua masih ada aja yang jual. Yang bisa benerin juga banyak kok," ujarnya lagi.

Baginya memiliki Suzuki seperti mesin cuan dan bisa mendukung ekonomi keluarga, karena kendaraannya gampang dikendarai untuk berbagai kebutuhan.

"Enaknya itu bisa ngedukung apa yang kita butuhin. Kalau mau kerja, bisa. Mau sama keluarga, bisa. Mau bareng keluarga dan kerja ya bisa. Sendiri juga enak!"

5. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB)

Industri otomotif juga kental dengan besarnya jumlah penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) yang merupakan bagian dari Pajak Daerah. Lebih lanjut, menurut Pasal 1 angka 12 dan 13 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 28 tahun 2009, PKB adalah pajak atas kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor.

Sebagai contoh, data Target dan Realisasi Pendapatan Daerah Tahun Anggaran 2021, yang diperbarui per 9 September 2021 dalam situs Jatengprov.go.id, mencatat PKB menyumbang realisasi pendapatan provinsi Jawa Tengah lebih dari Rp 3,1 triliun. Sedangkan targetnya mencapai Rp 5,1 triliun.

Nilai tersebut belum termasuk pajak lainnya seperti Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) yang terealisasi Rp 1,8 triliun dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) yang tembus Rp 1,1 trilun lebih.

Itu artinya, peningkatan jumlah produksi dan volume penjualan seperti pada Suzuki relevan dengan jumlah kepemilikan kendaraan yang meningkatkan penerimaan pajak.

6. Nilai Investasi

Ilustrasi pabrik Suzuki (Suzuki)

Dari data Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, investasi dari empat produsen otomotif Tanah Air mencapai Rp 97,3 triliun, dengan Suzuki menyumbang Rp 21 triliun.

Yang menarik, pasca melawat ke Jepang, Menperin memberikan kabar baik bahwa Suzuki akan menggelontorkan dana sebesar Rp 1,2 triliun untuk mengembangkan produk baru mereka di Tanah Air.

"Model-model tersebut untuk tujuan ekspor bagi pasar Asia dan Amerika Latin," jelas Agus, dalam keterangan resminya.

Pun Suzuki berencana melakukan ekspor ke 100 negara hingga tahun 2024. Tentu saja hal ini akan sangat membantu mendorong ekonomi Indonesia.

Pengembangan tersebut mencakup dua model terlarisnya yakni Suzuki Ertiga dan Suzuki XL7. Ia juga sempat menyebut bahwa Suzuki akan memperkenalkan jenis kendaraan mild hybrid dengan teknologi integrated starter generator (ISG).

7. Ekspor Suzuki

Ekspor Suzuki Ertiga (Liputan6.com)

Suzuki terbilang sebagai brand otomotif yang sukses melakukan ekspor dan menyumbang devisa besar bagi negara.

Kendati volume ekspor masih fluktuatif, data Gaikindo mendapati sepanjang Januari hingga Juli 2021, Suzuki telah berhasil mengekspor sebanyak 24.090 unit. Sedangkan rata-rata pengirimannya mencapai 3.400 unit per bulan.

Capaian tersebut menempatkan Suzuki dalam urutan empat terbanyak mengekspor kendaraan.

Bukan cuma kendaraan saja, kesuksesan Suzuki juga merambah ekspor spare part kendaraan yang terbilang cukup tinggi. Dalam periode Januari-Juli 2021, 104.386 komponen telah dikirim ke sejumlah negara di dunia.

Hingga saat ini, Suzuki sudah berhasil mengekspor lebih dari 600 ribu unit mobil dan 900 ribu unit sepeda motor.

"Selain menandakan bahwa pasar otomotif internasional mulai pulih, pencapaian ini juga menjadi bukti bahwa kualitas produk Suzuki Indonesia telah diakui dan diminati secara global," kata Apriyanto, Production Planning Control Assistant to Dept. Head PT Suzuki Indo Mobil disitat dari laman resmi Suzuki Indonesia beberapa waktu lalu.

Produk-produk Suzuki banyak dikirim ke 51 negara yang tersebar mulai dari Asia, Timur Tengah, Afrika, Amerika Selatan, Oseania dan Afrika.

Kendaraan yang diekspor dalam bentuk CBU meliputi New Carry Pick Up, All New Ertiga, Suzuki XL7, APV, GSX-R125, GSX-S125, GSX 150 Bandit, Satria F150, Address dan NEX II.

Sedangkan yang berstatus CKD antara lain Karimun Wagon R, New Carry Chasis, GSX-R150, GSX-S150, Shooter, Satria F150, Satria FJ110, Address dan NEX II.

Disinggung soal ekspor, Bebin dengan tegas menjawab bahwa ekspor seperti yang berhasil dilakukan Suzuki merupakan hal yang sangat penting. Bahkan menurutnya, sebuah brand otomotif masih punya PR (pekerjaan rumah) besar kalau belum bisa ekspor.

"Ekspor itu menyumbang besar banget untuk negara bentuknya devisa, itu besar sekali lho. Bahkan jangan bangga amat kalau penjualan di dalam negerinya bagus, tapi belum bisa ekspor," ungkapnya.

Lebih lanjut kepuasan besar ekspor bukan hanya soal uangnya, tapi juga bagaimana sebuah brand membuktikan bisa memenuhi berbagai permintaan pasar.

"Ekspor itu tantangannya besar, contohnya menyesuaikan regulasi di negara tujuan. Misalnya di negara tujuan menggunakan Euro4, emisinya harus sekian, standar keselamatan dan sebagaianya," imbuhnya.

Lebih dari yang lain, ekspor merupakan kebanggaan yang sangat berarti bagi putra-putri Indonesia yang terlibat dalam produksi.

"Kebanggan banget, oh itu produk yang dibuat oleh putra-putri Indonesia laku ke luar negeri", jelasnya lagi menegaskan.

8. Value for Money Mobil Bekas Suzuki

Ilustrasi Suzuki Carry (doc.otosia)

Dilirik dari sisi jualan mobil bekas, Suzuki juga menggiurkan. Salah satu yang paling diandalkan ialah pick up Carry. Value for money yang ditawarkan Suzuki ternyata bukan omong kosong.

Menurut Dwi Zain Musofa, pemilik showroom mobil bekas Vieby Motor yang beroperasi di daerah Kabupaten Malang, Jawa Timur, Carry sering jadi dagangan karena masih stabil di harga cukup tinggi dibanding merek lain.

Ia mengakui bahwa berjualan Carry sering membuahkan keuntungan. Terlebih menurutnya after sales Suzuki terbilang bagus, sehingga pelanggan tak ragu membelinya meski dalam kondisi bekas.

"Sejauh pengalaman saya, menjual mobil bekas Suzuki terutama mobil niaga selalu memberikan keuntungan. Mobil Suzuki yang terkenal bandel dan irit biaya servis, tak heran peminat mobil Suzuki di pasar mokas tergolong tinggi. Banyaknya dukungan bengkel yang bisa membantu perawatan mobil Suzuki juga jadi faktor mobil bekas Suzuki mudah dijual kembali," jelasnya.

Selama ia memasarkan mobil Suzuki, pelanggan banyak yang memilih tipe Futura.

"Untuk pasar niaga, saat ini Suzuki Futura dari buatan tahun 2010 ke atas hingga seri facelift terakhir masih jadi primadona. Setelahnya ada Suzuki Carry pick up menyusul di tempat kedua," imbuhnya.

Perihal label bandel dan irit seperti yang dilontarkan oleh Dwi dan Gumono, Bebin menjelaskan predikat itu bukan hal yang dicapai dalam waktu singkat. Diperlukan konsistensi, dedikasi dan bukan sekadar promosi untuk membuktikan bahwa Suzuki patut dicap seperti itu.

"Label bandel dan irit itu tidak cuma-cuma, itu hasil kerja, hasil penilaian masyarakat, selama ini Suzuki berkiprah. Bukan basa-basi dan bukan cuma hasil promosi," ungkap Bebin menyatakan pengalamannya selama puluhan tahun mengembangkan produk Suzuki.

(kpl/sdi)

BERI KOMENTAR