HOME » BERITA » MARAK ASURANSI DIGITAL KENDARAAN, WASPADA PENCURIAN DATA

Marak Asuransi Digital Kendaraan, Waspada Pencurian Data

Teknologi digital menawarkan beragam kemudahan yang dapat dimanfaatkan untuk asuransi mobil. Namun kemudahan digital mengundang kekhawatiran pencurian data.

Rabu, 24 Maret 2021 22:15 Editor : Nazarudin Ray
Marak Asuransi Digital Kendaraan, Waspada Pencurian Data
Ilustrasi asuransi digital (pocketnow.com)

OTOSIA.COM - Asia Tenggara saat ini merupakan salah satu kawasan dengan pertumbuhan ekonomi digital terbesar dan tercepat di dunia, dengan total transaksi daring yang diprediksi mencapai USD 10 miliar selama 2020.

Bahkan sebelum pandemi COVID-19, di Indonesia transformasi digital ini sudah mulai terasa di hampir segala aktivitas. Terlihat dari penggunaan masif online travel agent, online shopping, online transaction, sarana remote working, hiburan, dan sebagainya.

Bisnis digital juga menawarkan beragam kemudahan yang dapat dimanfaatkan baik oleh penjual maupun pembeli. Kemudahan digital ini dimanfaatkan oleh beragam jenis bisnis dan industri. Salah satunya adalah asuransi yang dapat memangkas proses-proses rumit dan mempercepat layanan.

1 dari 3 Halaman

Survei terbaru dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) juga menunjukkan pada kuartal kedua 2020, jumlah pengguna internet di Tanah Air mencapai 196,7 juta atau 73,7 persen dari total populasi. Fakta tersebut semakin menguatkan pendapat bahwa digitalisasi asuransi dapat menjadi inovasi menarik pada sektor ini.

Kini, beberapa jenis produk asuransi yang sudah marak ditawarkan secara digital, asuransi mobil misalnya. Masyarakat bisa dengan mudah mendapatkan berbagai produk asuransi berbasis digital ini melalui bermacam platform, seperti marketplace C2C (customer]-to-customer), B2 (business-to-customer), platform milik perusahaan asuransi ataupun platform digital lainnya yang dapat diakses menggunakan aplikasi mobile ataupun website.

Riset Swiss Re Institute mengungkapkan bahwa 76 persen masyarakat Indonesia tertarik membeli produk asuransi digital. Adapun, platform yang paling banyak dipilih untuk mendapatkan produk asuransi ini adalah e-commerce dan fintech.

2 dari 3 Halaman

Kendati demikian, kemudahan digital juga mengundang kekhawatiran akan keamanan, terutama dalam hal privasi data. Pada pertengahan 2020, 91 juta data pengguna terpantau diperjualbelikan melalui Dark Web seharga Rp 73,5 juta dimana informasi seperti nama, alamat dan kontak dapat dibaca dengan sangat mudah.

"Hal ini tentu dapat menjadi ancaman bagi pengguna, terutama untuk aktivitas online yang vital seperti bertransaksi, termasuk membeli asuransi jika tidak didukung oleh peraturan dan sistem yang menunjang." kata Chief Digital Officer, Allianz Life Indonesia, Mike Sutton.

3 dari 3 Halaman

Sebuah survei yang dilakukan oleh perusahaan keamanan siber, Kaspersky, pada pertengahan 2020 mengungkapkan bahwa 40 persen konsumen dari Asia Pasifik menghadapi insiden kebocoran data pribadi yang diakses oleh orang lain tanpa persetujuan.

Temuan tersebut kemudian didukung oleh data dari Badan Siber dan Sandi Negara yang juga mengungkapkan bahwa sepanjang Januari hingga Agustus 2020, terdapat hampir 190 juta upaya serangan siber di Indonesia. Ini meningkat lebih dari empat kali lipat dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

"Kami memahami bahwa keamanan siber masih menjadi sebuah tantangan besar. Terlebih sejak terjadinya pandemi COVID-19, di mana masyarakat dipaksa melek digital dan bergantung pada teknologi digital hingga berujung pada meningkatnya kejahatan siber," tukas Mike Sutton.

BERI KOMENTAR