HOME » BERITA » MASA INREYEN, BULAN MADU DENGAN MOTOR INI HANYA MITOS BELAKA?

Masa Inreyen, Bulan Madu dengan Motor ini Hanya Mitos Belaka?

Sabtu, 15 April 2017 10:15

Masa Inreyen, Bulan Madu dengan Motor ini Hanya Mitos Belaka?
Honda CB150 (Ilustrasi: Arsip Otosia)
Editor : Fajar Ardiansyah

Otosia.com -

Senangnya hati saat motor baru saja diterima dari dealer, dag dig dug ingin segera menungganginya jikalau STNK dan plat nomor sudah keluar kira-kira hingga 2 minggu setelahnya. Tak sabar juga ingin segera digeber jikalau motor yang dibeli adalah motor pria nan sporty atau motor trail yang gagah perkasa.

Namun, ternyata kesenangan tersebut harus ditahan lagi jika masih berada di masa-masa adaptasi, atau biasa disebut masa 'ngreyen'. Masa inreyen adalah masa yang cukup krusial. Tak terlalu jadi perhatian biasanya, bahkan secara teknis banyak beberapa sumber menganggap inreyen tak punya pengaruh besar pada motor.

Oh ya? Mungkin iya, mungkin tidak. Namun redaksi Otosia kemudian mengutip dari website official Honda Cengkareng untuk memberikan analisa bagaimana kira-kira pengaruh proses inreyen. Pada intinya, proses inreyen merupakan proses relatif untuk mengadaptasikan motor dan interface yang ada dengan manusia si pembelinya.

Seperti contoh, piston motor masih dalam kondisi baru saat diterima oleh konsumen. Nah, dalam masa inreyen motor harus dikendalikan dalam kondisi yang teratur. Terkadang di beberapa merk motor diberikan batas tiap 500 km supaya motor tak dikendarai lebih dari 60 km/jam. di 500 km selanjutnya bisa dikendarai 80 km/jam, dan sebagainya.

Proses yang demikian ini diyakini akan membuat piston motor lebih awet karena adaptasi yang dilakukan secara terintegrasi dengan bagian yang lain, termasuk di antaranya menyempurnakan proses pelumasan. Coba bayangkan jika motor langsung digeber dalam kecepatan tinggi sementara komponen-komponen masih baru, dan proses pelumasan ternyata belum sempurna maka komponen akan berpotensi mengalami kerusakan dini. Efeknya? Malah jangka panjang, bisa-bisa turun mesin lebih awal.

Selain adaptasi motornya, adaptasi juga dilakukan oleh pengendaranya supaya bisa lebih break-in dengan motornya. Secara reguler kemudian diganti olinya, diperiksa bannya dan penarikan gas yang teratur. Proses ini akan membuat pemilik motor bisa mengetahui seberapa jauh kedalaman gas motor, serta seberapa jauh limit dari motor untuk bisa diajak jalan.

Tak cuma di bagian mesin saja, ban motor juga harus diperhatikan dengan baik pada masa inreyen. Ban motor yang masih baru, biasanya masih sangat tebal. Hal ini akan membuat pengendara harus menyesuaikan kepadatan ban dengan permukaan dan grip dari motor supaya bisa dirasakan oleh tubuh.

 (kpl/fjr)






Daftarkan email Anda untuk berlangganan berita terbaru Kami

APA PENDAPAT ANDA ?

2017-4-19
detail

BERITA POPULER