HOME » BERITA » MAU JAJAL MOTOR RP 10 MILIAR MARQUEZ, SYARATNYA MAHIR SLALOM DULU

Mau Jajal Motor Rp 10 Miliar Marquez, Syaratnya Mahir Slalom Dulu

Para pemilik Honda CBR yang beruntung harus berhasil lulus ujian slalom sebelum menjajal motor Marc Marquez.

Senin, 10 Desember 2018 15:30 Editor : Cornelius Candra
Ujian slalom sebelum menjajal motor Marc Marquez (Otosia.com/ Nazar Ray)

OTOSIA.COM - Sebanyak 20 pemilik Honda CBR yang beruntung untuk turut dalam program MotoGP Riding Experience. Sebab, mereka punya kesempatan merasakan langsung performa dan raungan mesin Honda RC213V-S tunggangan Marc Marquez di Sirkuit Sentul.

Namun untuk bisa menunggangi sepeda motor yang berharga Rp 7 miliar ini, para pengguna Honda CBR harus melalui seleksi yang uniknya adalah berupa trek slalom di Safety Riding Center PT Wahana Makmur Sejati, Jatake, Tangerang, Sabtu (8/12).

"Kenapa pakai seleksi sistem slalom kok enggak di sirkuit. Ini (melihat) kendali emosi teman-teman. Karena teman-teman berada di bawah tekanan, saya harus cepat nih. Nah di situ akan kelihatan, mampu atau enggak kendalikan emosi. Kalau tidak bisa kendalikan di sirkuit bisa fatal," kata Hendrik Ferianto, Instruktur Safety Riding PT Astra Honda Motor (AHM)

Penilaian utama dalam seleksi melalui slalom adalah siapa yang paling cepat tetapi juga paling bersih. Dalam prosesnya, penilaian tersebut terbagi dalam faktor-faktor penting.

"Yang pertama, konsentrasi. Nanti teman-teman akan ketemu rute yang kelok-kelok. Saat naik RC213V-S, jika teman-teman telat belok, telat ambil racing line, itu motor enggak akan bisa belok," kata dia.

Yang kedua adalah teknik pengereman, lalu kontrol kecepatan, serta handling. Dalam hal ini, peserta mungkin saja merasa sering menggunakan CBR dan berpengalaman saat touring.

"Tapi kalau touring trek-nya lurus, belok. Kalau di slalom atau gymkhana ada tikungan patah, stop and go. Kalau di Suzuka itu sekarang sepi, mereka malas latihan di sirkuit, maunya gymkhana karena menantang otak dan fisik. Nanti kita akan lihat. Misalnya bilang sudah sering naik motor, dia belum tentu kencang," tambahnya.

Faktor ketiga adalah kelincahan, kemampuan bermanuver, teknik mengambil tikungan. Dengan demikian, seleksinya benar-benar mendasar.

"Nanti teman-teman akan coba jalan kaki, akan ada demonya. Di situ ada slalom, ada tikungan S, tikungan patah, dan seterusnya. Modalnya saya kasih poin 1.000. Yang paling cepat dan bersih pasti nomor satu. Kalau kena cone atau kena merah satu, rugi karena potongannya gede. 100, 100, 300," urainya.

Menarik kopling pun hanya dilakukan saat pindah gigi. Saat slalom, tidak boleh menarik kopling.

"Kalau lihat MotoGP, kopling itu hanya ditarik untuk pindah gigi. Main setengah kopling itu di MotoGP itu enggak ada. Jadi kecepatan di MotoGP itu ditahannya bukan pakai kopling, tetapi pakai rem," kata dia.

Waktu menikung pun siku tidak boleh tegang. Siku harus ditekuk supaya berfungsi sebagai suspensi sehingga saat bermanuver, lengan bisa berayun.

"Lalu kalau mesin mati kena potongan 100. Menyentuh cone, roda belakang terkunci juga tidak boleh. Ngepot enggak boleh, tetapi drift boleh. (Roda terkunci) berbahaya. Kita ngerem enggak boleh pakai rem belakang. Kalau mau rem kecepatan, pol pakai rem depan," ujarnya.

Dengan demikian, start pun tidak diperbolehkan dalam kondisi roda spin. Hal ini mungkin terjadi di sirkuit bagi peserta dengan Honda CB500. Sebab, moge tersebut menggunakan mesin dua silinder dengan putaran bawah besar.

"Sentul itu menurut saya termasuk sirkuit yang tidak layak. Ada bumpy, sudah banyak makan korban. Jadi kalau ragu, jangan dipaksakan," kata dia.

Adapun waktu tempuh yang diambil adalah yang paling bersih dan paling kencang. Jadi jika ada yang bersih dan kencang dalam waktu 1 menit, lalu ada yang lebih cepat 58 detik tetapi terkena pelanggaran menginjak garis yang tidak diperbolehkan, maka yang 1 menit akan menjadi acuan.

"Perbedaan waktunya adalah pengurangan tiga poin per 0,1 detik. Misalnya acuan 1 menit, lalu ada yang 1,3 detik berarti nilainya minus 30 poin. Kalau jatuh, langsung nol. Jadi jangan jatuh," kata dia.

Pelanggaran instruksi, misalnya tercatat paling kencang lalu selebrasi, hal tersebut juga dinilai sebagai pelanggaran. Dengan demikian, peserta yang sudah selesai diharap langsung kembali ke pit.

"Kalau jadinya berpikir, ya sudah saya jangan kencang-kencang deh. Jangan salah, waktunya cuma dua menit. Kalau dua menit belum keluar, nilainya nol. Saya sudah coba sirkuit ini, yang paling pelan itu cuma 1 menit," ujarnya menenangkan.

(kpl/nzr/crn)

BERI KOMENTAR