HOME » BERITA » MEMBAYANGKAN TAKSI ROBOT UBER JADI BISNIS BARU DI INDONESIA

Membayangkan Taksi Robot Uber Jadi Bisnis Baru di Indonesia

Bubarnya Uber di Asia Tenggara termasuk Indonesia salah satunya diindikasikan karena mereka menalangi biaya perjalanan pelanggannya hingga 59 persen, sementara perusahaan (dan investornya) membayar sisanya.

Rabu, 11 April 2018 07:00 Editor : Dini Arining Tyas
Foto by Uber

OTOSIA.COM - Bubarnya Uber di Asia Tenggara termasuk Indonesia salah satunya diindikasikan karena mereka menalangi biaya perjalanan pelanggannya hingga 59 persen, sementara perusahaan (dan investornya) membayar sisanya.

Satu penyebab lain menurut Tim Dunne, Director of Automotive Industry Analytics J.D. Power, adalah 65-75% dari pendapatan yang diperoleh dari perjalanan diarahkan ke pengemudi.

Melihat hal ini, Tim Dunne mendapati banyak pendapat yang fokus pada faktor pengemudi. Ide yang terhimpun lantas mengarah pada penerapan taksi robot atau mobil otonom (tanpa sopir) supaya bisnis taksi online ini bisa berjalan.

"Kendaraan otomatis terdengar seperti solusi yang menarik dalam menghadapi tantangan keuangan yang menjengkelkan bagi industri. Yang jadi pertanyaan, apakah skenario semacam ini sudah dipikirkan masak-masak?" kata Dunne.

Foto by Uber

Mobil robot punya sistem yang kompleks. Karena itu, Uber berarti harus memilikinya sendiri. Dari sini saja, kulturnya sudah berbeda dengan semangat ride sharing yang ada sebelumnya bahwa publik bisa berpartisipasi menitipkan mobilnya, lalu Uber mengelolanya.

Jika pun tetap mengajak publik untuk berpartisipasi dalam bisnis ini atau membuka sistem waralaba seperti sebelumnya, maka beban di atas menjadi beban baru buat mereka.

"Penggunaan kendaraan otomatis memang akan menghilangkan urusan membayar pengemudi, tetapi berpotensi menimbulkan banyak tantangan dan pertanyaan seputar logistik," kata Dunne.

Apakah perusahaan bersedia membeli, mendaftar dan mengasuransikan armada mobil robot? Apalagi jumlahnya tidak mungkin seratus dua ratus unit.

Belum lagi, dorongan pemanfaatan tenaga kerja dalam negeri pastilah sangat besar. Friksi bukan tidak mungkin terjadi.

"Apa pun hasilnya, terlihat jelas bahwa meniadakan peran driver dan bertransisi ke penggunaan kendaraan otomatis tidak akan terjadi tiba-tiba (butuh waktu lama)," kata Dunne.

(kpl/why/tys)

BERI KOMENTAR