HOME » BERITA » MENGENAL CHUKUDU, MOTOR NIAGA TANPA MESIN DI AFRIKA

Mengenal Chukudu, Motor Niaga Tanpa Mesin di Afrika

Di Afrika, ada motor tanpa mesin yang kerap digunakan untuk mengantar barang. Kendaraan itu disebut chukudu.

Rabu, 15 September 2021 09:15 Editor : Arendra Pranayaditya
Mengenal Chukudu, Motor Niaga Tanpa Mesin di Afrika
Chukudu (Lahminewski Lab, CC BY-SA 4.0)

OTOSIA.COM - Alat transportasi yang mumpuni dapat menunjang kelancaran bisnis dan perekonomian masyarakat. Tapi apa jadinya jika alat transportasi yang dibutuhkan dihadapkan pada situasi ekonomi yang sulit di sebuah negara?

Mau tidak mau masyarakat di negara miskin harus putar otak untuk mencari dan menciptakan alternatif angkutan yang murah dan mudah.

1 dari 7 Halaman

Kondisi ini mirip dengan yang terjadi di negara Kongo, Afrika Tengah. Menurut opportunity.org, Kongo merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk tertinggi dan termiskin di Afrika.

Tiga dari empat orang yang tinggal di negara itu mendapat gaji di bawah $1.90 atau Rp 27 ribu (dengan kurs $1 = Rp 14.261) tiap harinya.

Demi menekan pengeluaran uang, warga-warga di Kongo mengakali cara mendapatkan sarana transportasi untuk mendapatkan penghasilan lebih. Melansir situs designindaba.com, Senin (13/9/2021), banyak warga di sana memilih untuk menggunakan chukudu.

2 dari 7 Halaman

Membuat dan mengoperasikan chukudu

Ilustrasi pembuatan chukudu (Ley Uwera, GPJ DRC)

Chukudu merupakan "motor" tanpa mesin yang digunakan untuk mengantar jarak jauh beragam jenis barang. Bodinya dibuat dari kayu eucalyptus, sedangkan rodanya dibuat dari kayu mumba dan dibalut karet dari ban bekas.

Kendaraan roda ini dibuat dengan berbagai macam desain sesuai kebutuhan dan kegunaannya. Ada yang membuat lubang di bagian tengah bodi untuk membawa kayu bakar, atau menggunakan keranjang besar untuk membawa beragam barang.

3 dari 7 Halaman

Daya tampung chukudu cukup besar. Satu unitnya bisa mengendong barang dengan bobot 800 kg. Untuk ongkos pembuatan Chukudu, rata-rata masyarakat Kongo mengeluarkan uang $100 atau Rp 1.4 jutaan.

Cara penggunaan chukudu mirip seperti otoped atau skuter. Kendaraan roda dua itu didorong menggunakan kaki untuk melaju. Setelah skuter besar itu berjalan di kecepatan konstan atau menuruni bukit, pengendara bisa duduk, atau berdiri.

4 dari 7 Halaman

Punya chukudu di Kongo, pasti dapat uang

Tumaini Obedi membawa barang memakai chukudu (bbc.com)

Pengoperasian chukudu yang sangat sederhana dengan daya tampung yang besar memberikan peluang pendapat baru bagi masyarakat Kongo. Salah satunya adalah Tumaini Obedi. Dia adalah pengemudi chukudu yang tinggal di Goma, Kongo.

Menurut Obedi, keberadaan chukudu sangat penting bagi kehidupannya. Tanpa Chukudu, dia tidak dapat uang. Bahkan dia memastikan, dengan chukudu, orang di Kongo pasti bisa punya penghasilan.

"Sama seperti petani membutuhkan cangkulnya, saya membutuhkan chukudu. Kendaraan itu membantu hidup saya. Jika Anda memiliki chukudu, Anda akan mendapatkan uang," ungkap Obedi dalam video yang diunggah pada situs resmi bbc.com, 1 November 2017.

5 dari 7 Halaman

Dia menambahkan bahwa banyak orang membutuhkan jasa untuk mengantar barang. Setiap paginya dia pasti akan mendapatkan pelanggan yang membutuhkan pengiriman barang melalui "motor dorong" chukudu.

Pada video tersebut, terlihat Obedi sedang membawa barang berat. Mampu membawa beban banyak, pria Kongo ini tidak mempedulikan apa yang ia bawa, selama ia mendapat bayaran yang sesuai.

6 dari 7 Halaman

"Saya mempunyai pelanggan di sini yang menelpon di pagi hari dan meminta saya untuk membawa barang. Saya tidak memilih apa yang dibawa, saya akan membawa apa saja," jelasnya.

Dalam video tersebut, dijelaskan bahwa jasa pengemudi chukudu bisa mendapatkan hasil sebesar $10 atau Rp 140 ribuan pada hari jika banyak pesanan.

7 dari 7 Halaman

Bahaya chukudu

Ilustrasi menaiki chukudu (teunvoeten.com)

Meski kendaraan unik itu dibuat dengan bahan kayu yang kuat, tidak bisa dipungkiri bahwa sisi keselamatan chukudu sangatlah minim. Posisi berkendara yang tinggi, bodi ramping dan panjang, serta roda kayu dibalut karet dari ban bekas bukanlah kombinasi yang ideal untuk digunakan di jalanan umum.

Obedi sendiri mengetahui bahaya ini. Lantas ia tidak ingin anaknya mengikuti jejaknya. Sebab itu, jika kondisi perekonomiannya membaik, ia akan membeli sepeda motor, lalu beralih ke bus untuk bekerja.

"Saya tidak mau anak-anak saya menjadi pengemudi chukudu. Banyak orang yang jatuh (dari chukudu) dan meninggal. Jika saya memiliki uang lebih, saya hendak membeli motor dan berlanjut ke bus untuk terus bekerja," tutupnya.

BERI KOMENTAR