HOME » BERITA » MENYIBAK BUSI LASER NGK DAN PERNIK KEBIASAAN AJAIB DI DUNIA OTOMOTIF

Menyibak Busi Laser NGK dan Pernik Kebiasaan Ajaib di Dunia Otomotif

Selasa, 04 Desember 2018 10:15 Editor : Cornelius Candra
Busi NGK (Otosia.com/ Nazar Ray)

OTOSIA.COM - Dunia otomotif sudah mengultur selama ratusan tahun sejak kendaraan bermotor pertama dibuat, begitu juga dengan pernik kebiasaannya. Orang-orang bisa bicara mengenai kemajuan teknologi. Namun seiring hal itu, kultur-kultur ajaibnya tetap melekat dan sarat dengan kesalahkaprahan.

Ini termasuk pula ketika bicara mengenai bermacam komponen yang melingkupinya. Contohnya adalah busi.

Benda satu ini unik. Dia selalu ada dari generasi ke generasi seiring dengan perkembangan kendaraan bermotor. Produknya berkembang dengan desain dan teknologi yang makin beragam. Misalnya saja untuk merek busi yang sering disebut saat servis di bengkel, yakni NGK.

Brand yang sudah eksis sejak 1936 dan sudah menjadi produk OEM di banyak merek mobil-motor itu kini sudah punya empat jenis busi di Indonesia, termasuk tipe Laser dengan dua logam mulia. Busi dengan dua logam mulia? Ini dia menariknya. Nanti akan kita bahas.

Namun sebelum itu, lucunya, sekalipun sudah bicara kecanggihan layaknya busi NGK itu, kultur ajaib soal busi masih menggejala, bahkan hingga saat ini. Misalnya saja, istilah "ketok busi" dan "amplas busi".

Hal-hal ini tidak terlepas dari fungsi penting busi dalam proses pembakaran di dalam mesin. Namun secara bersamaan, ada-ada saja yang berpikir “kalau masih bisa diakal-akali kenapa tidak?” Ini terlihat sebagai pernik-pernik, urusan kecil. Padahal, di situlah kemudian kenapa persoalan busi bisa berbuntut panjang.

Busi rusak berujung masalah

Busi NGK (Otosia.com/ Nazar Ray)

Bagaimana peran busi di dalam mesin? Gambaran singkatnya, busi memberikan aliran listrik untuk membuat bunga api dan menciptakan pembakaran dari pertemuan oksigen dan bahan bakar. Diko Oktaviano, Technical Support PT NGK Busi Indonesia kemudian menjelaskan peran busi sebagai satu dari tiga faktor penting dalam pembakaran.

"Tiga komponen utama yang harus dijaga di ruang bakar, good air mixture, good spark, dan good air compression. Nomor satu dan tiga syaratnya ruang bakar harus sehat," kata Diko lalu menyebut poin spark atau peran percikan listrik busi sebagai satu faktor penting lainnya.

Bagaimana sebuah percikan dari busi bisa disebut sudah sesuai? Ada baiknya bagi kita untuk tahu mengenai anatomi dari busi dan perannya.

Jika melihat bagian ujung busi yang menunjukkan celah dua logam, maka di situlah percikan listrik berasal. Kedua bidang tersebut adalah elektroda pusat, dan ground yang berbentuk seperti topi di atasnya.

Manakala busi mendapatkan suplai listrik dari kabel delco yang berasal dari aki, maka kedua bagian logam tersebut akan bekerja sama sehingga di antaranya akan tercipta percikan listrik.

Dalam spesifikasinya, percikan itu akan pas saat jarak antara elektroda pusat dan ground sebesar lebih kurang 0,8 mm. Saat kemudian terpakai selama sekian puluh ribu kilometer, maka jarak itu akan berkurang karena logam elektroda pusat mengalami erosi. Jaraknya pun sudah berubah. Mungkin bisa 1,1 mm dan mungkin bisa lebih. Nah, di sinilah problem demi problem akan muncul jika didiamkan.

"Apa yang terjadi jika busi tidak diganti dalam waktu yang cukup lama. Busi itu bekerja dengan bantuan banyak komponen. Pada saat busi mengalami kerusakan, komponen yang paling terdekat (akan terkena imbas) adalah tutup busi, kemudian akan memaksa komponen lain untuk menghasilkan tegangan yang sama. Ujung-ujungnya adalah si baterai yang akan nge-drop," kata Diko.

Jangan tenang-tenang dulu. Sebab, itu baru satu rangkaian probem yang terjadi. Lebih jauh, Diko menggambarkan kalau efek celah lebar dari busi yang tidak seharusnya akan membuat kerja mesin tidak stabil, akselerasi turun, susah starter, dan sadar atau tidak motor atau mobil terasa minum bensin melulu.

"Masalah performa paling gampang terasa pada saat tanjakan. Dari jauh sudah sprint, eh pas tanjakan paling mentok 60 km/jam," kata Diko.

Efek terburuk adalah bahayanya mesin mati mendadak di tengah jalan. Jadi, kecil-kecil, kerusakan akibat mengabaikan busi ternyata cukup bikin garuk-garuk kepala.

Budaya ajaib yang salah kaprah

Busi NGK (Otosia.com/ Nazar Ray)

Pengetahuan soal celah elektroda busi dan efek berantainya itulah yang agaknya belum tentu dipahami oleh mereka yang membudayakan kesalahkaprahan soal busi.

Bukan cuma alpa menggantinya, tetapi juga kultur ketuk dan amplas busi yang sudah disebutkan tadi.

Soal amplas busi, memang, hal ini dilakukan karena inisiatif untuk menghilangkan kotoran kerak di elektroda busi akibat pemakaian saat pembakaran mesin. Namun amplas justru malah mengikis elektroda dan akibatnya celah itu makin menjadi.

Yang paling ajaib memang urusan ketuk busi. Hanya karena enggan membeli busi baru, busi diketuk dan dipecahkan bagian keramiknya agar permukaan elektroda di bodi busi makin terbuka. Padahal, ini artinya jumlah aliran listrik menjadi lebih besar.

Akibatnya, area tersebut jadi jauh lebih panas dari yang seharusnya. Kalau sudah begini, bukan cuma kerak yang timbul. Efek jangka panjangnya, pergerakan piston malah jadi tidak imbang karena posisi asal percikan listrik yang sudah meleset.

"Ya memang busi ini ditakdirkan untuk rusak, bukan untuk dipakai terus-menerus," ujarnya memberi pesan bagi para penganut aliran ketuk busi.

Busi logam mulia ganda bernama Laser

Busi NGK (Otosia.com/ Nazar Ray)

Lantas kapan busi sebaiknya diganti. Di sini menariknya. Sebab, hal itu terkait dengan empat jenis busi yang dipasarkan oleh NGK, terutama busi Laser.

Dalam uji praktiknya, pihak NGK menemukan bahwa dua kali ganti oli, berarti sama dengan waktu satu kali ganti busi untuk jenis kendaraan yang dipakai sehari-hari. Dengan perhitungan tersebut, maka busi perlu diganti tiap 6.000 km untuk sepeda motor, dan 20.000 km untuk mobil.

"Kenapa? Itu adalah titik pertama busi mengalami erosi atau pengurangan dimensi," ujar Diko terkait acuan jumlah kilometer tersebut.

Acuan itu bisa berbeda di tiap merek kendaraan karena bersifat spesifik. Dalam uji NGK sendiri, mereka memasang satu busi ke berbagai mesin. Hasilnya kemudian dirata-rata.

"Tapi kalau di ATPM, satu busi kami diuji di mesin yang spesifik. Jadi angka (masa penggantiannya) sesuai dengan yang dikeluarkan ATPM (buku manual)," tekannya.

Acuan jumlah kilometer itu ternyata bisa lebih jauh lagi ketika menggunakan busi NGK Laser. Ini adalah tipe tertinggi setelah tipe standar, G-Power, dan Iridium.

"Yang standar memakai bahan nikel, dan belum termasuk logam mulia. Sementara yang logam mulia adalah iridum atau platinum. Yang pakai logam mulia tunggal (masa) kerusakannya bisa mirip dengan yang standar, ataupun lebih lama dari yang standar," ujarnya.

Untuk yang Laser, busi menggunakan logam mulia ganda. Bahannya bisa berupa platinum-iridium di bagian elektroda pusat, dan platinum di elektroda ground. Untuk sepeda motor, kebanyakan busi Laser dipakai di motor-motor besar, seperti Harley, Ducati, dan bukan tipe reguler.

"(NGK Laser) cenderung dipakai di kendaraan roda empat, Mazda, Ford, atau kendaraan baru seperti Xpander, Grand Avanza, dan Innova terbaru. Jaraknya pemakaiannya 100.000 km," kata dia.

Seratus ribu kilometer artinya bisa sepuluh kali lipat lebih lama. Lumayan awet juga. Meski demikian, Diko mewanti-wanti bahwa yang terpenting adalah pemakai kendaraan juga memahami bahwa fisik busi perlu diperhatikan sebagai pertanda waktu penggantian.

Busi iridium dan platinum akan rusak di bagian ground mengingat logam-logam mulia itu cenderung tahan lama. Sementara NGK Laser mungkin rusak di bagian tengah bodi dengan tanda kehitaman atau retak-retak mikro.

Yang terpenting adalah semua sama-sama tahu. Teknologi sudah dibuat dan disediakan demi mempermudah para pengguna kendaraan bermotor. Jadi, jangan membiarkan diri terjebak untuk membudayakan kesalahkaprahan.

Reporter : Nazarrudin Ray

 (kpl/nzr/crn)

BERI KOMENTAR