HOME » BERITA » NAIK MOTOR JAKARTA-LONDON, STEPHEN LANGITAN MATANGKAN PERENCANAAN BIAYA

Naik Motor Jakarta-London, Stephen Langitan Matangkan Perencanaan Biaya

Jum'at, 24 Agustus 2018 08:45 Editor : Ahmad Muzaki
Foto: Istimewa

OTOSIA.COM - Punya cita-cita naik motor lintas negara? Silakan belajar sama Stephen Langitan yang melakukan solo riding naik Kawasaki Versys-X 250 dari Jakarta menuju London.

Total jarak tempuh 30.000 km melewati wilayah Asia dan Eropa membuat perhitungannya harus sedemikian matang. Salah satunya soal biaya-biaya yang jika dihitung akan bikin terperangah.

"Saya sederhana, hitung harga bensin, harga makan, sama penginapan. Kalau mau murah, nginap saja di tenda. Cuma masalahnya tidur di tenda itu sehat apa enggak soalnya kita sudah di motor tiap hari. Kita butuh sehat walafiat," ujarnya menyebut satu poin terkait penginapan.

Perjalanan sejauh ini pastinya membutuhnya banyak sekali penginapan. Maklum, Stephen sudah jalan sejak Maret lalu dan baru berakhir pada Agustus ini. Makanya ia sedia alat berkemah untuk menekan biaya.

"Alat camping, saya bawa. Cuma jaga-jaga. Kalau memang perlu camping, saya siap. Saya bawa tenda, kompor kecil spiritus segala macam. Motor itu sudah kayak rumah sendiri. Makanya kalau parkir saya sangat concern, harus save, dalam ruangan, dikunci, jangan sampai motor dicuri, kalau dicuri saya enggak bisa jalan lagi," ujarnya.

Hotel yang ia pilih pun harus semurah-murah mungkin. Biaya lainnya juga diperhitungkan karena berada di luar tiga poin yang dia sebutkan tadi.

"Harus diperhitungkan biaya visanya juga, kemudian kirim motor dari satu negara ke negara lain. Kita harus dapat data. Sebelum berangkat itu harus memperhitungkan semua. Biaya-biaya termasuk biaya tol di Eropa," ujarnya.

Bicara soal tol, dia justru tidak menyarankannya bagi para biker. Bukan cuma untuk menekan biaya, masuk tol juga merugikan karena tidak bisa menikmati pemandangan.

"Di Perancis saya tidak mau lewat tol. Kenapa? Di bawah tanah. Percuma, maunya ngebut, enggak nikmat, tidak menikmati pemandangan. Tidak boleh berhenti sembarangan. Bahu jalan di Eropa tidak boleh untuk motor berhenti. Itu harus dalam kondisi darurat. Kalau sudah darurat, itu kita mesti pakai rompi khusus, dan mesti ke rumput. Itu syaratnya," kata dia.

Jarak tempuh ratusan kilometer mesti dilalui dan mudah meleset dari perhitungan. Soalnya, semua bervariasi tergantung kondisi di lapangan. Di sisi lain, dia menikmati rasanya solo riding.

"Enaknya perjalanan ini itu apa-apa sendiri. Mau berhenti sendiri, mau makan sendiri, enggak perlu nunggu-nunggu orang. Mau makan, lihat rest area, berhenti. Aduh ngantuk, cari rest area, cari pohon, tidur," kata dia lalu bilang bahwa perjalanan per hari rata-rata 350 km, meski pernah juga 600 km karena harus memenuhi janji dengan dubes di KBRI suatu negara.

Biaya lain yang tidak kalah penting adalah ketika harus dikawal. Meski niatnya solo riding, mau enggak mau adakalanya dia harus group riding. Misalnya di Myanmar.

Di situ, setiap tamu harus dikawal. Jika dikawal sendirian, maka bayarannya akan mahal. Siasatnya adalah memanfaatkan forum yang disebut 'Horizon Unlimited'. Di sana ada sub-forum "rider mencari rider".

"Ternyata ada judul yang namanya Myanmar. Di situ terbagi lagi ada yang bulan Januari, Maret, jadi tinggal kita pilih saja. Di situ kita bilang saya mau gabung, mau ajak... Waktu itu saya dapat empat orang, dan bayar 800 dolar satu orang. Nah, itu empat orang, bagaimana kalau sendirian saja. Akhirnya kita janjian lewat email, lewat Whatsapp," kata dia.

Reporter : Nazarudin Ray

(kpl/nzr/ahm)

BERI KOMENTAR