HOME » BERITA » NASIB PARA SOPIR ANGKOT TAK SEMANIS DRIVER OJOL DITENGAH PANDEMI COVID-19

Nasib Para Sopir Angkot Tak Semanis Driver Ojol Ditengah Pandemi COVID-19

Para sopir angkot dinilai tak semujur driver ojek online yang lebih dulu mendapatkan bantuan.

Jum'at, 17 April 2020 08:15 Editor : Dini Arining Tyas
Nasib Para Sopir Angkot Tak Semanis Driver Ojol Ditengah Pandemi COVID-19
Para sopir angkot yang menunggu penumpang (merdeka.com)

OTOSIA.COM - Sektor perekonomian kacau diterjang pandemi virus Corona (COVID-19). Banyak orang yang kehilang pekerjaan dan pendapatan. Seperti para sopir angkot yang mengalami penurunan pendapatan secara drastis.

Dampak itu juga dirasakan oleh kondektur dan mekanik mesin mobil angkutan umum. Melansir Merdeka.com, sayangnya para sopir angkot itu mengaku belum mendapatkan bantuan dari pemerintah, layaknya ojek online atau ojek pangkalan.

Selain itu, para sopir taksi, travel, bus AKDP, AKAP, dan Pariwisata juga mengalami nasib yang sama. Sebelum ada COVID-19, pendapatan mereka tak maksimal.

Kondisi itu semakin parah usai COVID-19 mulai ada di Indonesia dan membuat adanya aturan-aturan baru seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kendati demikian, para sopir sejatinya bisa memaklumi bahwa aturan tersebut demi menghentikan sebaran virus.

1 dari 2 Halaman

Ketua Pertimbangan DPD Organda Jawa Barat, Aldo Fantinus menyinggung mengenai bantuan atua pemberdayaan para sopir tidak seperti pemerintah melihat ojek onlina atau pangkalan. Pernyataan itu merujuk pada pemberdayaan ojek online dan pangkalan yang diajak kerja sama untuk menyalurkan bantuan sosial kepada warga miskin.

Untuk biaya pengiriman lewat ojek tersebut, Pemda Provinsi Jabar akan mengucurkan anggaran Rp281,795 miliar. rencananya, distribusi dilakukan pada tanggal 15 atau 16 April, fokus wilayah Bodebek yang memberlakukan PSBB.

Belum lagi dari pemerintah pusat, salah satunya Pertamina yang memberikan harga bensin hingga 50 persen kepada ojek online.

"Sekarang seperti program Pertamina di mana Ojol bisa dapat 50 persen harga bensin. Ini sangat memalukan karena pemberi kebijakan tidak mengerti bahwa di transportasi itu tidak hanya ada Ojol," ujar Aldo saat dihubungi, Kamis (16/4/2020).

"Sopir (mobil angkutan umum) hampir semua tidak bekerja. Pemerintah menjanjikan BLT (bantuan langsung tunai) untuk mereka tapi sampai sekarang belum ada realisasi," ia melanjutkan.

2 dari 2 Halaman

Menurutnya, ada 400 angkutan kendaraan umum yang terdata di Organda. Dari angka itu, pekerja yang terdampak bisa mencapai 1.200 orang.

Melihat realita itu, Organda tidak bermaksud membandingkan perlakuan pemerintah antara ojek maupun sopir angkutan umum. Namun ia meminta Pemerintah Provinsi Jawa Barat bisa membuat program bantuan secara menyeluruh.

Pemerintah pusat dan daerah jangan hanya sekedar mengumbar janji manis di media. Semuanya harus direalisasikan. "Sekarang itu supir, kondektur, kenek ini dalam keadaan kesulitan. Dan itu sudah lama," kata dia.

Sejauh ini, berdasarkan informasi yang diterimanya, bantuan untuk pekerja di sektor angkutan umum baru datang dari Polda Jabar bagian Ditlantas. Sedangkan dari Dinas Perhubungan Pemprov Jabar atau masing-masing kabupaten atau kota masih belum ada kejelasan.

Meski belum datang bantuan apapun dari pemerintah daerah, Aldo berharap Gubernur Jabar Ridwan Kamil bisa memerhatikan para pekerja di sektor Organda.

BERI KOMENTAR